
Good luck!
Satu chat WA yang dikirim dari nomornya Raksa.
"Dibajak Nova nih kayaknya! nggak mungkin nih orang kasih semangat gue," ucap Kalin saat berada di meja makan.
Pagi ini sebelum subuh, Kalin udah bangun. Sekarang dia lagi sarapan padahal masih jam 6 pagi. Tapi Kalin udah siap dengan seeagam sekolahnya. Sengaja dia bangun lebih pagi, biar nggak telat masuk sekolah.
Ya, thanks!
Hanya dua kata balasan sari bocah SMA yang lagi memperjuangkan nasibnya selama beberapa hari ke depan. Ada senyuman kecil yang mulai terbit di wajahnya yang cantik dengan wajah cantik dengan bedak tipis.
"Sarapan dulu, Sayang!" tegur bunda Lia.
"Iya, Bun..." Kalin sakuin lagi hapenya.
"Jangan terlalu stress ya, pokoknya bismillah aja. Nggak usah terlalu kejam sama diri sendiri, ayah sama bunda akan bangga apapun hasil yang kamu dapatkan," ucap bunda yang khawatir, Kalin terlalu memeras otaknya sampai lupa istirahat hanya untuk menjadi yang nomor satu.
"Iya, ayah juga! pokoknya ayah akan selalu bangga pada anak ayah," sambung ayah Diki yang baru datang dari arah kamarnya, dia menarik kursi dan duduk dekat dengan anaknya.
"Kamu yang mau ujian, tapi bunda yang deg-degan. Bunda sampai nggak bis atidur semaleman, Sayang!" kata bunda dengan wajah cemasnya.
"Bunda nggak usah cemas. Kalin belajar sewajarnya kok. Semalem juga Kalin tidurnya nyenyak, dan Kalin yakin itu menjadi awal yang baik buat hari ini..."
"Ya sudah, makan nasi gorengnya! Bunda juga sudah masukkan potongan buah dan tepak makanan, takutnya pas kamu keluar ujain, pusing terus kurang nutrisi..." bunda lebay banget.
"Kopi nya, yah!" Bunda menaruh secangkir kopi tanpa gula di depan ayah.
Lima menit kemudian, Kalin udah selesai makan. Dia pamit pada kedua orangtua yang melepas Kalin berasa melepas anaknya ke medan perang.
"Bunda akan sholat nanti, supaya kamu diberi kemudahan!" ucap bunda.
"Nggak harus kayak gitu juga sih, Bun! tapi kalau itu bikin hati bunda tenang, nggak apa-apa lakuin aja..." Kalin malah cengegesan.
"Kamu ini! inget, segala pencapaian yang sedang kita usahakan, harus dibarengi dengan doa supaya hasilnya maksimal..." bunda menyentuh pundak anaknya.
"Iya, Buuun..."
"Kalin pamit, yah?!"
__ADS_1
"Sukses ya, Nak!" ayah memberi kecupannya di ubun-ubun kalin, dan nggak lupa meniupkan doa disana.
"Kalin pamit..." gadis itu lantas pergi menuju mobil yang udah diparkir di depan.
Sedangkan di tempat lain.
Raksa ngeliat hapenya.dan masih mager di kamarnya. Dia gletakin di atas kasur, benda pipih yang habis dia gunain buat nge chat si bocil. Sementara dia mulai ambil posisi, dia push up buat pemanasan sebelum dia melatih ototnya dengan dumbel.
Tubuhnya yang sejajar di lantai naik turun sesuai irama, seketika dia inget sama kiriman roti dan soy milk, susu kedele next level.
"Arrrghhh?!!" Raksa mempercepat temponya, semakin bayangan mantan pacar memenuhi pikiran semakin dia mempercepat temponya sampai akhirnya dia menjatuhkan dirinya dengan napas yang ngos-ngosan dengan keringet yang membanjiri wajahnya.
Dia inget banget waktu dia balik lagi ke kantor sehbais jumatan, si Pay dateng buat ngaih lagi roti sama soy milk. dan pas ditanya 'Dari siapa?'
Tuh orang jawabannya selalu tamplete,' Dari mas Farid!' katanya.
Padahal jelas-jelas Raksa udah nanya sendiri sama Farid, kalau bukan dia yang ngirim. Ditambah lagi dia liat di depan kalau Rahmi yang pesen lalu dikasihkan sama mas Pay. dan pas dirasa-rasa, tuh soy milk udah nggak panas, jadi bener dong apa yang dia lihat itu bener kenyataannya.
Raksa yang sekarang lagi tiduran di lantai parket kamarnya pun bangun lantas pergi ke kamar mandi. Kamarnya terkesan lebih hangat daripada kamar Nova. Ya secara dekorasi sesuai budget yang punya kamar, jadi lah kamar Nova ya kamar alakadarnya. Uang jajannya nggak akan cukup buat beli barang yang baguis. Paling mentok karpet bulu itu juga hasil dari ngerengek sama ibunya, minta supaya dia bisa glosoran di lantai tanpa takut masuk angin.
Selesai mandi, damage Raksa bertambah beratus-ratus kali lipat. Meskipun nggak jadi angkat beban pakai dumbel, tapi dengan push up seratus kali aja udah bikin dia seger dan perutnya makin keras kayak papan penggilesan.
Tok!
Tok!
"masuk aja, Bu?!" kata Raksa yang lagi ngancing kemeja di bagian tangannya. Dia udah rapi.
Ceklek!
"Loh, udah rapi?"
"Udahlah, Buk!" Raksa ngeliatin dirinya sendiri di kaca, mastiin rambutnya oke. padahal pas dipakein helm ya harus ditata ulang.
"Sarapan! ibuk udah bikin tumis brokoli kesukaan kamu!"
"Udah jam segini, Buk!" Raksa ngeliatin jamnya.
"Belum juga jam 7! ayo, sarapan dulu, ibu tunggu di meja makan!" bu Selvy keluar tanpa mendengar jawaban dari anaknya.
__ADS_1
Sebenernya dia berangkat sepagi ini tuh sebenernya mau nganterin si Nova. Sekalian ngelongok ke SMA dimana tunangannya bersekolah. Cuma pengen ngeliat vibes nya bocah SMA pada ujian, gitu. Raksa udah bayangin para bocah yang masuk kayak sekumpulan zombie dengan muka tegang dan mata panda karena semaleman belajar tapi nggak tau masuk apa nggak di otak dan ngeliat itu kayak hiburan tersendiri buat Raksa.
"Akhirnya turun juga!" sindir pak Hendra pada anaknya.
"Nova mana? kok belum nongol?" tanya Raksa saat duduk anteng di kursi yang dipilihnya.
"Makasih, Buk!" pria itu saat menerima piring dari ibunya, sengaja dia ngambil nasi sendiri supaya nggak over load.
"Nova mana? kok belum turun? nggak takut telat dia?" tanya Raksa sembari mula memamah biak makanannya.
"Nova? udah lari pakai motor dia dari pagi! kan hari ini adek kamu ujian!" kata ibuk yang ikutan duduk.
"Hah? gimana? udah berangkat maksudnya, Buk?" Raksa menghentikan makannya padahal baru dua suap.
"Iya, udah berangkat dari jam 6 dia. Katanya takut telat, sekalian mau nyari tempat duduknya! riweuh lah pokoknya, makan aja ibu suapin saking keburu-burunya!" kata ibu.
Raksa yang mendengar itu pun duduk merosot, kecewa karena adeknya udah berangkat duluan.
'Gagal deh gue liat muka-muka zombie!' batin Raksa.
"Jangan ngelamun terus! nanti rejeki kamu dipatok ayam! cepet makan terus berangkat!" suruh ibuk.
"Ya, Buuuk!"
Sedabgkan pak Hendra nautin kedua alisnya ngeliat raut wajah anaknya yang berubah drastis.
"Aku udah selesai ya, Bu!" Raksa minum teh angetnya lalu salaman dah tuh sama kedua orangtuanya, minta restu buat cari duit.
"Ati-ati jangan ngebut!" bu Selvy ketika punggung tangannya dicium si anak sulung.
"Pulang kantor jangan lupa ambilin celana bapak yang ibu taruh di tukang jait!" kara bu Selvy.
"Ibuuukk? Raksa kan pulangnya juga sore banget! nggak nyampe lah, ngambil jaitan kayak gitu!"
"Durhaka kamu!" bu Selvy nunjukin jari telunjuknya.
"Asthgfirullaaah, iya nanti aku ambil pas pulang kantor!" ucap Raksa setelah menyalami bapaknya.
"Raksa berangkat dulu!" pria itu pun keluar sembari pakai jaketnya dan melesat debgan motor yang bikin dia lakik banget.
__ADS_1