Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Malam Ini


__ADS_3

Bu Selvy hanya memberi waktu anaknya 10 menit untuk mandi dan lanjut bantuin dia bikin tumpeng buat dibawa ke rumah kalin.


"Kenapa harus bikin sendiri sih, Buk? ibu kan bisa pesan di catering. Nanti Raksa yang bayarin," kata Raksa yang disuruh ikutan motongin kentang yang nanti akan digoreng dan dimasak dengan sambal balado.


"Kalau bikin sendiri itu lebih enak dan lebih puas rasanya. Apalagi ini untuk calon mertua kamu, Raksa! jelas kita buat yang enak. kamu tau sendiri kan? satu kompleks ini mengakui nasi kuning ibu itu top markotop, nggak ada lawan," bu Selvy yang melihat kerjaan anaknya.


"Ini jangan kecil-kecil begini! bisa ancur nanti kalau digoreng!" bu Selvy mencontohkan cara memotong kentang dengan ukuran yang presisi.


Sedangkan Nova sudah anteng dengan adonan kentang yang sudah ditumpuk dan dicampur dengan bumbu rahasia dari ibuk. Dia sibuk buletin kentang yang akan dijadikan perkedel.


"Mending aku yang bikin buletan kayak gitu, Buk! daripada motong-motong begini!" Raksa protes dengan pembagian tugas bikin tumpe ala bu Selvy.


"Sudah pernah! kamu bikin buletan perkedel nya gede-gede kayak bakso tenis. Sudah pas kamu disuruh motong, sudah kerjain saja. Ibuk mau masak oreknya dulu!' bu Selvy nggak mau dibantah.


Sembari memasak, air mata bu Selvy meluncur bebas ke pipinya, 'Yang kayak gini pasti bakal Ibuk kangenin dari kamu, Raksa! anak lanangku satu-satunya,' batin bu Selvy.


Melihat ibunya srat srot narik ingus pun, Raksa melirik dan menyenggol tangan Nova.


"Ibu kenapa?" bisik Raksa.


"Lagi melow kali!" ucap Nova.


Raksa mengajak Nova yang tangannya masih blepotan dengan adonan kentang, mendekat ke arah ibunya. Dengan isyarat mata, Raksa menyuruh Nova ikutan memeluk ibunya bersama-sama.


"Jangan sedih, Bu..." ucap Raksa.


"Tauk nih Ibu. Kan udah kita bantu, masih aja nangis. masih bisa keburu, kok!" Nova yang salah paham.


Baik raksa dan Nova meletakkan dagunya di bahu ibunya, "Ibuk nggak nangis. Lagian masak kayak gini ibu sudah jagonya! ibu hanya merasa akan sangat merindukan momen ini. Ketika kalian sudah dewasa, masing-masing akan meninggalkan rumah ini. dan ibu bakalan sendirian, hiks!"


"Ibuuuuuk!" ucap Nova, dia memeluk tanpa dengan telapak tangan yang diangkat ke atas, takut tangannya kena baju ibunya.


"Raksa janji, kalau memungkinkan, raksa bakal balik dan jengukin Ibuk. Ibu jangan sedih,"


Cup!


Raksa mencium pipi ibunya, "Masih ada Nova! dia bakalan disini terus nemenin ibu! iya kan, Nov?"

__ADS_1


"Eh, iya!" Nova tergagap.


"Kok gue sih, Bang?!" bisik Nova.


"Tenang, ntar jatah lo lebih gede dari gue!" bisik Raksa.


Plak!


Plak!


"Ibu masih hidup udah ributin warisan! dasar anak nakal!" bu Selvy memukul masing-masig pipi anaknya. tentu bukan benar-benar memukul. Dia hanya nggak ingin suasana sedih ini berlarut-larut.


"Kok pada pelukan? bapak nggak diajak?" tanya pak hendra dari arah belakang.


Seketika pak Hendra bergabung dan memeluk ketiga orang yang berharga buatnya. Dia merasakan kalau tuhan begitu baik dengan mengirimkan dua anak yang selalu membuat damai hatinya dan istri bawel yang sellau perhatian padanya.


Sore itu, bu selvy menyelesaikan nasi tumpeng dengan dibantu suami dan anak-anaknya. Pak Hendra nggak segan-segan kecipratan minyak panas untuk menggoreng perkedel yang hasilnya zonk.


"Sudah, sudah, biar ibuk saja!" bu Selvy mengambil alih tugas suaminya.


Sedangkan di tempat lain, farid lagi merana di susut pojok kamarnya. Dia duduk bersandar di kaki ranjang.


"Jahat banget lo, Tan! padahal gue udah tulus banget sama lo..." gumamnya, Hatinya mencelos saat melihat kebersamaan Tania dengan bosnya.


"Kalau lo nggak suka sama gue, kenapa lo kasih gue harapan, Tan? padahal gue udah bantuin lo. Gue kasih info apa aja yang lo minta. Gue udah menghianati sahabat gue sendiri, gue bahkan ikutan rencana lo buat misahin Raksa sama tunangan bocilnya!" Farid dengan wajah ngenes.


"Tapi kayak gini balesan lo sama gue, Tan?!!" Farid ngusek rambutnya sendiri.


"Taniaaaaaaa?!!" teriaknya. Hatinya yang baru membaik, seketika hancur lagi.


Disisi lain, ada orang yang masih di kantor. dia melihat ruangan raksa yang ditutup tirainya, padahal hari sudah mulai gelap.


"Apa Raksa ketiduran lagi di ruangannya?" gumam Rahmi.


Sedangkan Tania udah gelisah daritadi, dia ditelfonin terus sama pak Galang.


"Mi? lo mau pulang sekarang atau nggak? udah sepi loh ini!" ucap Tania.

__ADS_1


"Lo duluan aja, tan! kerjaan gue belum kelar!"


"Udah lebih dari jam 6. Lo nggak takut?"


"Nggak. Orang terang begini kok! bentar lagi, ini udah tanggung. Bentar lagi gue pulang kok. Lagian gue males, di rumah ada Pandu!" kata rahmi.


"Ya udah kalau gitu. Gue duluan, ya?" ucap Tania yang sedari tadi mengabaikan telepon dari pak Galang.


"Hati-hati," ucap Rahmi.


Tania pun pergi meninggalkan ruangan itu. Disitu Rahmi mematikan komputernya. Dia ikutan beres-beres. Tapi berhubung udah nggak ada orang, rahmi pun penasaran. Dia berjalan menuju ruangan Raksa membawa dokumen laporan.


Wanita itu merapikan rambutnay sebelum menegtuk pintu.


Tok tok tok!


"Permisi, Pak!" seru rahmi.


Dan berhubung nggak ada jawaban, rahmi pun membuka pintu perlahan. dia amsuk dan menutup pintu dari dalam.


Tapi keningnya mengerut, dia melihat ke segala arah. ruangan itu kosong.


"Sejak kapan dia pergi? kok gue nggak tau!" Rahmi pun mendekat ke arah meja Raksa. Dia meletakkan setumpuk kertas di meja itu.


Rahmi menyentuh bagian meja, sampai akhirnya tangannya menyentuh sebuah bingkai foto. Dia mengambil bingkai itu.


Matanya menajam, dengan bibir yang bergetar sata melihat foto Kalin dengan Raksa saat mereka berdua bertunangan.


"Gue tau lo terpaksa! lo hanya nggak mau ngecewain orangtua lo, sa! Gue bakal kasih tau mereka kalau gue calon istri yang sebenernya! Gu calon istri lo!" ucap Rahmi yang ingin melempar bingkai foto itu tapi dia segera mengurungkannya.


Dia mengembalikan bingkai foto itu ke atas meja dengan posisi tertutup. dan matanya kini beralih pada satu benda berwarna oranye yang mirip dengan bentuk telur.


"Sejak kapan Raksa suka beli kayak ginian? atau jangan-jangan ini jajannya si bocah itu!" Rahmi dengan tawa mengejeknya.


"Calon istrimu masih suka jajanan anak kecil, Sa! cewek kayak gitu belum siap buat jadi istri, hahaha," Rahmi ketawa.


Dia mengambil jajanan yang sengaja Raksa pajang di meja nya. Rahmi menyembunyikan benda itu di saku blazernya. dan dia pergi dari ruangan mantan pacarnya itu.

__ADS_1


__ADS_2