Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Seseorang


__ADS_3

Raksa diem sesaat, buat memperhatikan orang itu.


Kalin yang menyadari itu lalu bertanya pada suaminya, "Kenapa? apa aku ada salah lagi?"


"Ngga! cuma aku lagi inget-inget, dimana ya aku ngerasain ramen yang rasanya kayak gini?" Raksa nyari alasan.


"kayaknya nggak pernah deh. Ini kan rasanya udah disesuaikan sama lidah warga +62, jadi nggak pernah lah kita makan ramen kayak gini di luar," kata kalin.


"Bukan di luar, kayaknya aku pernah ngerasain makan ramen kayak gini sebelum kita pergi ke Manchester, ya kayaknya..." ucap Raksa.


Kalin menaik turunkan bahunya sesaat, lalu dia lanjut buat makan. raksa nggak mau mengubah posisi duduknya, dia tetap di samping Kalin yang menahan rambutnya supaya nggak ikut nyemplung dan berenang dengan kuah ramen.


'Siapa orang itu?' batin Raksa.


Tapi dia nggak mau bikin Kalin ketakutan ataupun cemas, makanya dia berusaha bersikap santai meskipun hatinya sebenernya was-was juga. takutnya ini ada hubungannya sama orang yang benci dengan ayahnya Kalin.Karena setau Raksa, perusahaan itu lagi naik pesat karena mereka mampu mengeluarkan terobosan-terobosan baru dalam pengembangan sumber daya manusia yang mampu bersaing dengan era global saat ini. Dan target mereka menyentuh semua kalangan, bahkan perusahaan besar menggunakan jasa dari perusahaan ayah buat mentraining  puluhan ribu karyawan mereka.


Dan Raksa pikir orang yang membuntuti mereka, bisa jadi orang yang iri dengan kesuksesan ayah Diki.


"Oh ya aku mau bahas sesuatu..." Kalin tiba-tiba bersuara.


"Apa itu?"


"Aku ditunjuk sebagai direktur utama..." Kalin dengan hati-hati.


"Bagus, dong! jadi kamu udah dapet posisi yang pantas buat kamu, Kalin..." sahut Raksa.


"Kita makan dulu ya? nanti kita lanjut ngobrolnya. Ramen kalau makannya nggak lagi panas, kurang enak soalnya..." lanjut Raksa yang bukan nggak mau lanjut ngomongin soal yang Kalin bekerja di perusahaan ayahnya, tapi dia tadi melihat pergerakan orang itu.


Kalin menyeruput ocha dinginnya dan menggeser mangkok yang udah kososng, tinggal menu cemilan yang sengaja mereka pesen buat menambah sensasi kriuk, biar nggak monoton makan ramen yang berkuah itu.


"Jadi gimana?" Raksa mengelap mulutnya dengan tisu.


"Ya ayah minta aku kerja di perusahaannya mulai besok di posisi direktur utama, yang mana aku juga belum ada pengalaman sama sekali, kecuali pas magang waktu kuliah..."


"Ayah kasih posisi itu berrati yakin kamu bisa dan mampu menjalankan roda perusahaan..."


Kalin menggeleng, "Aku kurang sreg aja!"


"Kenapa?"


"Ya nggak apa-apa..." sahut Kalin yang kini dilema.


"Mas, gimana kalau Mas kerja di perusahaan ayah aja? nanti aku bilang supaya ayah kasih satu jabatan lagi buat Mas..." kata Kalin, dia nggak mau enak sendirian.


Raksa menyerongkan kursinya supaya bis amelihat wajah Kalin dengan jelas, "Aku ini perintis, bukan pewaris, Kalin! itu perusahaan ayah kamu, dan kalau kamu jadi direktur disana ya wajar. Kalau aku kan menantu, aku nggak berhak di posisi itu. Lagian aku udah biasa merangkak lagi dari bawah, Kalin..." ucap Raksa.


"Kecuali kamu malu punya suami kayak aku," lanjutnya.

__ADS_1


"nggak lah, mas? masa aku malu? kamu itu suami yang heba. Mungkin aku nyari sampai ke pelosok mana pun nggak akan nemu yang kayak kamu, yang mau merelakan jabatan kamu disini demi ikut merantau bareng istrimu yang lagi kuliah di luar negeri. Kamu juga kan disana bertanggung jawab atas kehidupan dan keselamatan aku, Mas. Jadi kamu jangan berpikiran kayak gitu, buat aku kamu itu keren banget!"


"Oh ya?" Raksa dengan suara yang lakik banget.


"Iiiiiiiih..." Klain mencubit perut suaminya.


"Jangan disini, Kalin! Bahaya!" ucap Raksa penuh arti.


"Berhubung besok kamu mau langsung kerja, jadi sekarang kita pergi buat beli kebutuhan kamu. Yang jelas aku nggak mau kamu pakia rok semini ini!" Raksa menunjuk kaki jenjang istrinya yang terlalu terekspos.


"Iyaaaaaaa...."


Suasaana hati Raksa sudah kembali normal, udah nggak bad mood lagi. tapi sayangnya itu hanya bertahan sebentar, karena feelingnya mengatakan kalau dia lagi diikutin lagi.


'Mau nya apa sih tuh orang?!' Raksa jadi dongkol sendiir, dia nggak mau menunjukkan seolah dia tau kalau lagi diikutin.


Raksa lalu punya ide, dia menarik Kalin buat masuk ke dalam toko yang menjual pakaian jeroan yang dipajang dengan bebasnya.


"Katanya kamu mau beli segitiga bermuda?!!" ucap Raksa.


'Gue tantang lo berani masuk kesini atau nggak?!!' Raksa dalam hati, dia rasa harus melakukan ini.


"Tolong pilihkan yang sesuai dengan istri saya!" ucap Raksa sedangkan matanya masih menelisik ke segala arah, namun dengan gerakan yang sangat natural.


"Kenapa aku harus beli ini?" tanya kalin.


Raksa melihat ada pintu tembus yang lain yang ada di toko itu.


"Kami ambil semua itu,tolong segera dibungkus!" ucap Raks ayang kemudian membayar semua belanjaan Kalin, dia nggak lupa buat selalu menggandeng tangan istrinya supaya nggak kabur-kaburan.


"Aneh kamu, Mas! kita kan mau beli baju kantoran, bukan beli pakaian kayak gini!" ucap Kalin.


"Ya nggak apa-apa, Sayang buat stok di rumah!" ucap Raksa yang menyamber belanjaan dan membawa Kalin keluar lewat pintu lain yang.


Dia berjalan dengan langkah terburu-buru.


"Kita lagi lari dari siapa, sih? kenapa jalannya harus buru-buru banget kayak gini?" tanya Kalin.


"Itu tokonya!" ucap Raksa tanpa memperdulikan ocehan Kalin.


Kalin mengikuti kemana Raksa memabwanya.


"Ini toko baju laki-laki, Mas!"


"Oh ya?" raksa melihat semua baju yang terpampang dan dia baru menyadari kecerobohannya.


"Ehm disebelah sana kalau gitu. Ayo, sayang!" Raksa menarik kalin lagi, dia berasa lagi main kucing-kucingan karena harus bergerak cepat tanpa dicurigai.

__ADS_1


"Nah disini!" kata Raksa yang mengambil satu blouse dan juga rok span yang kira-kira panjangnya selutut.


"Ini kayaknya wajib kamu cobain, Sayang!" lanjut Raksa dia mendorong Kalin masuk ke ruang ganti.


"Tunggu apalagi? ayok dicobain..." suruh Raksa.


kalin seakan terhipnotis dan masuk ke dalam kamar ganti dnegan perasaan yang bingung.


"Kenapa tuh orang/ main ambil-ambil aja, belum juga liat ukuran bajunya, main disuruh cobain aja!" Kalin ngomel di dalam ruang ganti.


Sedangkan Kalin nelfon farid, dia bicara dengan cara berbisik, "Lo kesini sekarang! urgent nih!" kata Raksa.


"Ajegileee, gue lagi kerja, sa!"


"Bnetar doang melipir!"


"Gue lagi mau ngadep pak direktur!"


"Halah, nggak bisa diandelin lo emang! awas ya, jangan harap ada restu dari gue!" ucap Raksa yang tadi udah kirim lokasi dia.


Kalau bukan mengenai keselamatan kalin, dia nggak mungkin maksa Farid.


"Gue nggak bisa main-main. Ini orang udah meresahkan banget!" gumam Raksa yang terus memantau sikon.


"Sayang? kamu masih sadar, kan?" seru Raksa dari luar.


Dan beberapa saat kemudian pintu bilik itu terbuka, "Ya iyalah masih sadar!"


"Ya nggak, kali aja kamu pingsan di dalem, karena kaget ngeliat ada bidadari dari pantulan cermin itu!" ucap raksa.


Kalin yang mau sewot pun akhirnya luluh juga, "Ihhhhh, mas Raksaaa bisa aja deh!!!"


"Oh ya, nih coba lagi!" tangan Raksa secepat kilat menyambar satu setel baju lagi, kali ini setelan celana panjang.


 Kalin pun di dorong masuk lagi, dan Raksa segera menutup pintu dari luar.


Drrrt!


Ada Wa masuk dari Farid.


Gue kesana sekarang!


Raks apun segera membalas.


Nah, gitu dong! daritadi kek!


Raksa kemudian memasukkan kembali hapenya ke dalam kantong celana, dan dengan sabar menunggu Kalin keluar dari kamar fitting.

__ADS_1


__ADS_2