Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Penyesalan


__ADS_3

Sekian abad nglewatin jam makan siang terus, baru kali ini dia menikmati makanannya bahkan nyuri start duluan dibandingkan yang lainnya. Tapi berhubung hari jumat, Raksa pun mempercepat makannya. Dia nyari masjid sekitar kantornya.


Berhubung yang dianterin makan udah mau melaksanakan kewajibannya sebagai kaum adam, Kalin pun akhirnya pamitan. Dan Raksa nggak kasih lepas gitu aja, dia anterin tuh bocah sampai gadis itu duduk di dalam mobilnya.


Raksa pikir dia bakalan begah karena dikasih makan porsi jumbo, tapi ternyata dirinya salah kaprah. Selama makan siang itu, beberapa kali sendok dan garpu bagaikan dua mata pedang yang saling beradu untuk mendapatkan kekuasaannya. Ya, Raksa dan kalin saling berebut buat mendapatkan daging yang sangat enak dan mennguncang selera makan mereka.


Dan itu konyol banget sih, bahkan Kalin sempat ingin menangis karena Raksa makan lebih cepat dari dia. Gadis itu takut nggak kebagian, padahal di rumahnya udah pasti ada masakan itu. Dia tinggal pulang dan makan lagi, tapi moment saling berebut itu entah kenapa membuatnya semakin ingin makan lagi dan lagi


Selesai jumatan, Raksa balik ke kantornya dengan wajah yang lebih segar dan seratus kali lipat lebih ganteng dari biasanya.


"Dicariin juga, kemana aja lo? sekarang suka banget ngilang-ngilang?" Tania tiba-tiba ada di belakang Raksa saat pria itu lagi berdiri di depan lift, nunggu pintu besi itu terbuka.


"Eh, tania. Farid mana? kok nggak bareng?" Raksa ngalihin pembicaraan, takut ditanya macem-macem.


"Farid? nggak tau gue. Nggak bareng, kan dia jumatan! gue kira bareng lo tadi," kata Tania yang kini mengikuti langkah Raksa untuk masuk ke dalam lift.


"Gimana?" tanya Raksa.


"Apanya?"


"Hubungan lo sama Farid?! kalian udah jadian?" tanya Raksa.


"Kenapa emang? kok lo tanya gitu?" Tania deg-deg ser ditanya sama Raksa.


"Ya, nggak apa-apa. Farid udah getol banget tuh usahanya. jangan sampai lo kecewain," pesan Raksa,


"Gimana pun Farid berhak bahagia," lanjutnya.


Tania cuma menyunggingkan senyumnya, Raksa pikir gadis itu grogi ditanya seputar privacy nya. Tapi Farid temennya, dan udah seharusnya dia kasih support.


"Gue duluan!"


Tin!

__ADS_1


Tania keluar saat dia udah sampai di lantai tujuannya, sedangkan Raksa tetep naik ke atas ngeliatin Tania yang tetep disana sampai pintu besi itu tertutup sempurna.


Sedangkan disisi lain ada seorang pemuda yang lagi ngelamun di suatu taman.


"Gue kira dia orang kaya!" Reno menggeleng, dia keingetĀ  sama pertemuannya sama Melody yang membuat dia ngerasa bodoh.


"Kenapaa? astaga, kenapa bisa-bisanya gue dibohongin kayak gini?" kini Reno pegangin kepalanya, dia pengen banget ngejambak rambutnya sendiri.


Bayangan dan kilasan masalalu berputar di pikiran Reno, terutama saat dia mutusin Kalin. Dia gelengin kepalanya berkali-kali, "Gue bodoh banget, ya ampuuun?!!!"


"Bisa-bisanya gue lepasin Kalin cuma buat jalan sama Melody! astagaaaa, sedangkan ternyata Melody nggak lebih dari seorang pembohong?!" Reno nggak nyadar kalau dirinya juga tukang bohong. Ibarat kata, maling kok teriak maling.


"Lo guoooblooockkk banget Renoooo?!! argh?!!" pemuda itu meraup wjahnya sendiri.


"Lo udah lepasin kalin hanya untuki seorang pembohong. Guoblockk Reno, guoblockkk emang?!!" reno inget terus kejadian dimana Melody diakui sebagai anak pembantu di rumah mewah itu.


Lagi galau tingkat internasional. temen gengnya nelpon, katanya Reno ditunggu di rumah salah satu geng yang hobinya sneneg-senneg mulu tanpa mikirin apakabar dompet orangtua.


Penyesalan yang udah klise banget mesti hadir belakangan, rasanya nggak jadi pembelajaran orang buat membaca situasi. Mempertimbangkan sesuatu dengan lebih baik dan menghindari sistem terburu-buru.


Seakan berbeda situasi dengan Reno, Kalin ngerasa hari demi hari berjalan lebih baik. Dia memang patah hati dan hancur, tapi berkat banyak orang yang peduli sama dia, gadis itu bisa melewatinya dengan sangat mudah.


Hari terus berganti, bergulir tanpa bisa kita cegah pergerakannya. Malam dimana semua siswa sibuk belajar, Reno malah sibuk main. Dia emang pinter tapi dia lupa kalau dia bukan manusia super. Dia bisa aja salah dan keliru.


Udah dua hari ini dia ngumpul terus sama geng yang mengadopsi pemahaman you only live once itu pun melupakan tugas utamanya sebagai seorang pelajar. Dia main terus, nge game terus sampai lupa waktu.


Drrrrttttt!!!!


Beberapa kali hape Reno bergetar, tertera nama bangnya disana.


"Halo!" sapa Reno malas.


"kamu dimana, ren? udah malem, pulang! besok lo kan ujian..." Arkan mngingetin.

__ADS_1


"Ren? Renooo?" Arkan panggil Reno lagi disaat adiknya itu dirasa nggak menjawab pertanyaannya.


"Astaagaaa! arggghh, dikit lagi padahal?!!" Reno kedengerannya kesal, Arkan bisa mendengar suara-suara gaduh.


"Ren, sekarang lo dimana? biar abang jemput," kata Arkan, dia ngoceh terus sampai dinotice sama abangnya.


"Astagaa, bang Arkan. hampir aja gue menang, kalau abang nggak nyerocos mulu daritadi!"


Arkan khawatir, "Kamu lagi dimana, Ren? ibu daritadi nanyain lo terus. Lo dimana? lo kalau ada masalah jangan pendem sendiri. Lo punya gue, Ren.." Arkan udah ngerasa ada hal yang nggak beres sama adiknya.


"Lo mau pilih dijemput atau pulang sendiri?!" Arkan kali ini ngancem.


"Iya iya, bawel banget sih! bentar lagi gue balik, iya!" Reno memutuskan sambungan telepon abangnya secara sepihak.


Reno pun melepaskan stick yang ada di tangannya, "Gue pamit ya! udah malem?!!"


"Baru juga jam 10! tanggung lah, lo juga belum lawan gue?!1 kata salah satu temen Reno namanya Antony.


"Mata gue capek, liyeur ngeliat layar mulu?!!" ucap Reno sembari mijit keningnya.


"Gue duluan?!!" Reno ambil jaket nya yang tergeletak.


"Nggak seru lo, Ren?!! bilang aja lo emang cemen, nggak kuat mental ngelawan gue?!!" Antony yang kini ikutan berdiri.


"Atau lo udah ditelponin cewek lo itu? siaapa? Melody? iya Melody?!" timpal Jerome.


"Nggak usah takut sama cewek, Ren?!! jangan mau disuruh-suruh?!! lo jangan nurut-nurut amat, disuruh pulang lo nurut aja kayak kerbau dicucuk hidungnya. Cowok kayak kita juga perlu waktu buat nyalurin hobi," lanjut pemuda itu.


"Gue pamit?!!" Reno nggak menggubris temennya itu dan pergi gitu aja meninggalkan rumah super mewah yang dari dulu diimpikannya.


'Seandainya gue terlahir jadi orang kaya, pasti hidup gue bakal bahagia,' batin Reno saat melangkahkan kakinya keluar.


Dia kemudian memacu motornya saat hari semakin malam dan di luar rawan kejahatan. Pemuda itu nggak mau diolok-olok gara-gara ketauan abangnya yang ngider nyariin dia.

__ADS_1


__ADS_2