
Nova kembali pulang setelah ketemuan dengan Kalin. Sedangkan di rumah masih ada Raksa yang sengaja bali ke rumah buat makan siang di rumahnya. Karena dia pikir akan kangen masakan ibunya dalam jangka waktu yang lama.
"Udah pulang, Nov?" tanya pak Hendra.
"Udah, Pak..."
"Emang habis kemana kamu, Nov?" tanya bang Raksa.
"Ketemu Kalin," ucap Nova singkat.
"Bukannya abang udah pindahan? kenapa masih nongol disini?" lanjut gadis itu yang menarik kursi dan ikutan makan. Sementara yang lainnya sudah selesai.
"Emang kenapa? nggak suka?"
"Betul?!!!" Nova angkat jempolnya, dia lgi kesel banget sama abangnya yang bisa-bisanya masih berhubungan sama mantan padahal dia udh menjalin hubungan bahkan udah menikah sama Kalin.
"Astagaaa, kalian ini ribut terus kerjaannya?!" ucap bu Selvy yang menaruh puding susu di meja.
"Dimakan, Sa!" ibu menawarkan anak sulungnya.
"Lagian paling cuma hari ini berantemnya, Bu! besok-besok juga nggak..." pak Hendra menimpali ucapan istrinya.
"Kan Raksa mau pergi ke luar negeri!" lanjutnya.
"Itu juga kalau Kalin masih mau diikutin," celetuk Nova.
"Kok bisa gitu?" tanya bu Selvy.
"Ya siapa juga yang betah diikutin orang kayak gitu, Buk? orangnya emosian!" Nova menunjuk muka abangnya dengan gerakan dagu.
"Ya kan sama kayak kamu! udah-udah makan yang bener, jangan ngeledek abangmu terus!" kata bu Selvy.
Nova akhirnya makan dengan tenang, menikmati setiap suapan yang sangat nikmat jika harus dilewatkan begitu aja.
"Pantesan tadi buru-buru banget keluarnya, ternyata mau ketemu sama Kalin..." pak Hendra jadi inget pas Nova masuk dengan setengah berlari, menyambar kunci motor yang untungnya ada di ruang tengah. Padahal saat itu, Nova hanya iseng bilang mau ketemuan sama Kalin. Tapi emang semensta nggak mengijinkannay buat berbohong. Karena begitu Nova pergi sehabis menemui Rahmi, Kalin nelpon minta ketemuan di bandara.
'Kenapa lo kesini?' tanya Nova saat itu.
'Ada yang harus diurus!' kata Kalin dengan muka yang sembab.
'Lo kenapa?' tanya Nova yang penasaran dengan Kalin.
'Gue sedih aja, ternyata gue harus secepet ini ninggalin negara gue, ninggalin tempat kelahiran gue. Dan ninggalin lo, sahabat gue...' kata Kalin berbohong.
Mereka hanya ketemuan sebentar karena ternyata, Nova udah ditelponin ibuk terus. Katanya belanjaannya ada yang kurang. Padahal saat itu Nova dan Kalin akan ngider sekitar bandara. Jarang-jarang mereka bisa kesini. Tapi baru juga mau jalan-jalan, bu Selvy keburu neror anaknya, nyuruh pulang.
__ADS_1
Akhirnya Nova yang nitipin motor ke salah satu pusat perbelanjaan pun pulang bareng dengan Kalin yang tumben-tumbenana pergi jauh tapi cuma naik taksi online. Padahal dia kan selalu diantar jemput sama pak Abdul. Meskipun sedikit banyak Nova bisa menebak kalau Kalin udah tau soal Raksa dan juga Rahmi, tapi Nova memilih diam. Dia memilih untuk bergerak sendiri, memperingatkan wanita yang berwajah kalem itu agra menjauh dari abangnya yang sudah mempunyai istri.
Sampai di rumah, Kalin makan siang dan tiduran di kamar tamu yang baru kemarin-kemarin menjadi kamar pengantinnya. Bunda nggak menaruh curiga karena dia lagi sibuk sama tanaman-tanamannya. Sedangkan ayah lagi sibuk di kamar, biasanya lagi mantau keadaan perusahaan yang baru saja dirintis, dan masih butuh perjuangan untuk mencapai kata stabil.
Raksa kembali ke rumah Kalin setelah hari sudah semakin sore. Baru sampai, dia langsung ditagih main catur dengan mertuanya. raksa pun nggak bisa menolak. Sedangkan Kalin ngendon aja di dalem kamar sambil main hape, ngilangin suntuk. Di kamar tamu Klain kebanyakan bengong, rasanya aneh tiduran di kamar yang jarang ditempati. Tapi itu lebih baik daripada satu kamar dengan Raksa.
Mungkin kalau nggak ada adzan maghrib, ayah akan masih terus melanjutkan permainan catur itu, padahal daritadi udah dikasih menang terus sama Raksa. Tapi bukannya berhenti, si ayah malah makin penasaran. Dia ngerasa level mainnya semakin meningkat.
"Raksa ke atas dulu, yah?!" ucap Raksa yang udah pengen ketemu sama istri kecilnya.
Tapi pas dibuka, nggak ada Kalin.
"Gue masuk?!" seru raksa, takutnya Kalin ada di kamar mandi dan kaget pada saat keluar karena kehadirannya yang tiba-tiba.
Raksa mencoba menajamkan pendengarannya, nggak ada suara gemericik air.
"Lin? Kalin? bocil?" panggil Raksa.
Tapi nggak ada jawaban sama sekali.
"Nggak jawab gue masuk kamar mandi, nih? awas ya? jangan nyesel!"seru raksa lagi, berharap kalin sembunyi di dalam kamar mandi dan segera keluar.
Tapi pas pintu kamar mandi dibuka, nggak ada Kalin disana. raks anutup pintu kamar mandi dan duduk di tepi ranjang.
"Kemana lagi tuh bocah? apa jangan-jangan dia belum pulang?" gumam Raksa.
Sampai akhirnya dia lelah dan mencoba menelepon Kalin. Kalin yang mendapat panggilan masuk dari suaminya pun hanya bisa memandangi hapenya tanpa berniat buat menjawab.
Raksa yang teleponnya nggak dijawab pun makin frustasi.
"Haiiishh, keman anih si bocil?!" gumamnya kesal.
Akhirnya dia tiduran di kasur, smabil memijit keningnya yang kerasa nyut-nyutan.
Sementara kalin yang kini berkeliaran di bawah pun, disuruh naik ke lantai atas buat manggil raksa buat makan malam. Dengan ogah-ogahan, Kalin naik ke atas, dia mengetuk pintu sebelum ijin buat masuk.
"Kamar-kamar gue. Kenpaa gue harus ijin masuk segala?!" gumam Kalin saat mendengar suara orang yang mempersilaka dia untuk masuk. Dan ternyata si Mamang baru aja lipat sajadahnya.
"Disuruh bunda buat ikut makan malam!" ucapnya.
"Apa?" tanya Raksa yang sengaja memancing Kalin buat semakin mendekat, karena istrinya itu hanya berdiri di ambang pintu dengan tangan yang memegang handle.
"Disuruh bunda buat makan malam!" Kalin mengeraskan suaranya.
"Bolot banget, sih?!!" gumama gadis itu.
__ADS_1
"Astaga, gue dikatain bolot!" Raksa dengan berdecak kesal.
Kalin nutup pintudan turun ke bawah lagi setelah menyampaikan pesan dari bundanya.
"Loh Raksanya mana?" tanya bunda pada Kalin.
"Lagi di atas!"
"Nggak kamu panggil, sayang?"
"Udah, Bun! nanti juga turun sendiri, Bun!" kata Kalin nggak mau repot.
Dan nggak berapa lama, Raksa turun dengan out fit santay nya. Dia bergabung dengan Kalin dan juga mertuanya untuk menikmati santap malam. Selama makan malam berlangsung hanya ada suara ayah, bunda dan juga Raksa yang terus mengobrol. Sedangkan kalin dengan khusyu nya makan tanpa mengomentari pembicaraan orang dewasa. Sampai akhirnya dia menyelesaikan makanannya.
"Oh ya, yah! besok Kalin dianternya siang aja, sekitar jam 11 siang," kata Kalin.
"Loh kok kjam 11? bukanya pesawatnya nanti agak sorean ya?"
"Nggak apa-apa. Kalin cuma takut ketinggalan pesawat, Yah!"
"Tapi itu selangnya beberapa jam, loh! lumayan lama,"
"Jusrtu itu, Kalin pengen berangkat awal supaya kalau ada yang ketinggalan nggak bikin riweuh,"
"Selain Kalin pengen jalan-jalan di bandara, yah!" lanjutnya.
Meskipun merasa janggal, Raksa mencoba menengahi pembicaraan itu.
"Nggak apa-apa, yah! lagian takutnya ada perubahan jam penerbangan. Kalau kita kesana lebih awal kan lebih baik. Lagipula bukannya cewek suka banget jalan-jalan?" ucap Raksa.
"Ya sudah kalau begitu. jangan lupa beritahu ayah dan ibumu, Sa! Biar mereka bisa datang kesini dulu, buat mengantar Kalian ke bandara. Mereka pasti pengen mengantar kepergian kalian.
"Baik, yah!" ucap raks ayang kini melihat ke arah kalin yang cuek aja daritadi.
Setelah makan malam, raksa naik ke lantai ata lagi. Nggak tau lah, dia pengen rebahan aja. Sedangkan kalin membantu membereskan bekas makan malam.
"Udah biar bunda aja," kata bunda lIa.
"Biar Kalin aja, Bun! lagian nanti Kalin kangen buat bantuin bunda. Jadi biar Kalin aja, sekarang bunda masuk aja ke kamar. Bunda pasti capek, kan?" ucap Kalin alasan.
"ya sudah, makasih ya? jangan lupa tidurnya jangan kemaleman. Biar besok kondisi kamu fit!"
"Siap, Bun!"
Bunda LIa masuk ke kamarnya. dan secepat kilat Kalin menyelesaikan pekerjaannya sebelum menyelinap masuk ke kamar tamu.
__ADS_1
"Akhirnyaa gue bisa tidur dengan nyaman tanpa gangguan siapapun! enek banget gue liat muka dia yang sok baik di depan ayah sama bunda!" gumam Kalin yang kini masuk ke dalam selimut.