Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Ke Kantor


__ADS_3

Hari setelah malam itu.


Kalin biasa berangkat ke sekolah. Udah nggak ada ujian, tapi semua siswa kelas XII disuruh pada berangkat semua. Ya mungkin biar jangan pada gabut di rumah, dan lebih menghargai waktu kebersamaan yang bentar lagi bakalan berakhir.


Sedari pagi, Kalin ngerasa kalau dia pengen ngeliat seseorang yang lagi sibuk ngantor.


"Gue duluan ya?!" ucap Kalin pada Nova saat bete melanda.


Lagian, Nggak ada apa-apa an lagi, info hasil ujian juga masih lama. Keder dia, nggak biasa dengan jadwal yang senyantai ini. Dan rata-rata pada nongkrong di kantin, berasa jadi kasta tertinggi. Karena adek kelas yang jajan istirahat jadi nggak kebagian tempat duduk, dan harus bawa makanan mereka ke kelas perkara tuh bangku dikuasai kakak kelas.


Nova yang dipamitin belum sempet ngejawab, si Kalin udah main pergi aja.


"Astaga, perasaan lari nya nggak sekenceng itu deh!" gumaman Nova saat Kalin udah hilang di depan mata.


Sedangkan Kalin sendiri, dia pesen taksi online dan sengaja pilih dua titik tempat tujuan. Yang pertama dia sengaja beli japanesse rice bowl terus baru dia menuju tempat yang kedua, yang menjadi tujuan utama nya.


"Ini, Pak!" Kalin ngasih uang saat dia udah sampai dianterin di sebuah gedung yang menjulang tinggi.


Kalin pun turun dengan belanjaan di tangan kiri nya. Mobil itu seketika pergi.


"Ya ampun, bilang makasih kek! udah tua tapi nggak punya adab! miris!" Kalin ngomentarin driver taksi inline yang menurut dia jelek banget. Tapi ketika kasih rating, Kalin nggak tega kasih bintang satu dua, mentok bintang 4. Cuma dia kasih pesan personal gitu 'Banyakin senyum ya, pak?'


"Masuk nggak, ya?" Kalin seketika ragu. Padahal di sekolah tadi dia udah mantep banget denmgan rencananya kali ini, tapi setelah sampai di sini, nyali dia ciyut.


"Apa ada yang bisa dibantu, Dek?" tanya seorang satpam yang ternyata ada di belakangnya. Kebetulan si satpam abis beli air minum.


"Ahm, ehm. Siang, Pak?" Kalin gugup.


"Kayak pernah liat!" gumam si satpam.


"Ah, adek ini kan adek nya mas Raksa kan ya?" lanjut si pria yang kini memperhatikan wajah Kalin dengan seksama.


"Iya iya iya, saya inget! ada apa, Dek? kesini mau ketemu sama mas Raksa?" satpam itu bikin Kalin geleng-geleng.


"Nggak?" pria itu lantas garuk-garuk kepalanya sendiri.


"Maksud saya, iya..." lirih Kalin.


"Jadi iya atau nggak, nih? saya jadi bingung?!" tanya si satpam.


"Iya," Kalin nyengir sambil ngeliatin plastik bening, hasil belanjaan makanananya.


"Oh, disuruh nganterin pesenan makanan?!!  ya udah duduk di ruang tunggu lobby aja. Nanti saya panggilkan mas Raksa nya?!!" satpan itu nyuruh Kalin buat ngekorin dia.


Awalnya Kalin melangkah dengan ragu, tapi lama kelamaan dia yakinin sendiri kalau udah lah bodo amat, udah terlanjur kayak gini. Sekarang dia duduk lagi di sebuah sofa empuk sembari ngeliat jam tangannya.


"Mungkin sebentar lagi..." gumam gadis itu.


Sedangkan Raksa yang lagi kerja tapi ditelpon satpam dari bawah pun keder.

__ADS_1


"Adek? adek siapa? adek gue kesini?" Raksa nautin alisnya.


"Bawa makanan?" Raksa nanya lagi, dia mikir sesaat.


'Ngapain si Nova kemari bawa makanan? apa disuruh ibu?' Raksa dalam hatinya, dia pikir adek yang dimaksud pak satpam itu Nova, adek kandungnya Raksa.


"Tadi adeknya saya suruh nunggu di lobby," kata si satpam sebelum menutup panggilan itu secara sepihak.


"Belum juga gue ngomong lagi, udah main tutup ajeee!" Raksa yang kemudian niutup tekpon.


"Ada ape lo? muka lo asem banget?" tanya Farid yang tiba-tiba nongol.


"Nggak ada! gue mau turun ke bawah!"


"Mau ngapain? makan siang?" farid mencecar temannya itu dengan pertanyaan .


"Ya mau ngapain, kek! emang kenape? kalau lo mau makan siang, saran gue jangan ngajak gue. Fokus aja fokus sama Tania. Oke?" Raksa lalu meninggalkan Farid.


"Nah itu gue mau ngomongin itu. Eh, lo nya malah----" Farid nggak menyambung ucapannya.


"Aishhhh, dasar si bahlul!" Farid berdecak saat ngeliat Raksa keluar dari ruangan mereka itu.


Sepanjang perjalanan menuju lobby, Raksa disiksa dengan pertanyaan ' Kenape tuh si Nopel kemari? buat apeeee?'


Dan pas di dalem lift, pintu besi itu terbuka saat dia sampai di lantai tertentu. Raksa sih cuek aja, kan biasa ya lift suka ngebuka saat ada yang mencet dari luar. Dan pas ngedongak.


Rahmi pun nggak kalah terkejut saat ngeliat si mantan terindah berdiri dengan gagahnya.


Sesaat tatapan mereka terhubung, sampai pintu besi itu mulai menutup tapi ....


Klik!


Raksa menekan tombol tahan pintu, "Lo mau turun atau nggak?" tanya pria itu biasa aja.


"Ehm, ya?" Rahmi pun melangkah kan kakinya kemudian berbalik menghadap ke depan dan sekarang posisi mereka bersebelahan.


Greeeppp!!


Raksa melepas tangannya dari tombol dan pintu lift pun tertutup.


Mereka berdiri dengan canggung tanpa ada kata yang mencairkan suasana. Sengaja Raksa diam, dia kayaknya nggak mau memberikan Rahmi kesempatan buat ngomong apapun, meskipun sekedar basa basi.


"Lantai berapa?" tanya Raksa akhirnya.


"Lobby," sahut Rahmi.


Udah, habis itu Raksa diem lagi. Nggak ada pertanyaan selanjutnya sampai akhirnya lift itu terbuka saat sudah sampai di lantai lobby.


Raksa mempersilakan rahmi buat keluar duluan, biar mereka nggak tabrakan gitu pas keluar.

__ADS_1


"Thanks!" ucap Rahmi yang kemudian nengok ke arah Raksa sebentar.


Sedangkan Raksa yang baru inget kalau dia ke lantai itu buat nemuin adeknya pun mengurungkan niatnya buat bilang sama Rahmi buat stop kirimin dia roti dan soy milk. Tapi dia pikir-pikir, nanti aja lah dia bakalan mikirin lagi cara yang tepat buat mengatakan itu, biar Rahmi jangan tersinggung juga.


"Raksa..." lirih Rahmi, tangannya terjulur saat Raksa sendiri udah jalan ninggalin dia.


Sedangkan Raksa, matanya menyipit saat ngeliat seorang gadis yang beberapa kali mauk ke dalam mimpi nya itu duduk dengan manisnya di ruang tunggu. Macam anak baik yang nungguin buat ditanya 'Ada keperluan apa, Dek?'


iya kalau Raksa nggak tau senakal apa bocah itu, tapi berhubung Raksa sendiri udah khatam kenakalan si gadis pun langsung bergumam. "Ngapain tuh bocah kemari? dimana Nova? apa si Nova yang bawa Kalin kesini?"


Pria itu pun semakin mendekat.


Tap!


Tap! 


Tap!


"Kalin?" panggil Raksa.


Deg!


Kalin yang daritadi fokus liat hape pun terdiam sesaat sebelum mendongakkan kepalanya.


"Ngapain lo ke kantor gue?" tanya Raksa.


Kalin pun berdiri, "Ehm, gue..." dia mikir.


Raksa menunggu jawaban si gadis yang berdiri di hadapannya.


"Gue bawain makan siang!" Kalin menunjukkan belanjaan di plastik beningnnya.


"Makan siang?" Raksa nautin alisnya, padahal mah sudut bibir nya pengen ketarik ke atas tapi dia tahan.


Sementara Rahmi yang berjalan melihat kedua orang itu dengan tatapan heran, "Apa itu adeknya Raksa?" gumamnya. Mantan kekasih Raksa itu pun keluar buat ngambil paketan makanan yang menunggunya di depan pintu Lobby.


Raksa ngelirik sekilas, kalin pun ikutan ngeliat ke arah pandang Raksa. Pria yang sadar kalau si bocil ikutan nengok pun memutar kepalanya tiba-tiba dan kembali ngeliat ke arah Kalin.


Dia meranggul leher si bocil, "Ya udah kita makan siang!" kata Raksa yang kemudian merangkul Kalin keluar.


Sampai akhirnya sang mantan pun berbalik dan ngeliat Raksa yang tangannya melingkar di badan seseorang. Dia tertegun saat ngeliat ekspresi kaget si gadis.


'Apa iya mereka saudaraan?' batin Rahmi.


"Eh, tapi---" Kalin mau ngomong tapi dipotong sama Raksa. Dia deg-deg an dirangkul seperti ini.


"Udah lo ikut gue!" kata Raksa yang harus melakukan ini demi menghentikan seseorang yang memberinya perhatian secara diam-diam.


Raksa ngelewatin mantannya dengan cuek aja. Dia malah nunjukin ekspresi bahagianya dan sengaja ngerasin suaranya, "Kita makan ini bareng , ya?!" ucap pria itu supaya Rahmi mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2