Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Abal-abal


__ADS_3

Sebisa mungkin Raksa menuruti keingin ibu hamil yang satu itu.


"Gimana rasanya? enak?"


"Ini masa begini sih? kayaknya ini bukan seblak yang waktu itu dibeli sama bang Farid?"


"Nah itu orangnya! dia kesini kan khusus beliin seblak Rafael kesukaan kamu,"


"Kesukaan Nova sama ibu juga!" tambah Kalin.


"Ya kan, Rid?" Raksa ngeliatin sahabatnya yang gedeg banget Raksa yang tersenyum dengan puasnya.


'Anjaayy, gue dikerjain! kalau bukan karena calon kakak ipar, udah gue pites nih orang!' Farid dalam hatinya.


Begitu Kalin ingin makan seblak, Raksa langsung menge-chat Farid dan bilang kalau Nova lagi di rumah sakit dan kelaperan. Dia request pengen dibeliin seblak.


Tapi Farid yang diminta pun bingung, karena begitu spesifik jenis seblak yang diminta. Sedangkan waktu itu kan dia beli langsung ke tempatnya yang asli. Lah kalau sekarang kan adanya lewat online, dan itu pun nggak bisa langsung dapat juga. Saking larisnya jadi cepet ludes.


Farid bingung dan bales Raksa sebelum beli.


Ini gimana? nggak ada, nggak dapet lah!


Raksa pun bales.


Ya udah pokoknya harus ada.


Farid nggak habis pikir, dengan kata-kata pokoknya harus ada. Dia pun muter otak.


'Permisi, Pak! ini laporan yang bapak minta!' ucap salah seorang karyawan menyodorkan sebuah map lewat jendela mobil yang dibuka.


Nggak sengaja, Farid ngeliat nama di tanda pengenal yang dikalungkan laki-laki itu.


'Terima kasih, Rafael!' ucap Farid yang di dalam mobil. Dia balik lagi karena lupa bahan buat meeting besok pagi. Kebetulan si Rafael baru mau balik, jadi dia disuruh balik ke atas ditemenin kang satpam buat ngambil dokumen.


Malam itu banyak karyawan yang lembur di kantor, termasuk divisi yang dipimpinnya. Jadi ya, jam segitu baru pada balik dan apesnya si Rafae disuruh ke atas lagi selah semua orang udah pada bubar.


'Kalau begitu saya permisi, Pak!'


'Tunggu sebentar, Rafael!


'Ada apa, Pak?' Rafael berbalik dan menunggu perintah apalagi yang akan diterimanya.


'Nama kamu Rafael kan? kamu orang sunda?'


'Iya, tapi ada apa ya, Pak?!'


'Kalau begitu pas banget! aaya mau minta dibikinin seblak?! bisa kan?' ucap Farid.

__ADS_1


"Bisa," sahut Rafael ragu.


Dan ya sekarang seblak yang dinikmati Kalin itu ya, seblak bikinan Rafael salah satu staff di divisinya yang dipaksa jadi Mamang Seblak dadakan.


'Yang pentingkan namanya Rafael dan dia bisa jadi Mamang!' batin Farid.


Dan usahanya mewujudkan seblak akhirnya berakhir kekecewaan karena disitu Nova nggak ada disitu dan yang makan malah Kalin.


"Muka lo kayak nggak ikhlas gitu, Rid?"tanya Raksa.


Sedangkan Kalin menolak makanan yang dipesannya, udah habis aatu botol air mineral.


"Mungkin lidahku agak eror!" Kalin menaruh makanan itu. Ada rasa nggak enak ngeliat Farid, secara dia udah minta dibeliin tapi ujung-ujungnya nggak habis dimakan.


Ceklek!


"Assalamualaikum!" suara Nova.


Wajah Farid yang tadi ditekuk pun jadi kaget, ngeliat pacarnya dateng kesitu.


"Bang Farid? ngapain malem-malem dateng kesini?" tanya Nova.


"Kok ada bau seblak. Seblaknya jadi dateng emang?" Nova mendengus.


"Ehm, u-dah," Farid terbata.


"Tau gitu nggak usah beli ya? jadi dobel-dobel gini!" lanjut Nova sambil memperhatikan mangkok yang ada di samping nakas.


"Jadi kamu emang pengen seblak ini?"


"Aku sama Kalin. Kalin telfon katanya dia pengen makan seblak, dia bilang gitu ya aku jadi pengen juga. Adahal ak baru aja nyampe rumah. Dan aku bilang sama. Abang, kalau minta tolong aja dulu sama bang Farid. Kan ada food festival di mall yang kalau dari kantor bang Farid ya lebih deket daripada aku yang udah terlanjur pulang..."


"Emang lo ngomong ada food festival? kayaknya lo nggak ngomong itu deh!" Farid memandang calon kakak ipar yang meeangkap sebagai sahabatnya.


"Masak sih gue nggak ngomong?"


"Lah terus inmi seblak bukan seblak ori punya Mamang?" tanya kalin.


"O-ori k-kok!" ucap Farid.


'Mampus gue!"


"Kok nggak tau food festival? kalau nggak disana, terus beli tuh seblak dimana?" Nova mencecar pacarnya.


Dia lalu meraih bungkusan yang belum dibuang.


"Ori gimana? bungkusnya aja beda!" kata Nova yang membandingkan seblak miliknya dengan seblak yang dibeli Farid.

__ADS_1


"Pas dicoba! gilaaaakkk ini mah mau ngebakar mulut kita pakai kencurrrr!" Nova pun kelabakan minta minum.


Jadi bukan lidah Kalin yang eror, tapi tuh seblak yang emang nggak ada enak-enaknya sama sekali. Berbeda dengan seblaknya Mamang Rafael yang asli. Akhirnya mau nggak mau, Farid pun ngaku, bagaimana dia mendapatkan seblak laknat itu.


"Lo pengen bikin istri dan anak gue keracunan apa gimana, Bahlul?"


"Anak?" Farid mengernyit.


"Ya anak gue!"


"Itu Nova adek lo bukan anak lo! pikiran lo kayaknya agak geser ya? apa karena kepala lo yang katanya benjol itu? makanya lo udah nggak bisa bedain mana adek mana anak?"


Raksa menunjuk Kalin, "Di dalam situ ada anak gue! Kalin lagi hamil!"


"Wah beneran? jadi bentar lagi gue jadi Om, dong?!!"


"CA-LON OM! MASIH CALON!" Raksa meralat ucapan Farid.


"Selamat ya! semoga anak itu nggak mirip sama bapaknya?"


"Sembarangan kalau ngomong! anak gue ya mirip gue lah!" Raksa nggak terima.


"Ya mending mriip Kalin. Kalau mirip lo, udah pasti ancur kelakuan yang ada!" ucapan Farid sontak membuat Nova dan Kalin tertawa.


Kayaknya sehari aja tanpa ada ribut-ribut di telinga, rasanya nggak bisa. Malam itu Kalin akhirnya bisa mneuruti ngidamnya berkat Nova yang membawakan makanan yang diidam-idamkan Kalin sejak tadi. Berikut dia menikmati milkshake yang membuat perutnya semakin kenyang.


"Makasih ya, Nov! lo emang adek abang yang bisa diandalkan!" kata Raksa.


"Nggak salah abang sering transfer uang jajan!" lanjutnya sambil melirik Farid.


"Ya kan salah loi sendiri nggak ngasih tau tempat yang tepat itu dimana! jadi bukan salah gue dong kalau gue nyuruh staff di kantor yang namanya Rafael suruh bikin seblak! yang penting kan dia bisa jadi Mamang dan jadi masak seblak! salahnya dimana coba?" Farid nggak mau disalahin, padahal dia jelas-jelas salah.


"Tapi nggak gitu juga konsepnya, Bahluuuuuuulll!" Raksa sampai nggak bisa berkata apa-apa lagi.


Dan malam itu, Nova pulang dianter Farid setelah Kalin sudah tertidur dengan pulas karena sudah mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Jadi, kapan abang bisa ngelamar lo, Nova?" tanya Farid pada Nova.


"Kapan ya?" pipi Nova bersemu merah.


"Gue juga pengen punya anak kayak Raksa, keburu ketuaan dan susah buat lari ngejar-ngejar bocah!"


"Diiihhhh, abaaang! kok bahasnya sampe kesitu, malu ah!" Nova mencubit lengan Farid. Mereka ladi di dalam mobil dan kebetulan udah sampe di depan rumah Nova.


"Gue serius banget, nih!"


"Tunggu gue lulus dulu, Bang! gue kerja dan---"

__ADS_1


"Gue keburu tua, Novaaaaaaaa!" Farid dengan gemasnya.


__ADS_2