Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Tamparan Dari Raksa


__ADS_3

"Pait!" ucap Kalin lirih.


Sedangkan Arvin melihat Kalin yang menahan nggak enak di mulutnya.


"Lo nggak kenapa-napa, Lin?" tanyaArvin.


"Ck, nggak apa-apa!" ucapnya sambil mengerjap-ngerjapkan pandangannya.


Kalin udah hilang keseimbangan saat teman-temannya mulai acara bakar-bakaran sambil nyanyi-nyanyi nggak jelas.


"Wow awesome! u are so so awesome, Kalin! (Wow luar biasa! kamu sangat-sangat luar biasa Kalin)" ucap Michele saat melihat Kalin bisa meneguk minumannya sampai habis.


Ternyata yang diminum Kalin itu minuman khusus orang dewasa yang kebetulan yang bawa tuh si Jamet elah, James. Dia yang tadi pidato singkat dan juga pencetut diadakannya summer camp ala-ala bocah kuliahan ini. Dia bawa minuman itu dari rumahnya.


Sedangkan kalin udah mulai kliyengan. Dia pikir dia lagi migrain. Dia ijin mau masuk ke dalam tenda.


"Wait wait! we are just getting started, Kalin! Sit down and enjoy the momment (Tunggu sebentar! Kita baru saja mulai, Kalin! Duduk dan nikmati momment ini!) ucap James yang udah tau kalau Kalin saat ini udah ngambang entah kemana.


"Soryy, James! I've a terrible headache, I need to--- (Sorry, James! Aku sakit kepala hebat, aku butuh---)


"Oke, but after we dance and singing! (Oke, tapi setelah kita menari dan menyanyi)"


"Sorry, I can't... (Maaf aku nggak bisa...)


Dan saat itu Arvin bangkit dan memisahkan antara Kalin dan James.


"James, she is drunk right now! u know I mean...( James, dia sudah mabuk! kamu tau maksudku..."


Sedangkan Kalin udah mulai kliyengan dan pandangannya mulai kabur. Posisi antara James dan Arvin aja ketuker-tuker dimata dia. Beberapa kali dia mengerjapkan matanya, mencoba buat sadar.


"Kenapa jadi bureng kayak gini? tekanan darahku pasti rendah! ah, dimana mamang? dimana mamangku Sayang?" gumam Kalin udah nggak terkontrol.


Akhirnya dengan perdebatan yang alot, Arvin pun berhasil membawa Kalin pergi dari api unggun.


Bukan ke tenda melainkan mendekat ke arah mobil Van, ternyata Arvin punya rencana lain untuk Kalin.


"Loh, loh? kok kita kesini, sih?" Kalin dengan sempoyongan.


"udah kamu duduk disini dulu!"


"Nggak, nggak! gue nggak mau! gue mau pualng. Acaranya nggak asik!


" Kalin bangkit dan  menabrak badan Arvin.


Sedangkan laki-laki itu menangkap badan kalin yang udah limbung.

__ADS_1


"Mas Raksa? Bang? Aa? Udel? Mamang? Hahaha, kenapa kamu ada disini... ehm, maksud gue, kenapa lo ada disini? mau jemput gue? iya? hemm, lutu banget sihhhh?" Kalin seolah melihat seolah wajah Arvin berubah jadi Raksa.


"Siapa Raksa?"


Kalin memeluk dan mendongak, "Hahahah, kamu lucu banget sih kalau dilihat dari sini? tadi? kenapa? kenapa?" Kalin mulai nggak jelas.


"Raksa itu laki-laki yang kemarin sama lo?" tanya Arvin yang memeluk pinggang kalin. rambut panjang kalin menjuntai.


"Kan lo yang sama gue? kok lo amnesia sih? duh, kepala gue sakit nih..." Kalin memegangi kepalanya sambil cekikikan.


"kenapa? lo seneng ya liat gue kesakitan kayak gini?" lanjut kalin.


"Lo udah nggak jelas, Kalin! tapi makin nggak jelas, lo makin cantik!" ucap arvin yang kini semakin mendorong badan Kalin ke arahnya, sedangkan tangannya menahan punggung gadis itu sedangkan jemari tangannya dia selipkan di rambut gadis itu.


Namun sedetik kemudian ketika Arvin memajukan wajahnya, wajah itu kembali berubah menjadi wajah Arvin yang sesungguhnya.


"Arvin? ngapain? lo?" Kalin mendorong dada arvin dengan tangannya.


"bukannya lo yang meluk gue? bukannya lo juga suka sama gue, Kalin?" ucap Arvin yang sengaja bikin kalin bingung.


"Arrgh!" kalin memberontak saat Arvin mendekatkan wajahnya.


Sraakkk!


Sraaakkk!


Sura pukulan yang mendarat tepat di wajah Arvin. Sementara Kalin terdorong jatuh dia hanya bisa melihat dua orang berkelahi.


"Breng-sek!" teriak Raksa. Mereka nggak ada yang misahin karena di api unggun itu semua orang udah dibawah pengaruh minuman setan.


Sedangkan Arvin yang sadar, memegang sudut bibirnya yang berdarah.


"APA YANG LO LAKUIN SAMA ISTRI GUE BRENG-SEK?!!" Raksa mencengkram kerah baju Arvin.


"Gue ngelakuin apa, hah? kalin yang deketin gue, ngerti? lagian sejak kapan dia jadi istri lo? kalau halu nggak usah kebablasan, Bro!" ledek Arvin.


Bugh bugh bugh!


"Raksa membalas ucapan Arvin dengan pukulan. Mereka berdua saling menghajar satu sama lain. Sedangkan kalin melihat suaminya usdah datang.


"Bang? eh, Mang? yang?" ucap kalin yang kini mencoba buat bangkit. dia mendekat pada Arvin.


"Lo liat sendiri, kan?" Arvin mencibir Raksa saat Kalin salah mengenali orang.


"SINI KALIN!!" bentak Raksa.

__ADS_1


Lantas....


PLAKKK!


PLAKKK!


Dua tamparan berturut-turut dia layangkan kepada dirinya sendiri.


"SADAR KALIN? INI GUE RAKSA?!!" ucap Raksa yang kini pipinya memerah karena tamparannya sendiri. Dia ingin menampar Kalin, namun tangannya nggak kuasa melakukan itu. Dia menampar dirinya sendiri buat Kalin supaya sadar kalau dirinyalah Raksa yang asli.


Kalin seketika mengelus wajah raksa yang sangat frustasi, "Jadi ini suami gue? malaikat pelindung gue? hemmm?" ucapnya dengan senyuman dn mata yang sayu.


"Lo udah nggak karuan! mending kita pulang sekarang!" ucap Raksa.


Namun cup!


Kalin berjinjit dan mencium pipi suaminya, "Akhirnya kamu dateng juga, aku udah nungguin lamaaa banget?!" ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Sedangkan nafasnya ngos-ngosan akibat menghajar salah satu teman Kalin.


"Jangan harap lo bisa deketin Kalin! dia milik gue dan selamanya jadi milik gue, ngerti?" Raksa menunjuk Arvin dengan telunjuknya.


"Ayo, Kalin. Kita pulang!" ucap Raksa yang bawa Kalin gitu aja dan nggak ngurusin soal barang bawaan kalin yang lain. Sedangkan Arvin yang kalah telak menendang batu yang akhirnya mengenai salah satu temannya yang udah ngorok.


"Arrrghhh, sial gue gagal?!! siapa dia sebenernya?! kenapa pukulannya begitu kuat?! hampir saja tanganku cedera," gumam arvin.


Kemudian dia menggunakan hapenya buat menelepon seseorang.


"Halo, Bos!! maaf, kali ini saya gagal! saya akan atur waktu lagi untuk menghancurkan gadis itu!" ucap Arvin dengan perasaan yang menggebu.


"Dasar Bo-doh!" umpat seorang pria di balik telepon.


Sedangkan Raksa yang nyetir dengan posisi stir di kiri pun agak kewalahan, dia jujur belum terbiasa. Sekarang dia berusaha membuat mobil ini terus bergerak. Apalagi, tangan kalin terus saja menyisir pipinya.


"Ck, Kalin?!! lo bisa diem sebentar nggak? gue lagi nyetir!' Raksa berusaha menyingkirkan tangan Kalin yang udah kemana-mana, bikin dia cenat-cenut nggak karuan.


"Astagaa, Kaliiiin! lo duduk aja yang bener Kalin?!!" seru Raksa lagi, tapi yang dimarahin malah ketawa-ketawa sekarang dia menggaruk-garuk kaca, kayak lagi kesurupan siluman onyet.


"Ya ampun, coba aja mobil yang pertama gue sewa tadi nggak mogok. Nggak mungkin gue bakal telat kayak gini, hampir aja istri gue dalam bahaya!" ucap Raksa dengan wajah yang nggak kalah babak belur.


Dia melirik istrinya yang kini membuka  satu kancing blouse yang dipakainya.


"Hey, lo mau ngapain?"


"hahaha, kenapa? apa cuma lo yang boleh ganti baju sembarangan?" tanya Kalin yang kini terbahak-bahak.

__ADS_1


"Nggak bisa nih gue nyetir sampe ke rumah!" ucap Raksa, yang kemudian membelokkan mobilnya ke suatu hotel.


__ADS_2