
Setelah malam jumat yang membingungkan itu, paginya Raksa berangkat kerja seperti biasa. Namun nggak dengan Kalin. Dia lagi melewati masa tenang, yang artinya para siswa disuruh belajar di rumah. Sedangkan gurunya pada riweuh ngurusi ujian.
Raksa juga mencoba buat menerima segala takdir yang sedang bekerja di hidupnya saat ini. Tawaran untuk bekerja dengan calon ayah mertuanya belum diiyakan pria itu. Menurutnya, meskipun hanya staff biasa tapi itu hasil kerja kerasnya nggak ndompleng atau pansos dari kehebatan seseorang. Naif sih, tapi pria itu memang punya prinsip yang sulit digoyahkan.
'Kalau kamu sudah berpikir, beritahu Om! saat itu juga Om akan beri kamu posisi yang penting!' ucap ayah Diki setelah acara jamuan tamu di pesta pertunangan Raksa dan Kalin semalam.
Raksa masih kebayang ucapan ayahnya Kalin saat itu, tapi sekarang dia berusaha untuk tetap bekerja sebaik mungkin. Mungkin kebetulan atau nggak, sejak semalam itu juga pak Tomi jadi bersikap lebih baik dari sebelumnya.
Kotak makanan yang dua hari kemarin selalu ada di meja Raksa, hari ini juga ada dengan warna kotak yang berbeda.
"Siapa sih yang naruh kotak makanan ini? mau ngasih kok versi misterius kayak gini. Kan kesannya malah nakutin!" Raksa yang tadinya selalu mengabaikan kotak itu, lantas meraihnya dan mencoba membukanya.
Hmmmmmm.
Bau harum tercium ketika kotak makanan itu dibuka. UIntungnya dia udah sarapan jadi, seharum apapun makanan yang ada di hadapannya, dia nggak tergiur.
Raksa menutup kotak makanan itu lagi.
Plakk!
Satu tepukan di bahu Raksa.
"Gila lo yaa? ck ck ck, tunangan nggak ngundang-ngundang!" kata Farid nunjukin screen shoot-an statusnya pak Tomi yang disitu ada Raksa dan juga cewek yang berdandan sangat cantik.
Raksa menaruh telunjuknya, "Shhhuuttt! jangan keras-keras!"
"Jadi bener kan? orang yang pakai jas ini lo?" Farid melanin suaranya.
Raksa nganggu, "Ya, tapi kita dijodohin! pokoknya ceritanya panjang dan gue minta lo nggak usah ember!"
"Lah emang kenapa? bukannya bagus ya? berarrti kan lo laku cepet?!! atau ada gebetan yang lagi lo incer disini? siapa, siapa hemmm siapa? gue kenal nggak?" Farid ngelantur.
"Ngawur banget ik! bahlul emang!" Raksa nepuk angi, dia kembali fokus pada komputernya.
__ADS_1
Srettt!
Sesaat dia memutar kursinya dan menghadap Farid yang masih berdiri disana, "Oh ya, gue mau nanya. Lo yang nyuruh si Pay nganterin roti sama soy milk?"
"Soy milk?"
"Susu kedeleee, susu kedele versi mahal namanya soy milk!" Raksa negesin.
"Udah dua kali si Pay bawain gue soy milk dan dia bilang itu dari lo!" pria itu sedikit mendongak supaya bisa ngeliat ekspresi wajah Farid.
Alis tebal pria itu bertaut, "Nggak! ngapain gue kirimin lo? mending gue ngirimin Tania keles!"
Deg!
Hati raksa tiba-tiba ngerasain sesuatu yang nggak enak.
"Oh ya, waktu itu lo WA kan ya? lupa gue mau bales, sorry ya! terus udah lo minum itu susu keledai?"
"Ke-de-leiĀ bukan keledai!" Raksa sinis.
"Mungkin dari penggemar rahasia lo, Sa!" pria jangkung itu nambahin.
"Betewe selamat yah! jangan lupa makan-makan nanti malam, gue langsung reservasi di tempat biasa nih! tagihannya gue kirim nanti!" Farid dengan entengnya, lalu pergi ke meja kerjanya sendiri, meninggalkan Raksa yang mengumpatnya dengan kata-kata andalannya,' Bahlul ente'
Sementara di sisi lain, ada Reno yang lagi di rumah tapi pikirannya tertuju pada sang pacar yang seakan ditelan bumi, nggak ada kabar sama sekali.
"Apa dia lagi ke luar negeri?" Reno bergumam.
didalam hati ada pergolakan batin, setelah abangnya bilang kalau ada apa-apa, dia boleh minta tolong pada abangnya itu.
Reno mengambil barang yang ada di kolong meja belajarnya, "Apa gue harus balikin? gue yakin bang Arkan udah liat ini,"
"Tapi gue kan nggak minjem duitnya si Melody. Ini baju dikasih, bukan gue yang minta!" Reno menaruh papper bag itu di atas kasurnya.
__ADS_1
"Apa gue samperin ya? iya kalau dia ke luar negeri, kalau dia sakit? kan kasian! apalagi bentar lagi ujian, jangan sampai atm berjalan gue yang kedua nggak bisa lulus gara-gara nggak ikut ujian!" Reno yang sesaat kemudian bangkit dan mulai ganti baju.
Dia mendorong papper bag dari sebuah brand ternama itu masuk ke tempatnya semula, kolong belajar milik Reno. Setelah itu dia menyisir dan menta rambutnya sebelum dia pergi menggunakan motor.
"Mau kemana dia? bukannya dia harusnya belajar?" ucap bu Rini saat melihat Reno pergi tanpa berpamitan padanya.
Sepanjang perjalanan, Reno masih mikirin kenapa Melody tiba-tiba menghilang. Ada masalah apa, apalagi hari ini semua murid diliburkan jadi tambah-tambah Reno nggak bisa ketemu cewek yang baru menjadi pacarnya beberapa hari yang lalu.
Pikirannya berhenti berkelana saat dia sudah berada di depan sebuah rumah mewah dengan pagar tinggi yang menjulang. Reno turun dari motornya. Dan mulai memencet belnya.
"Siapa?" tanya seorang pria dari sebuah mesin penjawab.
"Saya Reno, temannya Melody. Apa Melody ada di rumah?"
"Ketemu sama Melody" tanya pria itu.
'Sama majikan kok manggilnya langsung nama?! beneran nggak sopan! bener kata Melody, yang kerja disini orangnya beneran nggak menghargai dia!' batin Reno.
"Mau apa ketemu sama Melody? Melodynya lagi pergi ke pasar!" kata pria itu.
'Ke pasar? maksudnya ke supermarket kali?! dasar kampungan! supermarket aja bilangnya pasar, bener Melody gedeg sama pemabntunya, sekelas satpam aja ngeremehin dia. Walaupun di rumah nggak ada orangtuanya kan, minimal mereka harus menghargai Melody sebagai anak majikan?!' Reno gedeg sendiri.
"Terus? pulangnya jam berapa?"
"Paling bentar lagi, tunggu saja disitu! dan jangan pencet bel lagi!" hardik si satpam.
"Astagaaa, bener-bener satpam kurang ajar!" gumam Reno, dia memandang pagar itu dengan kesal.
"Dia nggak tau apa? gue ini pacar anak majikannya! kalau gue udah deket sama ortunya Melody, gue bakal minta mereka mecat nih satpam!" Reno yang kesal balik nangkring di atas motornya.
"Tau gitu gue beli minum dulu sebelum kesini! haus banget lagi!" ucap Reno.
"Apa gue ke minimarket dulu ya? nanti gue balik lagi, siapa tau Melody udah pulang ke rumah?!" Reno pakai helmnya dan pergi dari kompleks perumahan super elit itu. Dia sengaja dikasih kartu akses keluar masuk dari Melody, supaya kalau masuk kagak usah pakai ditanya-tanya satpam kompleks.
__ADS_1
Namun baru beberapa meter memacu sepeda motornya, mata Reno menangkap sesosok yang dicarinya yang lagi naik ojeg dengan keranjang sayur di tangannya," Melody?" mata Reno terbelalak.