
"Uhuuukkk!" Kalin yang disebut pun tersedak.
"Minum, Lin minum!" ucap Nova.
"Ibu sama bang Raksa jangan ribut mulu, itu Kalin makan sampai kesedak!" kata Nova.
"Ibu ini loh main namplek tangan abang! panas ini loh kena air teh!" Raksa nunjukin tangannya yang terkena air panas.
"Habisnya kamu ini kebiasaan, main ambil aja. Udah tau itu minuman punya orang,"
"Masih utuh, Raksa kira nggak ada yang punya," Raksa alesan aja, padahal itu cangkir udah jelas-jelas di samping Kalin. dan emang nih lakik duduknya diantara adiknya dan juga Kalin.
Sementara Kalin minum buat netralisir rasa ingin terbatuk, dia nggak mau ambil pusing dengan perdebatan antara ibu dan anak.
"Kamu nggak makan? ibuk masak capcay goreng kesukaan kamu, loh. Nih ada tempura udang juga,"
"Nggak lah, Buk! Raksa masih kenyang, baru juga makan..."
"Kamu ini loh, ibuk masak susah-susah, kamu malah makan di luar! kayak Nova ini loh, ibuk masak apapun pasti dimakan meskipun sudah jajan yang lain! kamu ini susah banget nyenengin ibuk...." bu Selvy merepet lagi sebelum minum teh hangatnya lagi.
"Raksa sudah kenyang, kecuali Raksa punya perut yang melar kayak karet!" Raksa nyindir orang yang disampingnya.
"Kamu ini..." bu Selvy gelengin kepala. sedangkan Kalin mempercepat makannya, karena dia udah ditunggu bunda. Bunda pasti khawatir kalau dia pulang malam.
"Ajaklah pacar kamu ke rumah, kenalin sama ibuk..." bu Selvy dengan santainya membahas urusan pribadi anaknya.
"Ibuuuk..." Raksa menggeleng pelan
"Kamu ini sudah cukup umur untuk menikah, mau sampai kapan kamu sendirian terus? ya kan, Nov? abang kamu sudah pantes gendong anak?" bu Selvy minta dukungan.
"Beuh, udah pantes banget. Cepetan nikah, biar jangan jadi bujang lapuk kayak kang es kelapa di ujung jalan!" Nova sengaja ngeledek.
"Bukan waktu yang tepat bahasa kayak gini, Buk! Raksa masih muda, masih banyak hal yang pengen dicapai..." kata Raksa.
"Bapak belum pulang?" Raksa ngalihin pembicaraannya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan..." kata bu Selvy.
Raksa cuma nyengir ngeliat ibunya yang keliatan kesel ngeliat Raksa yang selalu menghindar ketika disuruh bawa pacar ke rumah.
'Jadi nih orang udah punya pacar?' batin Kalin.
Kalin yang udah selesai pun meneguk minumannya, dia bertatapan sekilas dengan Raksa yang juga habis minum teh yang tadinya buat Kalin.
"Tante, Kalin sudah selesai. Maaf, sudah sore, Kalin sudah disuruh pulang sama Bunda..."
"Kok cepet banget? sebentar ya..." bu Selvy bangkit dan bergerak ke arah kitchen set. Dia membawa satu bungkusan.
"Ini ada empek-empek, salam buat bunda ya?" bu Selvy ngasih bungkusan itu.
"Kok repot-repot sih, Tante?"
"Iya itu hasil karya tante, semoga enak ya..."
__ADS_1
"Berrarti kalau nggak enak?" serobot Raksa.
"Diam kamu, Raksa!" bu Selvy kesel.
"Sekarang udah sore, mendingan kamu nganterin Kalin. Kasian dia, kalau naik ojeg. Takut juga ada apa-apa di jalan..." lanjut bu Selvy.
"Emang ada apa di jalan?" Raksa nanya lagi.
"Pokoknya kamu anterin!"
"Nggak usah, Tante. Kalin bisa pulang sendiri..."
"Anterin, Bang! takutnya Kalin nggak nyampe rumahnya malah mampir ke tempat laen, lagi menggalau soalnya..." Nova keceplosan.
"Ayooo! berdiri!" bu Sevy maksa.
"Raksa baru juga pulang, Buuuk!" badan Raksa yang jangkung dipaksa berdiri oleh ibunya.
"Tante Kalin pamit, Novaa gue pulang duluan..." Kalin melotot ke arah Nova yang ember bocor.
Karena paksaan dari ibunya, akhirnya Raksa pun keluar lagi dia ngeboncengin si Kalin.
Dan seketika, Wuzzhhhh!!
Raksa memacu motornya yang nukik bagian belakangnya, "Jangan pegangan bagian belakang motor, bahaya!" Raksa ngingetin Kalin.
Dan bener aja, beberapa saat kemudian Raksa selap-selip di jalanan, licin banget kayak belut. lagi naik motor kayak gini, elah dalah si Kalin ngeliat Reno yang boncengan sama Melody, mereka berhenti saat lampu merah. Posisi Reno agak jauh dari Kalin, cuma Kalin yang hafal banget motor Reno, dia yakin kalau sosok yang di depannya ini ya sosok yang udah resmi jadi mantannya.
'Emang kan bener vidio itu, tega banget lo, Ren! kita baru putus, lo udah boncengan sama yang lain...' batin Kalin.
Mata Raksa pun melihat ke arah yang Kalin liat tapi udah keburu lampu hijau, Raksa pun belum menemukan apa yang menjadi pusat perhatian Kalin.
'Astaga, lagian urusan gue apa? mau dia liat apa juga terserah dia, bisa aja tuh bocil lagi ngelamun!' Raksa dalam hatinya.
Sedangkan Kalin yang tadinya udah membaik, jadi galau lagi. Lebih tepatnya jengkel ngeliat Reno yang udah berhasil menggasak duitnya, meskipun dengan dalih pinjam yang nyatanya nggak kunjung dibayar.
'Awas aja lo Reno! gue bakal minta duit gue balik!' Kalin dengan mata yang memanas.
Sedangkan Raksa nggak banyak ngajak ngomong Kalin sampai akhirnya dia sampai di depan gerbang sebuah rumah yang bisa dibilang bagus.
"Udah nyampe..." kata Raksa.
"Eh? gimana?" Kalin gelagapan, dia ngelamun sepanjang perjalanan.
"Udahhh nyampeee," Raksa buka helmnya.
Ntiiin!!!
Ntiiin!!
Suara klakson mobil.
Dan ketika kacanya diturunkan, ada wajah bunda Lia dan ayah Diki yang baru nyampe, mobil mereka terpaksa berehenti karena terhalang motor milik Raksa.
__ADS_1
"Kalin, tolong sekalian bukain gerbangnya ya, sayang?" bunda Lia minta tolong dengan sangat lembut.
Kalin yang masih pakai helm, turun dari motor dan buka gerbang yang dibantu Raksa. Karena lumayan berat juga ngedorong gerbang berwarna hitam itu.
"Bawa masuk dulu aja motornya, Om!" ucap Kalin yang bikin Raksa mendelik.
Raksa yang nyadar mobil dibelakangnya sulit lewat karena terhalang dirinya pun menggeser motornya masuk ke pelataran rumah Kalin.
"Makasih."ucap Kalin pada Raksa yang nyerahin helmnya.
"Ya," sahut Raksa singkat.
Perlahan mobil orangtua Kalin pun parkir. Bunda Lia turun terlebih dulu.
"Ini ojegnya?" tanya bunda yang mendekat ke arah Kalin dan Raksa.
"Ahm, bukan, Bun...." ucap Kalin lirih.
"Ini abangnya Nova, tadi tante Selvy yang suruh abangnya Nova nganterin Kalin..." jelas Kalin kemudian.
"OOhh, maaf maaf, Bunda kira..." Bunda Lia keliatan nggak enak.
Raksa hanya tersenyum, dia turun dari motornya dan menyalami bunda nya Kalin, "Raksa, Tante..."
Ayah Diki pun ikutan turun dan menyusul istrinya, "Masuk, Bun..."
"Ayo, masuk Nak Raksa..." ucap Bunda.
"Siapa, Bun?" ayah Diki mendekat.
"Ini abangnya Nova, temen Kalin, Yah..." Bunda memperkenalkan Raksa pada ayah Diki.
"Tadi Kalin main ke rumah Nova dan dianter balik sama abangnya Nova,"
"Raksa, Om..." Raksa juga menyalami ayah Diki.
"Kalau begitu saya permisi," Raksa menunduk hormat.
"Loh, nggak masuk dulu, Nak Raksa?" tanya bunda Lia.
"Lain kali, Tante...."
"Terima kasih ya? sudah nganterin Kalin..." ucap bunda, sementara ayah hanya diam meskipun juga nggak angker-angker amat pandangannya. Tapi namanya seorang ayah, dia pasti waspada pada siapapun pria yang bersama putrinya
"Permisi..." Raksa kemudian memakai helmnya lagi dan menyalakan mesinnya, dia menunduk sekali lagi sebelum pergi dari sana.
Kalin hanya bisa memandang motor Raksa yang kian menjauh.
"Kok kamu bisa dianter sama abangnya Nova?" tanya ayah Diki.
"Tadi ibunya Nova yang suruh, Yah. Tadinya Kalin mau ngojek, tapi disuruh ibunya Nova dianter sama bang Raksa aja. Katanya bahaya naik ojek, takut kenapa-napa..." jelas Kalin.
"Oh gitu..." Ayah manggut-manggut.
__ADS_1
"Kalian masuklah, biar ayah yang nutup pagar!" lanjut ayah.