Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
TAMAT


__ADS_3

Melihat wajah Kalin yang tegang, dengan bulir keringat yang membasahi keningnya, memvuat Raksa semakin nggak tega.


"Tarik nafas dan dorong sekencang yang kamu bisa...." ucap dokter kandungan yang juga seorang wanita.


Kalin menarik nafasnya dan...


"Arrgghhhhh!!!" dia menegjan sekuat yang dia bisa, sampai terlihat otot-otot di wajahnya yang juga ikut menegang.


"Oeeeeeeeee!!!"


Satu bayi laki-laki lahir.


"Laki-laki!" seru Dokter sambil memperlihatkan satu bayi yang baru saja meluncur ke dunia.


"Kita masih punya satu lagi di dalam!" ucap sang dokter.


"Ayo! tarik nafas lagi dan dorong sekencang mungkin!" kata sang dokter.


Kalin menggeleng, "Aku udah nggak kuat!"


"Jangan bilang kayak gitu, Sayang! kamu pasti kuat!" Raksa yang mengusap kening istrinya, dia mencium ubun-ubun Kalin.


"Kamu pasti kuat, jangan bilang kamu nggak kuat! aku ada disini, Sayang!"


"Ayo, Ibu. Sekali lagi. Lahirkan anakmu satu lagi!" kata dokter.


"Huuufhhh..." Klain menarik nafas dan mengeluarkannya, dia hampir putus asa dengan rasa sakit yang nggak bisa ditahannya.


"Ayo, Ibu. Sekali lagi! begitu rasa mulas itu datang, mengejan sekuat mungkin! anakmu ingin bertemu dengan ibunya...." ucap dokter.


Dan detik berikutnya ada dorongan yang berasal dari dalam perutnya, Kalin sekuat tenaga mengejan.


"Arrrrrrghhhhh! eerrrghhhhh..."


"Oeeeeee!!!" suara tangisan bayi.


"Perempuan!" ucap dokter yang memperlihatkan wajah si bayi kepada kalin.


"Alhamdulillaaaaahhhh! alhamdulilaaaaah, Sayang! kamu hebat! kamu hebat, Kalin!" Raksa nggak bisa menahan tangisnya saat melihat kedua anaknya lahir dengan selamat.


"Silakan, Pak!" ucap Suster pada Raksa.


"Aku adzani anak-anak kita dulu ya, Sayang! aku akan kembali lagi!" kata Raksa.


Seketika Raksa mengabari keluarganya, semua orang pun heboh dan berlomba-lomba untuk datang ke rumah sakit secepat mungkin. Sementara kedua anak kembar Raksa sudah selesai dibersihkan dan diperiksa dokter anak, Raksa pun menggendong satu persatu dan mengadzani anak-anaknya. Dia melihat kedua anaknya secara bergantian.

__ADS_1


"Gue nggak nyangka kalau gue ini udah jadi Bapak!" ucap Raksa bangga.


Sementara Kalin selesai dijahit karena mengalami robekan, Raksa datang dengan membawa dua anaknya yang diantar dengan kereta dorong.


"Sayang..." panggil Raksa.


"Mereka haus!" ucapnya melirirk kedua anaknya yang kini satu persatu mencoba untuk mendapatkan asi pertamanya.


Antara geli dan juga haru, kalin menangis melihat kedua anaknya menempel padanya.


"mereka insya allah akan jadi anak-anak yang sholeh dan sholehah!"


"Mereka itu anak Kalin dan Raksa bukan jadi anaknya soleh dan sholehah!" celetuk Klain.


"Hahhahaha, bukan itu maksudnya, Sayang!" ucap Raksa.


Kalin lalu dipindahkan ke ruang perawatan. dan disana sudah banyak keluarga yang menyambutnya. Bukan hanya dia yang ditunggu tapi kedua anaknya yang lahir dengan selamat pun ditunggu buat digendong.


Semua orang begitu senang sampai mereka nggak sadar kalau mereka semua sudah memakai baju steril dengan penutup kepala beserta segala aksesorisnya karena begitu hati-hati ingin bertemu dengan cucu dan cicit mereka.


"Astagaaa, hidungnya mirip sekali dengan Raksa! macung !" kata bu Selvy melihat cucu laki-lakinya.


"Matanya tajam juga seperti bapaknya?!" kata pak Hendra.


"Cicitku mirip seklai kamu dengan Oma!" ucap Oma Nilam


"Tutup mulutmu Dewangga! mereka akan menangis jika kamu mengatakan hal yang tidak-tidak!" ancam Oma NIlam. Dia melihat bayi perempuan yang digendong bunda Lia.


Tante Atha ikut bahagia, namun sayangnya dia sudah nggak mungkin memiliki anak seperti Kalin. Pak galang tau itu dan dia memeluk pinggang istrinya sambil sesekali mengelus punggung istrinya itu.


dan semua orang pun nggak kuat untuk tidak tertawa. Meskipun Oma dan Kakek sellau bertengkar, nyatanya mereka memiliki kasih sayang yang sama yang mereka gelontorkan untuk kedua putrinya dan juga cucu mereka. Dan kelahiran cicit mereka sangat membuat kakek nenek dan Omanya semakin sehat karena terpacu ingin melihat kedua anak itu tumbuh dewasa.


Sedangkan ada seseorang yang sedang ribut di jalan.


"Ayo cepetan dong, Bang!" ucap Nova.


"Ini juga cepet!"


"Aku pengen liat keponakan!"


"Lah kenapa tadi nggak sekalian sama ibu sama bapak?"


"Aku ditinggal!!!!!!" ucap Nova yang tengah malam dia ditinggal sama orangtuanya yang gugup ke rumah sakit, dan baru memberi tahu Nova setelah mereka sudah setengah perjalanan dan nggak mungkin balik lagi. Makanya sekarang Nova minta dijemput farid, meskipun jam masih menunjukkan pukul 4 subuh.


"Ya sabar kalau gitu dong!" kata Farid yang berusaha melek dan hati-hati dalam berkendara.

__ADS_1


"Ih sebel banget deh gue!"


"Kok sebelnya sama abang sih?" Farid protes, dia aja bela-belain nyetir padahal masih kreyep-kreyep matanya.


"Bukan sama abang tapi sama ibuk. Kok bisa-bisanya dia lupa punya anak yang masih molor!" kata Nova.


"Udah jangan cemeberut terus, nanti cepet tua!"


dan begitu sampai di rumah sakit, Nova nggak mau buang waktu. Dia langsung mengajak Farid naik ke ruang rawat Kalin. Dengan modal telepon dari pasien yang bilang kalau itu adiknya dan sedang disuruh buat membawakan barang penting pun akhirnya Nova diijinkan buat masuk.


Ceklekk!!!


"Tadaaaaa, tante Nova dataaaaang!" seru Nova tanpa tau malu.


Ngik ngok ngik ngok!


Semua orang memandangnya.


Ternyata di kamar itu sedang rame orang memakai baju steril, sedangkan Nova datang dengan hanya memakai kaos dan celana pendek kembang-kembang.


"STOPPPPP JANGAN MASUKKKKKK!!!" teriak para kakek dan nenek serta buyut yang ada disitu.


Sedangkan Raksa dan Kalin hanya bisa menertawakan ekspresi kaget Nova dan Farid yang begitu shock dengan teriakan kompak orang-orang.


"Utututu, keponakan tante Nova yang ganteng dan cantik..." ucap Nova setelah dipakaikan baju steril begitu juga dengan Farid.


"Kamu kapan Nova? ini loh tambahin lagi cucu ibuk!" ucap bu Selvy.


Farid yang dikode calon mertuanya pun langsungĀ  menjawab, "Siap melamar, Bukkk!" Farid dengan lantang.


"Bagus! minggu depan bawa orangtua kamu ke rumah! pacaran jangan lama-lama nanti kesenggol setan!" tantang pak Hendra.


Sedangkan Nova sudah pasti berbunga-bunga. Karena bukan hanya udah diterima kerja di salah satu perusahaan, tapi dia juga sebentar lagi akan dipinang seseorang yang sudah sekian abad menunggunya.


Raksa yang berdiri di samping ranjang Kalin pun nggak menghujani Kalin dengan kecupan di kening, dia mengusap tangan istrinya.


"Maksih ya Sayang! karena dulu kamu memilih aku sebgaai tukang ojeg kamu!" ucap Raksa yang menunjukkan uang 50 ribuan yang waktu itu Kalin selipkan di jaket Raksa.


"Kamu?"


"Uang ini nggak pernah aku pakai! kalau kamu hafal serinya, ini uang yang dulu kamu kasih ke aku..."


"Mas Raksaaa..." Kalin melihat uang itu dengan seksama, meskipun dia nggak yakin uang itu sama atau nggak, yang jelas dia pun mensyukuri pertemuannya dengan Raksa.


"Makasih udah mau menemani dan mencintai aku, Mas!" ucap kalin.

__ADS_1


"Selalu, sayang! sampai kita tua dan nggak akan bisa dipisahkan meskipun maut yang datang sekalipun!" ucap Raksa, dia memandang istrinya dengan tatapan penuh cinta.


TAMAT


__ADS_2