
Kalin sampai di rumahnya, dia langsung kembali ke kamarnya yang di atas. Dia minta sama mbok Sinah buat beresin dan buangon itu bunga-bunga.
"Mbok, kalau bunda tanya, bilang aja kalau Kalin udah pulang dan udah makan. Kalin lagi nggak enak badan, pengen istirahat aja di kamar!" ucap Kalin dengan wajah yang lesu.
"Kenapa lagi mbak kalin? nggak biasanya mukanya begitu..." gumam si Mbok yang melihat Kalin naik ke lantai atas dengan langkah yang gontai.
Sementara waktu terus belanjut, sampai akhirnya makan malam pun tiba. Bunda yang udah dapet laporan dari mbok kalau Kalin udah pulang dan udah makan pun, malam itu ingin menengok anaknya. Barngakali Kalin butuh dibawa ke rumah sakit, kata mbok Sinah soalnya Kalin keliatan loyo banget.
Tapi ketika mau jalan ke kamar anaknya, ada suara bel. Dan ternyata itu menantunya yang datang dengan dua koper besar. Ada apak hendra juga. Alhasil mereka berempat mengobrol sampai malam. Biasalah kalau oam Hendra ketemu ayah Diki, pasti ada aja yang diobrolin, Raksa aja sampai ngantuk dan keliatan capek banget.
"Kalau kamu capek, kamu naik aja ke atas, Sa! katanya Kalin sudah balik lagi ke kamarnya," ucap ayah Diki.
"Tapi inget janji kamu sama ayah, Ya?" lanjut pria itu.
"Janji apa emangnya?" bapaknya Raksa pun kepo.
"Jangan bereproduksi dulu selama Kalin kuliah di luar," kata ayah Diki.
"Wah wah wah, ck! kalau itu kayaknya berat, Dik! apa lagi penganten baru," ucap pak Hendra yang sedang memperjuangkan hak anaknya.
"Hahahahahahaha!"
Ayah Diki ketawa, Raksa pun bingung.
"Apanya yang lucu, Yah?"
"Ya gimana nggak lucu. Orang anakmu sendiri yang menyetujui perjanjian itu, saking dia pengen kalau Kalin bisa kuliah di luar. Padahal aku sebagai senior jelas sudah pah, kalau itu pasti sulit. Tapi itu semua sudah kesepakatan aku dan Raksa dari awal, Hen!"
"Sudahlah, Pak! jangan bahas ini terus," kata Raksa yang makin dibahas malah makin kepikiran.
"Aku ke atas dulu, Yah?! udah ngantuk berat!" kata Raksa.
Sedangkan Raksa bisa mendengar celotehan bapaknya dan ayah Diki.
"Kamu ini gimana, Dik? bolehin sekamar tapi nggak bole reproduksi? astagaaa, malang sekali anak itu?!" ucap pak Hendra yang masih aja ngobrolin soal anaknya.
"Dibilang jangan dibahas lagi juga," Raksa geleng-geleng kepala.
Sedangkan Bunda sudah tidur, berhubung besok weekend, jadi ayah dan pak Hendra senfaja tuh mau ngobrol semalam suntuk sampai nanti ada telpon dari Bu Selvy yang ngomel-ngomel karena lewat hape, baru tuh pak Hendra bakalan pulang. Tapi sebelum itu, jangan harap dia beringsut dari tempat duduknya saat ini.
Sementara Raksa dengan hati-hati angkat dua kopernya meuju sebuah kamar. Raksa perlahan, dan benar itu kamar Kalin. Padahal ayah belum ngasih tau dimana kamar Kalin, tapi beruntung sekali buka Raksa tepat menebaknya.
__ADS_1
Dia membuka pintu perlahan, memasukkan kedua kopernya ke dalam. Lalu dia menutup dan mengunci pintu.
Hawa anak gadis langsung menguar dengan situasi kamar yang cewek banget. Banyak ornamen-ornamen lucu seperti karpet bulu yang empuk, yang menambah nilai keunyuan kamar ini.
Raksa mulai mendekat tampa suara. Dilihatnya Kalin terbungkus selimut, matanya memejam
Diusapnya kening gadis itu, lalu dia duduk di bawah sambil tangannya mengelus kening berlanjut ke pipi.
"Susah banget dihubungin? lo lagi kenapa, sih?" tanya Raksa.
Raksa duduk di bawah sambil terus membelai wajah cantik itu.
"Gue khawatir, tau!" ucapnya. Kali ini dia menyentuh bibir tipis itu.
Entah dorongan darimana, Raksa kemudian menyapu bibir tipis itu menggubakan bibirnya. Dia mencium istrinya sembari terus mengelus pipi Kalin.
Namun Kalin yang lagi tidur, dalam mimpinya dia sedang di sosor belut yang hampir saja menerobos mulutnya.
"Buun?! beluuut, buuun! Ihhhhh," Kalin Reflek mendorong belut itu, dia ngusap bibirnya jijik.
Namun kenyataannya, yang dia sangka belut itu bukan belut yng sebenarnya. Tapi bibir Raksa yang sedari tadi menciumnya.
"Awwwwkkkhhh!!!" Raksa mengusap pinggangnya.
Dia hanya bisa nemekik pelan, takut kalau suaranya memancing kedatangan mertuanya yang ada di lantai bawah.
"Astagaaa, ngimpi sih ngimpi. Tapi nggak gini juga kali,"
Raksa pun bangun dan naik kembali ke atas ranjang. Baru juga rebahan, Raksa mikir lagi.
'"Ntar kalau dia bangun terus ada gue disini, yang ada dia teriak kaget. Mending gue tidur di karpet aja," Raksa pun bangun dan mengambil bantal untuk mengalasi kepalanya.
Raksa melipat tangannya di depan dada, dia tidur miring berharap mengusir hawa dingin malam itu.
Kalin yang tidur lumayan lama, dia tiba-tiba kebangun karena pengen ke toilet. Dengan mata yang kreyep-kreyep, dia banngun dan pergi untuk menuntaskan keinginannya. Dia belum menyadari ada orangblain di kamarnya, karena Kalin menelusup kembali ke dalam selimutnya.
Jam 3 pagi, Raksa bgerasa kalau malam semakin dingin, dia yang setengah sadar pun tiba-tiba bangun dan bergerak ke arah tempat tidur.
Dia masuk ke dalam selimut hangat dan memeluk Kalin dari belakang yang dia anggap bantal guling.
Tangannya melingkar di perut istri kecilnya, sedangkan wajahnya merangsek ke perpotongan leher gadis yang juga masih dikuasai rasa ngantuknya.
__ADS_1
Dan pagi harinyaa...
"Aaaaaaakkk!" Kalin mendorong dada Raksa yang mendekapnya dari depan.
"Ngapain lo kesini?" Kalin mencoba melepaskan diri dari suaminya yang masih merem.
"Berisik banget sih bantal gue?!" gumam Raksa yang ogah ngelepasin Kalin yang dia anggap bantal guling.
"Iiihhhh," Kalin berusaha berontak. Tapi Raksa malah menguncinya dengan kaki. Mirip orang meluk bantal guling super empuk dan nyaman.
Kalin yang dipeluk dan nggak bisa bergerak, melotot saat bibir pia itu menempel di bibirnya. Raksa nampaknya sedang bermimpi.
"Emmph!"
Kalin berusaha mendorong Raksa dengan sekuat tenaga, saat pria itu nggak kunjung melepaskannya.
Hyaaaakk!!
Kalin menendang dan mendorong Raksa
"Awwwwkkkhh!" pria itu memekik saat dengkul Kalin nggak sengaja mendendang aset berharganya.
"Aaawkkk, lo kenapa gue ditendang, sih?!! sshhh, sakit tau!!"
"Pakek nanya kenapa? kenapa lo tiba-tiba ada disini? seranjang sama gue?!" Kalin yang seketika meraih bantal untuk menjarak tubuh mereka.
"Seranjang gimana sih? orang gue tidur di bawah!" ucap Raksa yang kemudian menyadari ada yang salah.
"Loh? kenapa gue ada di sini? kan gue tadi tidur di karpet?!" Raksa bingung sendiri.
"Tidur di karpet?" sindir Kalin.
"Iya, tidur di karpet! beneran gue nggak bohong!"
"Terus kenapa bisa disini karena diangkat setan??" Kalin kesal.
"Gue masih ngantuk. Gue mau tidur, jadi tolong keluar dan tutup pintunya jangan lupa!" Kalin mencoba menata kembali bantalnya dan memposisikan diri.
"Tunggu apa lagi?" Kalin yang udah tiduran, dua mengusir suaminya.
"Tanggung?!" Raksa menelusup ke dalam selimut dan memeluk Kalin lagi. Kali ini lebih posesif.
__ADS_1