
Terjadi pertarungan diantara mereka. Erlangga tidak ingin terus-menerus menjadi beban untuk mereka. Dia merasa sejak pertarungannya dengan sosok misterius waktu itu tubuhnya semakin lemah. Ia sangat merindukan dirinya yang dahulu. Ia merasa gagal menjadi seorang pendekar jika harus terus-menerus dibantu, apalagi yang membantunya adalah wanita.
Walaupun ia sendiri sangat berterimakasih karena itu, tapi ia tidak menyangkal kalau dirinya juga kesal. Ada saatnya saat memikirkan hal itu, ingin rasanya hidup segera berakhir secepat mungkin. Ia tidak menemukan kegunaan dirinya terus hidup di muka bumi ini.
Kali ini, ia berharap ia bisa menghadapi lelaki misterius yang berada di depannya itu dengan seluruh tenaganya. Ia sebenarnya telah bersiap untuk mati saja. Dirinya benar-benar telah pasrah dengan segala yang telah terjadi.
"Dengan kondisi yang seperti itu, sampai kapan kau bisa bertahan?" tanya pria itu dengan nada suaranya yang sangat menganggap enteng lawannya.
"Kau telah terkena aji serat lumpuh, tubuhmu itu perlahan akan terus melemah. Aku tahu siapa yang telah membuatmu begitu, pasti pendekar bertopeng perak kan? Kalau kau mau menyerahkan kedua gadis itu aku akan memberitahumu siapa pendekar bertopeng perak itu .Aku bahkan bisa memberikan penawarnya," lanjut pria itu .
"Tidak akan!" walaupun sudah diberi iming-iming yang terlihat cukup menggiurkan, Erlangga tidak peduli. Mati sekalipun ia takkan menyerahkan keduanya. Dengan gerakan membabi buta ia menyerang. Kali ini gerakannya sedikit tidak beraturan.
"Katakan siapa pendekar bertopeng perak itu!" Dewi Ratih saat mendengar lawan mengetahui mengenai pendekar itu langsung maju dan bertanya dengan gerakan kuda-kuda yang sangat indah.
"Tidak semudah itu cah manis, kalau kau mau tahu maka kau harus merelakan tubuhmu yang indah itu ku miliki," kata pria itu.
Dewi Ratih tak berkata apa-apa. Tanpa aba-aba ia langsung menyerang lawan. Ia merasa marah dengan ucapan yang baru saja ia dengar . Erlangga juga melakukan hal yang sama. Pertarungan sengit terjadi di antara mereka.
Saat melihat Erlangga mulai terpojok, Laksminingrum ikut maju . Ia tak ingin Erlangga terluka walaupun ia sendiri tak tahu permasalahan yang terjadi. Selama ini ia sendiri dalam perjalanan yang tanpa tujuan dan tiada berujung. Ia harap walaupun sebentar ia bisa merasakan bagaimana rasanya mempunyai teman.
Tinggal di hutan dalam waktu yang lama ternyata membuat Laksminingrum ingin juga merasakan punya teman . Selama rentang waktu yang lama ia hanya mengobrol dengan gurunya saja, walaupun kadang ia juga mengobrol dengan teman sebayanya saat gurunya membawanya pergi ke desa terdekat untuk suatu keperluan.
__ADS_1
Baru kali ini merasakan mendapatkan teman yang benar-benar ia anggap teman. Ia tidak ingin kehilangan teman terdekatnya, oleh karena itu ia akan mencoba menolong Erlangga. Ia tak ingin kehilangannya apapun alasannya.
"Kuat juga kamu, tapi tetap saja kamu seorang wanita. Kekuatanmu takkan sebanding denganku," saat merasa terpojok pria misterius itu tetap dengan kesombongannya.
Laksminingrum menjawab kesombongan itu dengan membuka sarung pedangnya. Saat keduanya perlahan terpisah, cahaya yang sangat terang keluar dari pedang itu. Cahayanya seperti mentari yang bersinar dengan teriaknya. Melihatnya pria itu sedikit gentar, walaupun perasaan itu dicoba untuk dihilangkan tapi saja tidak bisa.
Dengan putus asa, ia menghujaninya dengan panah seperti pada awalnya kemunculannya. Bedanya, yang sekarang dia memanah dengan perasaan putus asa. Saat panahnya tidak mampu menahan pedang itu, ia yang menyadari bahwa riwayatnya akan tamat langsung pergi dari sana. Ia tak peduli jika dirinya menjadi pengecut demi nyawanya tidak melayang.
***
"Untung saja aku kabur, jika tidak pasti aku akan mati. Dasar pedang sialan , rupanya dia masih ada. Lain kali pedang itu bakal ku rebut," setelah dirasa cukup jauh dari tempatnya tadi bertarung ia bergumam sendiri. Nampaknya ada sesuatu hal yang pernah terjadi dahulu. Pedang yang telah lama tidak menunjukkan wujudnya itu terasa sangat dikenal olehnya.
Segala usaha yang ia lakukan waktu masih muda dulu sia-sia. Pemilik pedang terdahulu yang merupakan guru dari Laksminingrum itu menghilang jejak. Tak ada satupun pendekar yang mampu melacak keberadaannya.
Walaupun tadi ia menyerang karena tergiur oleh kecantikan kedua wanita itu, tapi ia kali ini bisa menemukan apa yang sudah ia cari selama ini. Tapi kalau sendiri rasanya tidak mungkin untuk melawannya. Walaupun yang memegang pedang itu sekarang adalah seorang wanita, namun gerakannya luar biasa . Bagaimanapun pemilik pedang itu adalah orang-orang yang punya ilmu bela diri yang cukup sempurna.
Ia tak ingin dirinya terluka , tapi dia tak rela jika harus mencari sekutu. Ia takut nanti sekutunya yang akan mendapatkan pedang itu. Dan mungkin saja setelah itu ia langsung dibunuh. Jika itu sampai terjadi maka usahanya akan benar-benar sia-sia.
***
"Dia kabur, apa kita harus mengejarnya?" Setelah melihat musuhnya lari, Laksminingrum berkata sambil menyarungkan pedangnya lagi.
__ADS_1
"Tidak perlu. Biar saja dia kabur," Erlangga berkata.
"Tapi kurasa kita harus mengejarnya. Dia tahu sesuatu mengenai pendekar bertopeng perak yang waktu itu menyerang kita!" Dewi Ratih tidak sependapat dengan Erlangga.
"Tidak perlu. Nanti juga kalau dia butuh bakal datang sendiri. Untuk apa mengejar lawan yang sudah pergi? Toh kita tak tahu mengapa dia menyerang kita," jawab Erlangga.
"Tapi...."
"Tidak ada kata tapi. Melewati lembah Kematian sebelum malam tiba. Ingat, kita tidak boleh melewati lembah itu saat malam hari. Para iblis dan siluman yang berada di sana sedang berkeliaran. Resiko yang kita hadapi akan jauh lebih besar!" Erlangga berusaha menjelaskan mengapa ia tidak memperbolehkan mereka mengejar pria misterius yang tidak jelas juntrungannya itu.
"Baiklah kakang. Kita harus secepatnya melewati lembah itu sebelum hari gelap," Dewi Ratih mulai paham dengan perkataan Erlangga.
Perjalanan di mulai, lembah yang hijau itu memang nampak indah.Namun dibalik itu semua, dia tak seperti kelihatannya. Banyak binatang buas di sana. Selain itu di sana juga terletak beberapa istana siluman.
"Boleh aku bertanya?" Saat di perjalanan Laksminingrum berkata.
"Tanya apa?"
"Pendekar topeng perak yang tadi diucapkan oleh pria tadi itu apa hubungannya dengan kalian?"
"Entahlah. Kami merasa tidak punya masalah dengan pendekar lainnya karena waktu kami habis di padepokan. Mungkin ia musuhnya guru kami. Dalam dunia persilatan bukankah membalas dendam adalah hal yang sangat wajar?"
__ADS_1