
"Setelah menemukan jati dirimu, apa yang akan kau lakukan ?" tanya Dewi Ratih saat mereka sedang beristirahat di bawah sebuah pohon.
"Aku tidak tahu. Yang pasti aku mungkin akan menemui guruku terlebih dahulu. Aku sudah berhari-hari meninggalkannya. Aku sangat rindu kepada guruku. Kamu setelah selesai belajar dengan gurumu apa yang akan kamu lakukan?" Laksminingrum bertanya kembali. Sebenarnya ia masih canggung mengajak wanita yang tadi tiba-tiba menyerangnya tadi itu mengobrol.
"Aku ingin menjadi panglima perang. Walaupun kata orang jabatan itu hanya cocok bagi pria tapi aku ingin sekali. Ayahku dulu adalah seorang panglima dan aku pasti bisa menjadi panglima perang juga. Aku ingin bertarung melawan penjajah . Negeri ku adalah jajahan sekarang, Ayahku mati sebagai pahlawan saat itu. Aku tahu , bahaya itu pasti akan selalu ada. Tapi aku sudah membulatkan tekadku," jawab Dewi Ratih. Matanya sedikit memancarkan kesedihan yang dalam, tapi optimisme dalam dirinya lebih kuat.
"Siapa yang menjajah?"
"Kami di jajah oleh negeri Simbaran , Rajanya bernama Pancadnaya. Dia adalah Raja yang haus kekuasaan. Suatu saat aku pasti akan bisa membalas segala perbuatannya. Aku berjanji, dengan tangan ini," Dewi Ratih mulai berbicara mengenai Negerinya. Nampak dengan jelas ada kemarahan yang amat sangat. Di sana juga terlihat ada kesedihan yang sangat mendalam.
"Aku mengerti perasaanmu. Boleh aku tanya sesuatu? Tapi aku harap kamu tidak tersinggung."
"Apa?"
"Kamu menyukai Erlangga kan?" Tanpa perlu menahan diri lagi Laksminingrum berkata.
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Kamu tadi menyerang ku karena kamu cemburu kan aku bersama dia?"
"Mau bagaimanapun juga hubungan kami tidak akan lebih dari persaudaraan . Dia adalah kakak yang baik untukku, kalau dia suka dengan orang lain selama dia bisa bahagia aku juga bahagia," jawab Dewi Ratih.
"Setelah ini kita akan melewati lembah Kematian. Katanya semua orang yang lewat sana tidak akan kembali lagi. Aku penasaran, tapi katanya di sana ada siluman pemakan daging manusia," Lanjut Dewi Ratih.
"Benarkah itu?"
"Tidak mengapa. Buah-buahan juga bagus untuk kesehatan," jawab Dewi Ratih .
"Kalian tidak berkelahi kan?" tanya Erlangga memastikan.
"Tidak. Kami sudah berdamai."
__ADS_1
"Syukurlah.
Saat Erlangga hendak duduk, tiba-tiba saja sebuah anak panah datang dan hampir mengenai dirinya. Walaupun terkejut tapi ia masih bisa menghindari panah itu.
"Hei! Siapa yang memanah ke sini? Tunjukkan batang hidungmu kalau kau memang berani!" Sambil berteriak Erlangga terlihat marah.
Selesai ia berkata, panah datang bertubi-tubi menuju ke arahnya. Ia jadi semakin marah. Setelah selesai, dari balik semak yang cukup lebat muncul seorang pemuda dengan panah di tangannya. Ia muncul dengan kain yang menutupi sebagian wajahnya.
"Apa maksudmu melakukan semua ini? Apa tidak ada lagi hewan buas yang bisa diburu hingga kau memanah manusia?" tanya Erlangga.
"Aku cuma kebetulan lewat. Aku bakal memaafkan nyawamu jika kau mau menyerahkan dua gadis itu kepadaku!"
"Mati sekalipun aku tidak akan memberikan keduanya kepadamu!"
"Kalau begitu aku akan merebutnya dengan paksa," jawabnya sambil menyerang Erlangga. Ia bertarung dengan menggunakan busur panah sebagai senjata utamanya. Ia rupanya ingin bermain-main dulu dengan lawannya.
__ADS_1