Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
26. Pemberontakan Telah Dimulai (2)


__ADS_3

Erlangga walaupun tidak bisa menggunakan kekuatannya secara penuh tidak bisa dianggap remeh. Selama bertahun-tahun ia digembleng, ia tak ingin kalah dari Dewi Ratih yang nampaknya amat sangat bersemangat itu.


Dilihatnya Laksminingrum juga tampak bersemangat. Erlangga merasa sedikit gengsi jika kalah dari mereka berdua. Walaupun sebenarnya kalau disuruh memilih ia ingin pergi ke bukit Kinasih seperti yang di wasiatkan oleh gurunya untuk menyempurnakan ilmu yang ia terima . Ia ikut dalam pemberontakan ini aslinya karena dua wanita itu pada awalnya.


Semuanya berubah saat ia melihat sendiri bagaimana negeri yang dipijaknya itu seperti mendekati kehancuran. Rajanya juga semena-mena terhadap rakyatnya. Benar-benar tidak bisa dibiarkan begitu saja.


Dia bertarung dengan tubuh yang masih terbelenggu oleh ajian serat lumpuh akibat bertarung dengan seorang pendekar misterius yang sama sekali tidak ia kenal. Sejak saat itu, tubuhnya terasa tidak sekuat yang dulu. Sebenarnya ia ingin secepatnya sampai di bukit Kinasih adalah karena itu. Tapi melihat mereka berdua terlalu bersemangat, ia jadi ingin mengatakannya. Lagipula ia juga masih bisa menahan ajian yang belum ia ketahui penawarnya.


***

__ADS_1


Pertempuran antara pangeran dan juga panglima peran kerajaan berlangsung cukup lama. Mereka kini bertarung di halaman istana. Dengan menggunakan jurus-jurus andalan masing-masing, tak ada yang menahan dirinya.


Mereka bertarung bahkan hingga di udara. Dengan ilmu meringankan badan yang mumpuni itu bukanlah sebuah hal yang mustahil. Dengan tangan kosong pertempuran mereka berjalan seimbang. Belum ada satupun juga yang tumbang.


"Hebat juga kamu , ku kira selama ini kamu hanyalah pangeran manja yang berlindung dibalik badan kakakmu," Mau tak mau panglima itu mengakui kehebatan pangeran.


"Selama ini aku memang tidak pernah menunjukkan kekuatanku. Tapi kali ini, aku akan mengeluarkan semuanya. Aku bukan orang yang lemah seperti yang kau pikirkan!" setelah beberapa jurus kemudian, ia akhirnya bisa mengalahkan orang itu. Sebenarnya dari dulu ia tidak suka kepadanya, terutama ucapannya yang selalu terdengar sombong. Dia memang pantas untuk dikalahkan.


***

__ADS_1


Saat terjadi keributan, Wira yang tujuannya adalah menyelamatkan adiknya segera menerobos masuk ke dalam istana secara diam-diam. Akhirnya, setelah beberapa lama tidak bertemu ia akan melepas kerinduan itu. Sesekali ada saja prajurit yang melawannya, untung saja ia berhasil mengalahkan mereka dengan ilmunya yang tidak seberapa itu.


Walaupun beberapa kali hampir tersesat, ia akhirnya menemukan tempat dimana para wanita yang menjadi sandera karena pajak itu berada. Mereka berada di penjara yang dijaga oleh beberapa prajurit. Sebenarnya ia bisa saja berganti pakaian dengan seorang prajurit yang ia kalahkan tadi, namun tak jadi ia lakukan. Menurutnya resiko yang dihadapi bakal lebih besar jika ia mengganti pakaiannya.


Prajurit yang menjaga nampaknya juga tidak bisa terlalu fokus akibat keributan yang berada diluar istana. Setelah mengambil senjata dari salah satu prajurit, ia segera menyerang mereka. Untung saja, ia punya dasar bermain pedang yang sedikit mumpuni, jadi ia masih bisa menang melawan mereka. Walaupun ia juga terluka .


Saat membuka penjara yang berisi banyak sekali wanita, matanya terus mencari keberadaan adiknya. Setelah membuka penjara itu, ia langsung memeluk adiknya yang tampak sedikit lemah.


"Arum, bagaimana keadaanmu? Apa mereka melakukan sesuatu yang tidak mengenakkan hatimu?" ia kemudian bertanya kepada adiknya itu.

__ADS_1


"Mereka belum sempat berbuat apa-apa kepadaku. Kakang, terima kasih sudah menolongku."


"Itu sudah kewajiban ku. Setelah orang tua kita meninggal, aku akan menjagamu. Bahkan dengan jiwa ini aku tidak akan membiarkan seseorang menyakitimu . Maaf , saat kamu dibawa paksa waktu itu aku tidak bisa berbuat apa-apa."


__ADS_2