
"Terkejut ya melihat pasukanku mengetahui perihal rencana yang sudah kamu buat selama ini? Anggap saja semua itu hanyalah sambutan hangat dariku untuk menyambut mu sebelum kamu binasa," Adipati Kencana w
Wulan yang berdiri dihadapan raja itu terdiam saat raja berkata begitu.
"Ketahuilah, aku sudah mengirim prajurit untuk memata-matai mu. Selama ini aku berpura-pura tidak tahu mengenai rencana mu ini, hanya saja untuk penghormatan kepada adik ku tercinta aku sengaja tidak menyerang ku terlebih dahulu. Kau tahu, mau bagaimanapun juga kamu tidak akan pernah menang dariku," katanya lagi.
"Sekarang dengan yang dulu itu berbeda. Dulu aku memang lemah, tapi setiap manusia pasti akan berubah. Aku tidak mungkin selamanya lemah," Adipati panas mendengar ucapan dari Raja . Dia berkata sambil mengingat kembali duel di antara mereka beberapa tahun silam untuk memperebutkan tahta.
Waktu itu dengan rasa marah yang amat sangat dia pergi dari istana untuk menjadi Adipati di tempat yang telah ditentukan. Sembari menunggu waktu yang tepat untuk mengambil tahta, ia banyak belajar dari guru-guru yang terkenal sakti.
__ADS_1
Adipati Kencana Wulan segera melawan raja dengan pedang sakti nya. Tanpa ampun dia terus menerus menyerang bagian-bagian vital raja. Yang diserang hanya menangkis saja serangan itu, sepertinya dia sedang mencari titik lemah dari lawannya.
"Kenapa kamu hanya menangkis saja? Mana kekuatanmu? Jangan buat aku jadi jengkel !" Adipati terus berusaha menyerang sampai suatu saat pedang nya hampir menembus dada raja. Pada saat itu terjadi, raja baru melakukan serangkaian serangan yang mematikan. Menghadapi serangan tak terduga itu hampir membuat Adipati terjatuh, untungnya ia masih bisa bertahan.
"Cuma segitu saja kekuatanmu?" Tanya Adipati setelah berhasil menghindari serangan-serangan yang dialamatkan kepadanya. Adipati itu kemudian melancarkan banyak jurus mematikan yang ia dapatkan dari guru-gurunya selama ini.
"Sekarang semuanya akan berubah. Aku tidak lagi sama dengan yang dulu, kau lihat kan jurus-jurus yang baru ku lancarkan?"
Di rumah yang berada jauh di istana, di sebuah pagi yang sangat sejuk , terlihat anak panah yang datang entah dari mana segera melesat dan hampir mengenai anak kepala desa yang sombong itu . Untungnya saja anak panah itu meleset.
__ADS_1
"Kalian semua akan mati," tulisan yang berada di anak panah itu terbaca dengan jelas.
"Kalian semua, cepat temukan orang yang telah mengirim anak panahnya kemari! Beri dia pelajaran sampai dia paham!" Dengan marah ia berkata kepada anak buahnya.
"Kamu mau kemana?" Setelah anak buahnya pergi, anak kepala desa itu bertanya kepada istrinya yang terlihat rapi.
"Aku hendak menemui Galuh. Tempo hari aku melakukan kesalahan kepadanya. Entah mengapa rasanya aku tidak bisa tenang sebelum meminta maaf kepadanya. Hmmmmm, aku jadi ragu dengan jawabanmu waktu itu. Yang sebenarnya memaksa Galuh untuk berbuat tidak senonoh itu kamu kan?"
"Kenapa jadi aku? Dan lagi jangan pernah kamu meragukan apa yang ku katakan. Mana mungkin aku membohongi istriku sendiri," jawabnya dengan sedikit ketakutan. Selama ini yang memaksa Galuh memang dia, tapi tidak mungkin ia mengatakannya.
__ADS_1
Resikonya selain kehilangan istri bisa saja ia kehilangan nyawa . Mertuanya itu ia kenal dengan baik sebagai seorang yang memiliki ilmu beladiri. Meskipun sudah pensiun tapi kalau mendengar ia bermain wanita mana mungkin ia tinggal diam. Ia paling tidak bisa melihat anaknya itu menangis. Anak kepala desa itu sudah berkali-kali melihat mertuanya membunuh setiap orang yang menyakiti putrinya itu .