
"Kenapa kalian berada disini? bukankah aku pernah berkata kepada kalian untuk pergi dari sini?" Wira yang melihat Dewi Ratih dan teman-temannya sedang berada di dekat markas langsung menghentikan mereka.
"Aku masih tidak terima dengan ucapanmu waktu itu. Dan lagi mendengar kalau disini sepertinya akan terjadi pemberontakan entah mengapa kami merasa sangat tertarik.
"Menarik? Kalian pikir ini adalah permainan?"
"Tidak. Lagipula kami tidak selemah yang kamu kira."
"Walaupun bagaimana juga kalian hanya orang asing,"
Wira berkata kemudian dia menyerang mereka bertiga. Dalam beberapa jurus saja, ia bisa ditaklukkan. Karena mendengar suara keributan, pangeran yang kebetulan tidak berada jauh di sana mulai mendatangi mereka.
"Ada apa ini? Kenapa kalian semua bertengkar?"
__ADS_1
"Ampun pangeran, mereka bertiga ini adalah orang asing. Aku pikir lebih baik untuk mengusir mereka agar tidak ikut terlibat dengan urusan di negeri ini," Wira menjelaskan duduk perkaranya.
"Aku mengerti maksudmu, tapi aku ingin kalian bertiga ikut denganku. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan , terutama tujuan kalian kemari."
Mereka bertiga mengikuti sang pangeran masuk ke dalam mengikuti pangeran itu. Sementara Wira berlatih bersama pasukan yang lainnya.
"Maafkan perlakuan salah satu anggota kami. Sejujurnya dia telah berlaku sangat jauh, tapi sebenarnya maksudnya baik," setelah mempersilahkan mereka bertiga duduk ia berkata.
"Tidak mengapa. Kami juga tahu alasannya," jawab Erlangga.
"Kami ingin membantu pemberontakan. Dari beberapa warga aku mendengar kalau negeri ini hampir berada di ambang kehancuran. Untuk itulah kami siap membantu agar negeri ini bisa pulih seperti sedia kala," jawab Dewi Ratih.
"Saya paham, tapi saya agak ragu untuk menerima pengembara seperti kalian untuk ikut campur."
__ADS_1
"Kami ikut campur juga atas kehendak kami sendiri. Lagipula saat melihat negeri ini aku jadi ingat dengan negeriku sendiri yang kondisinya persis seperti ini. Tapi mungkin sekarang sudah lebih baik karena kejadiannya sudah lumayan lama."
"Maaf nisanak, boleh saya melihat pedangnya?" saat melihat ke arah pedang yang dibawa oleh Laksminingrum , pangeran itu sepertinya tertarik.
Laksminingrum kemudian menunjukkan pedang itu tanpa memperbolehkan sang pangeran itu menyentuhnya. Ia tidak ingin pedang yang dipegangnya disentuh orang lain, mungkin terlalu berlebihan juga tapi ia punya alasan yang kuat untuk itu .
"Pedang itu mirip dengan pedang yang ada di salah satu yang dimiliki guruku. Di sana juga terdapat legenda yang mengatakan bahwa pedang itu adalah salah satu pedang legendaris. Sudah lama sekali aku ingin melihatnya, dan sekarang aku merasa benar-benar melihatnya," Pangeran itu menjelaskan alasan mengapa ia tertarik dengan itu.
"Pedang legendaris? ku pikir itu terlalu berlebihan. Guruku tidak terlalu banyak bercerita mengenai pedang ini. Tak ada yang perlu ku ketahui juga soal pedang ini selain menjaganya."
"Aku tidak tahu mengapa gurumu tidak bisa menceritakan tentang pedangmu itu. Tak masalah jika kau menjaganya. Ku pikir tidak ada salahnya jika kalian bertiga ikut di dalam barisanku. Itu akan sangat menguntungkan sekali," pangeran itu tidak mau membahas soal pedang itu lagi.
"Kita akan bergerak esok hari saat senja. Jadi persiapkan diri kalian!" lanjutnya.
__ADS_1
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk negeri ini," dengan kesungguhan hati , ia akan berusaha untuk melakukan yang terbaik esok hari. Walaupun hanya sebagai tempat persinggahan, mereka akan bertarung mati-matian.