
Malam telah larut saat Mathanadeva dan Chen Khu meninggalkan istana setelah menghadiri undangan makan malam dari Yaseka.
Secara umum.. makan malam mereka malam itu dipenuhi canda tawa serta gurauan - garuan para pembesar - pembesar kerajaan..
Suasana berubah menjadi hening saat Mathanadeva dan Chen Khu bergantian menyampaikan untuk meninggalkan Nishada dan kembali ke kampung halaman mereka masing - masing.
Meskipun tidak dapat mencegah.. tapi Yaseka secara Khusus meminta keduanya untuk bertahan sampai pelaksanaan hukuman untuk para pengkhianat selesai dilakukan, hal ini mengingat beberapa diantara tahanan terdapat pendekar - pendekar tingkat tinggi..
Kekhawatiran Yaseka akhirnya menghilang saat Chen Khu mengatakan jika..pendekar - pendekar tersebut telah dimusnahkan ilmu beladirinya.
Dalam dunia persilatan.. bagi seorang pendekar kehilangan ilmu beladri lebih menakutkan daripada kehilangan nyawa.. sebab.. seorang pendekar yang pernah dimusnahkan ilmu beladirinya tidak akan pernah bisa lagi untuk berlatih ilmu bela diri, meskipun dengan dukungan sumber daya sehebat apapun.
Satu persatu pejabat istana memohon diri untuk meninggalkan istana, hingga akhirnya tinggal menyisaka tiga orang saja. Yaseka, Mathanadeva dan Chen Khu.
Pada kesempatan itu, Chen Khu mengutarakan pada Yaseka jika ayahnya memilih untuk tetap tinggal di Nishada sampai batas waktu yang belum ditentukan.. Yaseka memahami arah pembicaraan Chen Khu, dan berjanji akan berusaha sekuat mungkin untuk menjaga ayah Chen Khu sampai semua urusannya di kekaisaran Ming selesai.
Dilain pihak.. Mathanadeva sebenarnya ingin megajak Chen Lee untuk tinggal di Kolakata ibu kota kerajaan Gurjara..tentu saja tujuannya agar Chen Khu bisa lebih sering berkunjung ke sana, hanya saja untuk menjaga perasaan Yaseka, Mathanadeva terpaksa menahan diri untuk tidak mengutarakan keinginannya.. dan saat malam telah larut.. keduanya memohon pamit untuk meninggalkan istana.
"Oh.. iya.. ada sedikit hadiah perpisahan yang ingin kuberikan pada kalian berdua.. aku harap kalian berdua tidak keberatan untuk menerimanya meskipun jumlahnya tidak banyak. " ucap Yaseka saat Mathanadeva dan Chen Khu memohon pamit lalu mengajak keduanya memasuki ruang kerjanya.
Meskipun dengan berat hati.. Chen Khu dan Mathanadeva tetap mengikuti Yaseka ke ruang kerjanya.
Yaseka kemudian meminta salah empat orang pengawal untuk membawa dua buah peti yang memang sudah disiapkan sebelumnya.
"Saudaraku...apa - apaan ini..? " ucap Mathanadeva dengan nada suara agak meninggi setelah melihat isi peti yang dibawa oleh pengawal Yaeseka.
__ADS_1
"Maafkan akun jika jumlahnya tidak seberapa " balas Yaseka.
"Mohon maaf yang mulia.. bukannya saya atau yang mulia Mathanadeva tidak mau menerima..tapi bantuan yang kamk berikan adalah murni sebagai saudara.. dan saya rasa.. masih banyak yang membutuhkan uang sebanyak itu.. " ucap Chen Khu menimpali.
"Benar apa yang dikatakan oleh Chen Khu.. aku.. Mathanadeva berusaha untuk membantumu.. sebab aku telah menganggapmu sebagai saudaraku.. dan aku tidak ingin persaudaraan kita di ukur dengan materi.. " ujar Mathanadeva menambahkan.
Yaseka menundukkan kepala, menyesali perbuatannya.. dalam hati dia ikut membenarkan apa yang diucapkan oleh Mathanadeva dan Chen Khu, dari sudut matanya terlihat air mata penyesalan.
"Maafkan aku saudaraku...!! " ucap Yaseka lalu memeluk Mathanadeva dan Chen Khu bergantian.
"Aku harap.. kita akan bertemu lagi dilain kesempatan dengan suasanya yang berbeda.. " ucap Yaseka melanjutkan setelah membersihkan air mata dengan ujung bajunya..lalu memberikan sebuah lencana bersimbol kerajaan Nishada pada Chen Khu.
"Suatu saat jika kamu kembali.. lencana ini bisa membantumu untuk menemuiku.. " ujar Yaseka pelan lalu memberi hormat dan keduanya.
Mathanadeva dan Chen Khu akhirnya kembali berpamitan dan meninggalkan istana sebab malam itu.. Mathanadeva akan menginap di rumah milik Chen Lee.. sebab Mathanadeva tidak ingin melewatkan malam itu begitu saja sebab perpisahannya dengan Chen Khu tinggal menghitung jam saja.
Meskipun jumlah tenaga dalam yang diberikan oleh Chen Khu sifatnya terbatas tapi Chen Khu berharap kelak Mathanadeva akan mampu meningkatakan jumlah tingkatan tenaga dalamnya sehingga nanti Mathanadeva bisa terbang dengan kemampuannya sendiri.
"Aku pasi akan mengimbangimu kali ini..kerahkan seluruh kemampuanmu..!! " seloroh Mathanadeva dan melesat lebih dulu ke udara.. yang disambut gelak tawa Chen Khu.
***
Sinar bulan yang hanya separuh menampakkan diri malam itu menyinari tiga orang yang tampak asyik bercerita di beranda sebuah rumah tanpa menghiraukan dinginnya angin malam.
Meskipun sudah tua.. tapi Chen Lee masih mampu bertahan selarut itu untuk sekedar bercerita yang diselingi senda gurau dua orang yang usianya jauh lebih muda darinya.
__ADS_1
"Chen Khu.. nanti saat Aahana tepat berusia tujuh belas tahun akan diadakan kompetisi beladiri untuk menentukan siapa yang berhak mendampinginya.. apakah kamu tidak tertarik..?! " ucap Mathanadeva sambil melirik pada Chen Lee sambil mengedipkan matanya.
"Iya Khu'er.. usiamu sudah cukup matang.. mungkin sebaiknya kamu mulai memikirkan untuk berumah tangga.. " balas Chen Lee yang mengerti akan maksud dari kedipan Mathanadeva.
"Chen Khu tersedak teh yang diminumnya ketika dua pria yang ada di dekatnya itu seperti sedang berusaha untuk mengeroyoknya.. Chen Lee bahkan sampai harus menepuk - nepuk punggung Chen Khu karena nafas Chen Khu sempat berhenti sejenak.
"Aku sudah membekali Aahana salah satu kitab yang berisi ilmu tingkat tinggi..jika perkembangannya seperti sebelumnya aku yakin masih memiliki kesempatan saat usianya telah melebihi tujuh belas tahun.. kecuali... yang mulia ikut dalam kompetisi itu juga.. " jawab Chen Khu sambil tertawa..Chen Khu sudah mengetahui maksud Mathanadeva dan ayahnya.. untuk itu dia tidak mau terjebak dengan pernyataan keduanya.
Pernyataan Chen Khu sontak membuat Mathanadeva terbahak.. sebab yang dikatakan Chen Khu ada benarnya.. sebab saat ini.. hanya Mathanadeva yang memiliki kemampuan diatas putrinya itu, terkecuali jika ada pangeran dari kerajaan lain yang pernah menjadi peserta tiba - tiba mengalami kemajuan pesat dalam perkembangan ilmu beladirinya hingga mampu menandingi kemampuan Aahana.
Perbincangan mereka masih terus berlanjut sampai ayam jantan mulai terdengar berkokok.. menandakan pagi sebentar lagi akan datang.. Chen Lee yang sudah beberapa kali menguap segera memohon diri untuk masuk dan meninggalkan Chen Khu berdua dengan Mathanadeva.
"Chen Khu.. sudah saatnya kita berpisah.. jaga dirimu baik - baik..!! pintu istanaku selalu terbuka untukmu.. sempatkanlah diri untuk mampir jika semua urusanmu telah selesai.. " ujar Mathanadeva pelan.
"Sama - sama yang mulia.. jaga diri baik - baik.. aku juga akan merindukan kalian semua.. sampaikan salam hormatku untuk tuan putri dan jendral Khan.. dan tolong berikan ini untuk Shiva.. " balas Chen Khu sambil menitipkan sebuah kitab pada Mathanadeva.
"semoga kita bisa bertemu kembali secepatnya.. "ucap Mathanadeva lalu memeluk Chen Khu.
"Hati - hati di jalan yang mulia..jangan sampai burung elang mengganggu keseimbangan anda.. " jawab Chen Khu sambil tersenyum.
Sebuah pukulan tiba - tiba mendarat di perut Chen Khu..
"berhentilah mengejekku.. aku janji.. saat bertemu nanti.. aku pasti sudah bisa mengimbangimu.. !!" jawab Mathanadeva pada Chen Khu yang tampak meringis kesakitan.
"Aku pamit saudaraku..!! " Mathanadeva kemudian menghentakkan kakinya di tanah dan melesat ke udara..tanpa disadarinya jika mereka masih berdiri di beranda rumah Chen Lee.. sontak saja genteng beranda berhamburan akibat benturan dengan Mathanadeva.
__ADS_1
"Tidak apa - apa yang mulia.. nanti ku bereskan..! " teriak Chen Khu sambil melambaikan tangannya.