
Setelah dua minggu menempuh perjalanan dengan berkuda, akhirnya Chen Khu dan Mathanadeva sampai di sebuah pintu gerbang yang menjadi perbatasan kerajaan Andhara dan kerajaan Nishada. Sebuah benteng alam berupa tebing, menjulang tinggi dihadapan mereka menunggu untuk di lewati untuk mencapai desa pertama di kerjaaan Nishada.
Perjalanan mereka praktis tidak mendapatkan halangan yang berarti hingga akhirnya mereka mencapai perbatasan. Mathanadeva sengaja memilih untuk tidak menggunakan jalur utama untuk menghindari kejadian seperti saat di penginapan Kechandeep, meskipun demikian.. sepak terjang kedua pendekar yang mampu membunuh puluhan anggota kelompok teratai merah sudah terlanjur menyebar dikalangan masyarakat.
Untuk itu, selama dua minggu terakhir, Mathanadeva dan Chen Khu lebih memilih bermalam di hutan daripada harus mencari penginapan, sebab disatu sisi.. pimpinan kelompok teratai merah yang mulai mengincar mereka serta prajurit Andhara yang juga mulai mencari informasi tentang mereka berdua.
"Setelah melewati celah sempit yang ada pada tebing itu.. kita akan melewati sebuah sungai yang cukup lebar baru kemudian kita akan mencapai desa pertama.. " ujar Mathanadeva sesaat setelah melewati pemeriksaan di pintu gerbang perbatasan.
Chen Khu menatap tebing yang ada dihadapannya.. hatinya berdebar kencang, hasrat untuk segera menemukan ayahnya sudah sangat besar, meskipun ayahnya belum tentu berada dikerajaan itu, lagi pula.. ada sesuatu yang mengganggu pikiran Chen Khu, meskipun dia sendiri belum mengetahui apa yang mengganggu pikirannya tersebut.
"Yang mulia.. ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.. aku sendiri belum tau apa penyebabnya.. hanya saja, aku merasa harus secepatnya menyelesaikan misi ini.. " ucap Chen Khu.
"Kalau begitu kita harus bergegas.. karena kapal yang melayani penyeberangan hanya ada sekali sehari.. dan jika kita terlambat.. kita terpaksa harus menunggu hingga esok hari untuk bisa menyeberangi sungai.. " jawab Mathanadeva dan kemudian memacu kudanya.
***
Mathanadeva memperlambat laju kudanya saat mendekati celah pada tebing yang merupakan satu - satunya jalan penghubung antara kerajaan Nishada dan kerajaan Andhara. Chen Khu yang mengikuti dibelakang ikut memperlambat kudanya saat berada di sisi Mathanadeva.
__ADS_1
Keduanya melihat ke atas tebing yang menjulang di sisi kiri dan kanan mereka, meskipun tidak melihat seorangpun dari bawah, tapi kedua pendekar itu bisa merasakan jika ada puluhan atau ratusan pasang mata sedang mengawasi mereka.
Meskipun merasakan banyak mata yang mengawasi, namun tidak tampak sedikitpun kekhawatiran dari wajah Mathanadeva, sebab Mathanadeva sudah mengetahui jika Yaseka memang menempatkan banyak prajurit di daerah itu untuk menjaga sebab daerah itu sebelumnya selalu dijadikan sarang oleh perampok karena kondisi geografisnya yang sangat mendukung dengan adanya celah diantara tebing dan sangat sempurna untuk melakukan penyergapan.. hanya saja Mathanadeva tidak menyangka jika Yeseka menempatkan sangat banyak prajurit di tempat itu.
Berbeda dengan Chen Khu yang bersikap waspada saat merasakan jika ada yang mengawasi mereka, meskipun Chen Khu tidak merasakan aura jahat dari orang - orang yang mengawasi itu, tapi melihat kondisi jalan yang teramat sepi, dan merupakan suatu hal yang dianggap ganjil jika satu - satunya akses yang bisa dilewati tersebut sepi oleh lalu lalang para pedagang, meskipun merasakan keanehan tersebut, Chen Khu menahan diri untuk tidak mengungkapkannya pada Mathanadeva.
Saat keduanya sampai pada sebuah belokan, terdengat siulan keras lalu ada banyak tali yang dilemparkan dari atas dan disusul puluhan orang turun melalui tali itu pada bagian depan dan belakang Mathanadeva dan Chen Khu yang terpaksa harus menghentikan kuda mereka.
Mathanadeva tersentak melihat puluhan orang yang tiba - tiba menghadang perjalanan mereka dan orang - orang itu tidak mengenakan seragam prajurit kerajaan Nishada, Mathanadeva mencoba mengingat ingat kembali saat mereka berdua memasuki celah tebing tersebut dan kemudian Mathanadeva menggelengkan kepalanya saat menyadari kelalaiannya sebab saat keduanya memasuki celah tebing tersebut, Mathanadeva tidak melihat ada panji kerajaan Nishada yang berkibar di ujung tebing, dan Mathanadeva baru mengingatnya sekarang.
"Apa yang terjadi dengan Yaseka..?? kenapa dia membiarkan tempat ini tanpa penjagaan..?? " gumam Mathanadeva dalam hati dan kemudian melompat dari kudanya lalu menghunuskan pedangnya diikuti Chen Khu yang juga melompat dari kudanya.
Tak lama kemudian, seorang pria berbadan tegap dengan tinggi hampir dua meter serta memiliki kumis tebal terlihat menuruni tebing dengan cepat tanpa menggunakan tali dan berdiri dihadapan Mathanadeva dan Chen Khu dengan jarak lima belas meter. Meskipun pakaiannya sedikit lusuh namun tidak menutupi wajahnya terlihat bersih dan pria tersebut juga terlihat berwibawa tidak seperti perampok pada umumnya.
" Apa tujuan kalian memasuki wilayah ini.. " ujar pria itu lantang.
" Kami hanya sekedar lewat tuan.. " jawab Mathanadeva sembari memperhatikan dengan teliti wajah pria tersebut, karena Mathanadeva merasa tidak asing dengan wajah pria dihadapannya itu.
__ADS_1
"Kalian pasti pendekar - pendekar yang disewa oleh Narendra yang mencari keberadaan kami dan berpura - pura melewati jalur ini dari Andhara.. " ucap pria itu kembali.
Mendengar nama Narendra.. Mathanadeva berhasil mengenali pria dihadapannya itu dan segera membuka kain penutup hidung yang dikenakannya.
"Jendral Desmar.. apa yang terjadi.. kenapa kamu ada disini..? dan apa yang terjadi dengan Narendra..? " ujar Mathanadeva lalu menyarungkan kembali pedangnya sebab mengenali pria dihadapannya itu adalah Desmar yang merupakan Jendral kepercayaan Yaseka.
Mulut Desmar menganga saat mengenali wajah Mathanadeva, dia tidak menyangka akan bertemu raja Gurjara di tempat itu.
Meskipun Desmar bukanlah seorang raja, tapi Mathanadeva bisa mengenalinya begitu juga sebaliknya, sebab Desmar adalah orang yang selalu berada di samping Yaseka, baik saat berkunjung ke Kolakata, maupun saat Mathanadeva berkunjung ke Nishada.
"Maafkan kami maharaja Gurjara.. " ucap Desmar sambil membungkuk memberi hormat pada Mathanadeva lalu memberi tanda pada anak buahnya untuk membatalkan rencana penyerangan.
"Apa yang terjadi pada Yeseka..? dan seingatku.. kamu selalu mendampinginya dan tidak pernah jauh darinya.. " pertanyaan Mathanadeva langsung membuat ekspersi wajah Desmar berubah.
"Ceritanya panjang yang mulia.. jika yang mulia berkenan.. saya harap yang mulia bisa ikut ke persembunyian kami, dan saya akan menceritakan semuanya.. " jawab Desmar dengan wajah murung.
Melihat perubahan raut wajah Desmar, membuat Mathanadeva penasaran lalu menoleh pada Chen Khu seolah meminta persetujuan, dan Chen Khu mengangguk setuju setelah menatap langit yang sudah kemerahan, karena malam sebentar lagi akan datang.
__ADS_1
Chen Khu dan Mathanadeva akhirnya mengikuti Desmar yang menuntun mereka pada sebuah jalan yang cukup tersembunyi yang ternyata merupakan jalan untuk menuju ke atas tebing dimana ratusan orang telah menunggu mereka.
Orang - orang itu lalu berjalan memasuki hutan dan hanya meninggalkan beberapa orang saja untuk mengawasi jalan itu.