
"Suatu saat , aku ingin sekali menjadi prajurit kerajaan. Melindungi raja dari segala bahaya. Kira-kira bakal bisa atau tidak ya?"
Dalam perjalanan menuju markas pemberontak yang dipimpin oleh pangeran Wira mengingat ucapannya dulu saat masih kecil. Dan rasanya itu takkan terjadi, karena kenyataannya ia nanti harus melawan raja. Ia datang dari desa yang berada jauh dari ibukota. Awalnya ia ragu, namun tekadnya untuk ikut memberontak itu semakin meningkat.
Yang ia tahu di dalam pasukan pemberontak ada beberapa petinggi istana dan bahkan ada juga sang pangeran yang merasa tersakiti setelah kakaknya yang menjadi putra mahkota di eksekusi mati karena melawan titah raja. Menurut kabar, sang pangeran juga katanya menjadi sasaran eksekusi selanjutnya.
Raja beberapa bulan belakangan ini terlihat berbeda sekali. Entah apa yang membuatnya mengeksekusi putranya tersebut. Ditambah lagi dia juga menaikkan pajak hingga beberapa kali lipat. Hal itu sungguh sangat meresahkan. Kemiskinan, kelaparan, dan juga kejahatan meningkat sejak pajak naik.
Padahal sebelumnya raja dikenal sebagai seorang yang lemah lembut, dermawan, dan lagi ia sangat menyayangi putranya. Entah apa yang membuatnya jadi membuat rakyat sengsara. Apapun itu, mungkin memberontak adalah jalan yang benar.
***
"Kita ikuti orang itu diam-diam agar kita tahu dimana markasnya, dengan begitu kita bisa tahu mengapa mereka memberontak. Bagaimana?" tanya Laksminingrum memberi ide.
__ADS_1
"Aku rasa itu ide yang bagus."
"Aku rasa hal itu akan menambah masalah. Kalian mau dibilang mata-mata?" kata Erlangga.
"Terus?"
"Kita cari tahu saja sendiri . Kita tak boleh terpengaruh kedua belah pihak. Dengan begitu kita tahu apakah kita harus ikut campur atau tidak. Ku pikir itu adalah ide yang bagus."
***
"Kenapa kakang harus di eksekusi? apa salahnya? selama ini dia tidak pernah membantah ayahanda!" dengan tangis yang begitu memilukan hati itu, sang pangeran memprotes apa yang yang telah dilakukan oleh ayahnya itu.
"Kamu kenapa menangis? bukankah itu bagus untukmu? tanpa dia kau bisa menjadi raja selanjutnya," dengan santai, ayahnya yang merupakan seorang raja berkata.
__ADS_1
"Aku tidak tertarik dengan mahkota kerajaan. Lagipula aku benar-benar tidak tahu pikiranmu? Bukankah kamu yang telah mengangkatnya menjadi putra mahkota? tapi kenapa?" tak peduli apakah itu sopan atau tidak, selama perasannya tersampaikan ia tak masalah.
"Kamu tidak menyukai bila nanti jadi putra mahkota ya? kalau begitu, kamu tinggalkan istana ini."
"Kalau itu yang kau mau, aku bakal pergi dari sini."
Saat sedang melihat pasukannya berlatih , pangeran itu mengingat hari dimana ia pergi dari istana setelah memprotes tindakan ayahnya.Mau bagaimanapun juga ia merasa sangat kesal, apalagi sejak kecil ia sangat disayang oleh kakaknya itu.
Sebenarnya, ingin sekali ia pergi dari kerajaan yang telah membuat namanya besar untuk selamanya. Tapi rasanya untuk saat ini ia tak bisa. Sebab ia adalah pemimpin pasukan pemberontak. Ia sebenarnya tidak mau pada awalnya, namun setelah berpikir sangat panjang ia akhirnya mau juga.
Ia ingin memberontak karena ia juga melihat banyak penderitaan yang ia lihat sendiri. Kriminalitas terjadi dimana-mana akibat pajak yang sangat sangat tinggi. Dendanya juga tidak main-main. Jika mereka tidak bisa membayar maka harta mereka akan di rampas dengan paksa. Anak gadis mereka yang menarik perhatian akan dibawa ke istana sebagai pemuas nafsu.
Demi negeri yang dibanggakan kakaknya tidak hancur, ia akan terus berjuang bersama mayoritas penduduk yang mendukungnya. Suatu saat, ia harap negerinya akan menjadi negeri yang indah dan makmur seperti sediakala.
__ADS_1