Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
06. Pangeran Ular Yang Cemburu


__ADS_3

Saat Wisasari memeluk dengan erat tubuh Erlangga yang terasa hangat, entah darimana tiba-tiba seekor ular besar menyerang mereka. Berbeda dengan yang tadi, kali ini ukuran sekitar dua kali lebih besar. Segera setelah terpisah antara Erlangga dengan perempuan itu, ular yang besar segera melilit tubuh pria itu. Nampaknya ia ingin sekali meremukkan badan orang itu.


"Siapa kau berani mendekatinya? Sekarang matilah kau!" tubuhnya setelah berubah menjadi setengah manusia langsung berkata begitu.


"Lepaskan kakang. Dia tidak bersalah," Wisasari memohon kepada makhluk setengah ular itu.


"Lepaskan? Setelah kalian saling berpelukan kau masih bilang dia tidak bersalah?" nampaknya ada kemarahan yang begitu besar didalam perkataannya itu.


"Habisnya kamu selalu sibuk. Aku kan juga ingin diperhatikan."


"Baik. Tapi ada syaratnya."


"Apa?"

__ADS_1


"Aku ingin bertarung dengan pria ini. Kalau dia menang aku akan membiarkan dia pergi. Kalau dia kalah dia harus siap jadi santapanku," dia kemudian melepaskan lilitannya. Setelah itu, tubuhnya yang tadi hanya setengah manusia, sekarang sudah benar-benar menjadi manusia seutuhnya.


Setelah menjadi manusia seutuhnya, ia langsung menyerang Erlangga tanpa ampun. Satu jurus dua jurus masih bisa diimbangi, setelah sepuluh jurus Erlangga mulai merasa tidak akan menang melawannya. Karena tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih. Lagipula lawannya lebih sakti beberapa kali dari musuh uang pernah ia lawan sebelumnya.


"Sudah menyerah?" tatapannya mengintimidasi.


"Dia sudah tampak tak berdaya. Bagaimana kalau kau melawanku?" Laksminngrum yang melihat Erlangga sudah hampir tidak berdaya langsung maju.


"Apa karena aku wanita? Jangan remehkan aku!" Setelah berkata begitu Laksminngrum segera menyerang. Tanpa membuka sarung pedang itu, ia menari dengan sangat ganasnya.


"Hebat juga kau ," senyuman jahat siluman itu nampak saat ia berkata begitu.


"Sekarang aku punya pilihan untukmu. Kabur atau kau ku tebas dengan pedangku," Laksminngrum yang berada dipuncak rasa ingin bertarung memberi pilihan. Sekaligus mencoba seberapa dahsyat pedang yang diberikan gurunya itu.

__ADS_1


Walaupun ia sering berlatih menggunakannya, tapi ia belum pernah mencobanya dengan menggunakan objek hidup. Sekali waktu ia pernah memikirkan hal ini. Mungkin sekarang adalah kesempatannya.


"Kau ingin menebas ku? Cah ayu, jangan bercanda,' suaranya enteng. Seperti tidak takut akan apapun.


"Baiklah. Sekarang bersiap untuk mati," Dia berkata sambil melepaskan sarung pedangnya itu perlahan. Sebuah sinar keluar menyelimuti pedang itu. Pedang pusaka yang diberikan oleh gurunya itu memang bukan pedang sembarangan. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menguasainya


"Jangan bunuh dia. Semua salahku," Wisasari merentangkan tangannya dihadapan Laksminngrum untuk melindungi pria yang tadi menyerang Erlangga. Ia agaknya menyadari sesuatu mengenai pedang itu.


"Minggir, aku tidak mau dilindungi oleh wanita yang suka selingkuh sepertimu," ucapannya kasar. Dia mungkin masih menyimpan amarah yang besar karena pelukan yang diberikan wanita itu kepada Erlangga.


"Sekarang bersiap," Laksminngrum segera menghunuskan pedangnya. Namun saat itu terjadi, lelaki jelmaan ular itu menghilang entah dimana bersama dengan wanita yang melindunginya tadi. Sebenarnya ia bingung juga, tapi ya menurutnya sudah cukup. Lagipula tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.


Ia segera membawa Erlangga yang terluka ke tempat yang aman. Sambil berjalan ia berharap tidak ada ular lain yang mengejarnya karena orang tadi hampir ia bunuh.

__ADS_1


__ADS_2