Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
27. Pemberontakan Telah Dimulai (3)


__ADS_3

"Tuan, nampaknya kita bisa memulai pertarungan. Aku melihat celah yang besar untuk kita menang bila kita memulai pertarungan sekarang," Di tempat dimana Arya Bayu dan pasukannya itu berkumpul, mata-mata yang ditugaskan telah datang sambil membawa berita. Matahari sudah naik hampir satu tombak waktu dia datang.


"Baiklah kalau begitu, kalian sudah dengar kan? Sekarang saatnya kita menyerang mereka. Kita hancurkan semuanya!" setelah mendengar apa yang dibilang anak buahnya, ia segera berkata kepada pasukannya yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan pasukan pemberontak ataupun pasukan kerajaan.


Dengan semangat yang membara, mereka berjalan dengan penuh percaya diri . Kemenangan nampaknya sudah berada didepan mata mereka. Dengan serbuan mendadak tanpa memberi waktu untuk mereka bersiap rasanya itu adalah taktik yang cukup terdengar bagus.


***


Pangeran mendobrak pintu istana. Di sana sang raja sedang duduk dengan santainya. Ia sepertinya sedang menunggu kehadirannya di atas singgasananya.


"Berani juga kau injakkan kakimu ke istana ini lagi. Ku kira kamu tidak akan kesini lagi setelah kamu ku usir. Kau mau menuntut balas atas kematian kakakmu?" kata sang raja.


"Aku sebenarnya sudah tak Sudi lagi melihat wajahmu! Kali ini atas nama rakyat aku akan membunuhmu!" tanpa perlu menunggu lama, Pangeran segera melakukan serangannya. Namun, tanpa banyak gerakan sang raja dengan mudahnya menepis.


"Kau itu masih bau kencur. Belum waktunya untuk melawanku, ibaratnya kau itu hanya seekor katak yang sedang bermimpi melawan kerbau."

__ADS_1


"Apa kau bilang?" pangeran menyerang kembali . Amarahnya begitu meluap saat sang raja berkata begitu . Hasilnya tetap sama, entah kenapa rasanya mustahil untuk melawan raja .


"Kalau begini terus, kamu akan bernasib sama dengan kakakmu. Masih ingatkah kamu bagaimana ekspresinya saat dieksekusi?"


Melihat serangannya seperti tak berguna, ia sebenarnya jadi agak sedikit gentar juga. Entah harus dengan apa dia melawan, sedangkan dia tak melihat ada celah. Sambil terus berusaha, Pangeran nampaknya mulai terlihat frustrasi. Dalam hati ia terus bertanya mengapa ia seakan tak bisa menyentuhnya.


***


"Pedangmu bagus juga, bagaimana kalau kita bertaruh? Jika aku menang maka pedangmu jadi milikku, bagaimana?" saat Laksminingrum sedang bertarung dengan seorang perwira, ia mendapatkan tawaran seperti itu.


"Tidak ada kata kalah dalam hidupku, jadi kamu harus bersiap untuk menyerahkan pedangmu! dengan itu aku akan bisa menguasai dunia," dengan sedikit kegilaan ia berkata begitu .


"Jangan mimpi untuk mendapatkan pedangku!" setelah membuka sarung pedangnya, Laksminingrum langsung menyerang dengan brutal. Dalam sekejap ia berhasil membuat lawannya penuh dengan luka.


"Sekarang tambahkan kata kalah di dalam hidupmu," setelah memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung yang melindungi pedangnya, ia berkata kemudian langsung pergi menuju ke dalam istana. Ia ingin tahu seperti apa raja yang berbuat semena-mena itu. Kalau memang memungkinkan, ia ingin mengetahui seberapa ilmu raja itu. Bagaimanapun juga, tanpa mengecualikan pertarungan di lembah tengkorak ia ,masih sangat percaya diri dengan senjata yang diberikan gurunya itu.

__ADS_1


***


Begitu sampai di istana, Arya Bayu langsung menyerang semua yang ada di sana tanpa pandang bulu. Dalam sekejap, rasanya ia berhasil memukul mundur semua yang melawannya. Melihat musuh yang begitu kuat, Dewi Ratih segera menuju ke arah Arya Bayu. Dengan segera ia menantang duel Arya Bayu.


"Kamu tidak bisa menerima tantangan mu itu cah ayu. Wajahmu begitu indah bagai bidadari. Bagaimana mungkin aku tega membuat luka di wajahmu ?" Bukannya menerima tantangan, ia malah merayunya. Entah apa yang ada maksudnya dia berkata begitu, yang jelas Dewi Ratih begitu jengkel dengan ucapannya.


"Kau boleh merayuku, asal kau menang dariku !" Dewi Ratih bersikap seperti biasanya. Ia benar-benar tidak suka dengan reaksi lawannya itu.


"Kalau itu mau mu apa boleh buat," Arya Bayu hanya menangkis saja serangan yang dilancarkan lawannya. Hal itu membuat Dewi Ratih Semakin jengkel dibuatnya.


"Jangan hanya bermain-main saja! lawan aku dengan serius!" katanya dengan marah.


"Kalau mau bertarung dengan serius lebih baik bertarung dengan anak buah ku . Dia akan meladeni mu sampai kau puas," jawab Arya Bayu.


"Aku ada urusan yang lebih baik daripada meladenimu bertarung,", katanya lagi sambil menyuruh anak buahnya menggantikan dirinya untuk bertarung. Sementara dia berjalan menuju ke istana untuk bertarung dengan Raja.

__ADS_1


__ADS_2