Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#87. Perbatasan. XII


__ADS_3

"Kali ini aku tidak akan lengah lagi " ujar Chen Khu pada pendekar yang menjadi lawannya.


Pendekar yang semula menahan diri saat Long Feng datang membantu Chen Khu dengan melemparkan sebuah golok berukuran besar.. kembali mempersiapkan diri.


Meskipun dia merasa kalau tingkat kemampuan pendekar yang membantu Chen Khu hanya berada pada level enam.. tapi jika mengahadapinya bersama dengan Chen Khu.. maka hasilnya sudah bisa dipastikan kalau dia akan kalah dengan cepat.


Pendekar yang menjadi lawan Chen Khu masih belum bisa menghilangkan keheranannya.. sebab pemuda yang dihadapinya sudah dua kali mendapatkan serangan telak dan pasti akan menyebabkan luka dalam yang sangat serius.. tapi kali ini.. dia menyaksikan sendiri jika serangan yang diterima oleh lawannya seperti tidak berarti apa - apa..bahkan lawan yang dihadapinya terus menjadi lebih kuat.


"Siaal.. berapa banyak tingkat tenaga dalam yang dimiliki pemuda ini..? " gumamnya dalam hati sambil memasang kuda - kuda bersiap untuk menerima serangan dari Chen Khu yang sudah bergerak dengan cepat menuju ke arahnya.


Pertarungan keduanya sudah tidak lagi berimbang.. Chen Khu yang menggunakan samakin banyak kemampuan yang dimilikinya membuat lawannya hanya bisa berada dalam posisi bertahan.. tapi...sekuat apapun pertahanan jika digempur secara terus menerus maka akan meninggalkan celah - celah yang selalu mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Chen Khu.


Pengawal pribadi Kaisar Yong Zheng itu sudah mendapatkan banyak luka.. pakaian yang digunakannya juga telah menjadi compang camping sedangkan darahnya sudah membuat pakaian yang digunakannya terlihat kemerahan..


Pendekar tersebut tidak lagi bisa bertarung dengan baik.. luka - lukanya yang terus mengeluarkan darah membuat kemampuannya perlahan - lahan terus menurun.. dan saat pandangannya mulai gelap karena kehilangan banyak darah.. sebuah gerakan pedang yang mengarah pada jantungnya terlambat untuk dihindarinya..


Darah segar keluar dari mulutnya.. perlawanan pendekar itupun terhenti.. dan tanpa menunggu lama Chen Khu langsung menuju ke arah Xie Annchi dan rekan - rekannya yang kesulitan untuk melawan seorang lagi pengawal Kaisar Yong Zheng.


***


"Kamu apa yang kamu lakukan di sini " tanya Xie Annchi dengan tatapan tajam pada Long Feng yang datang untuk membantunya..


Meskipun sedang bertarung.. Xie Annchi masih bisa mengenali betul wajah pria yang pernah sangat ingin untuk dibunuhnya itu.


"Maaf nona.. tapi kali ini aku berada di pihak kalian " jawab Long Feng dan seperti tidak menghiraukan tatapan Xie Annchi dia segera maju menyerang pendekar yang menjadi lawan mereka.


***


"Kakak.. apakah kakak masih kenal orang itu..? " tanya Xie Annchi pada Chen Khu yang baru saja sampai sambil melihat ke arah Long Feng yang sudah mendapatkan beberapa luka pada tubuhnya.


" Iyaa.. dan kalau bukan karena dia.. pasti sekarang aku sudah menjadi mayat..!! " jawab Chen Khu sambil bergerak menuju pada Long Feng dan beberapa pendekar lain yang mulai terdesak..


Pendekar yang menjadi pengawal pribadi Kaisar Yong Zheng itu langsung melompat mundur setelah melihat kedatangan Chen Khu.. dia yakin Chen Khu bisa berada di tempat ini karena telah membunuh kedua rekannya.


Pendekar - pendekar yang semula terdesak dan mendapatkan cukup banyak luka saat menghadapi pengawal pribadi kaisar Yong Zheng saling bergantian untuk menghentikan pendarah yang mereka alami setelah melihat pendekar itu melompat mundur.. sedangkan yang lainnya.. melindungi rekannya yang sedang memulihkan diri.


Kali ini tinggal Chen Khu sendiri yang menghadapinya... dan raut wajah Chen Khu berubah marah ketika sudah berhadapan dengan pendekar itu.. pendekar yang sudah berhasil melukai Xie Annchi.. Chen Khu tidak tau harus memberi alasan apa pada gurunya jika gurunya mengetahui kalau putrinya terluka dan Chen Khu tidak bisa melindunginya..


" Aku.. tidak akan pernah memaafkan orang yang berani melukai putri guruku.. " ujar Chen Khu dengan nada tinggi dan disusul dengan serangan cepat dan dahsyat..


Amarah yang bangkit dalam diri Chen Khu membuatnya seperti kesetanan...gerakan - gerakannya juga semakin cepat dan sulit untuk diikuti dengan mata.. rupanya.. Amarah yang sangat kuat dan muncul dari dasar hatinya itu secara tidak sengaja berhasil membuka titik cakranya yang ke dua puluh.


Chen Khu yang semula kesulitan untuk membuka titik cakra tersebut.. dan dibayangi oleh rasa sakit luar biasa ketika membuka titik cakra yang sebelumnya masih belum menyadari jika titik cakra ke dua puluh itu sudah terbuka.. Amarah yang meliputi membuatnya tidak merasakan perubahan dalam dirinya.. yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah bagaiman bisa dengan cepat membunuh orang yang hampir saja membuatnya lalai akan tanggung jawabnya.

__ADS_1


Pendekar - pendekar yang pernah menyaksikan gaya bertarung Chen Khu sebelumnya bahkan sampai menelan ludah melihat gaya bertarung Chen Khu kali ini yang mengerahkan seluruh kemampuannya.. tidak terkecuali Long Feng yang pernah berhadapan dengan Chen Khu..


"Untung saja dulu aku tidak pernah bertarung dengan gadis itu.." gumamnya dalam hati sambil bergidik ngeri melihat keganasan serangan Chen Khu.


"LANGKAH PETIR TINGKAT LIMA..!! "


Chen Khu menggunakan tingkat tertinggi dari jurus langkah petir...dia tidak perduli meskipun lawannya sudah mendapatkan beberapa luka.. dan sudah sangat kesulitan untuk membendung serangan - serangannya..


Kecepatan Chen Khu meningkat beberapa kali lipat.. dan lawannya hanya bisa pasrah menerima luka terus bertambah pada tubuhnya dan hanya bisa sesekali menghidari serangan yang sangat mematikan itu.


Pendekar itu mulai kewalahan.. banyaknya darah yang keluar membuat keseimbangannya juga terus menurun.. meskipun mampu menangkis serangan pedang yang mengarah pada lehernya tapi sebuah serangan tapak bersarang tepat pada dadanya sebelah kiri..


"CAKAR ELANG NAGA..!! "


Pendekar itu terlempar dan terseret di tanah sejauh hampir tiga puluh meter akibat serangan tapak yang dialiri dengan tenaga dalam sangat tinggi.. dan belum berhenti sampai di situ.. belum sempat pendekar itu bangkit sebuah serangan susulan yang amat dahsyat sudah disiapkan oleh Chen Khu...


"PEDANG HALILINTAR TINGKAT LIMA..!! "


Sebuah gelombang energi menyerupai pedang yang sangat besar melesat turun dari langit bagaikan petir.. Gelombang energi yang sangat besar itu juga menimbulkan area kerusakan yang lebih besar.. bukan hanya pendekar yang menjadi lawan Chen Khu yang menjadi korban dengan tubuh terpisah menjadi serpihan - serpihan kecil.. tapi prajurit - prajurit dan pendekar - pendekar dari kedua kekaisaran yang berada dalam radius ledakan juga ikut menjadi korban.


Xie Annchi yang menyaksikan ulah Chen Khu sambil bertarung dengan prajurit Qing merasa ada yang tidak beres dengan kakak seperguruannya itu.. bahkan pendekar - pendekar atau prajurit yang berada disekitarnya langsung menjauh melihat Chen Khu yang sudah diliputi aura kehitam - hitaman.


Xie Annchi melompat jauh menuju ke arah Chen Khu yang seperti sedang dirasuki iblis.. tapi saat jarak mereka tinggal beberapa meter.. tubuh Xie Annchi terlempar sangat jauh akibat menabrak sebuah dinding energi yang menyelimuti tubuh Chen Khu.


Teriakan Xie Annchi yang masih dalam keadaan melayang mengembalikan kesadaran Chen Khu.. dengan segera Chen Khu membalikkan badan dan terbang menyusul Xie Annchi yang sedang melayang.. dan sebelum Xie Annchi jatuh menyentuh tanah Chen Khu sudah lebih dulu menangkapnya..


"UHUK.... UHUK.. " Xie Annchi terbatuk dan memuntahkan darah segar kehitaman.


"Kakak.. kendalikan dirimu.. kita sedang bertarung diantara orang banyak.. dan tidak semua dari mereka adalah musuh kita.. uhuk.. " ujar Xie Annchi sambil menitikkan air mata dan kembali mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Maafkan aku Annchi... entah apa yang merasukiku sampai aku seperti tidak bisa mengendalikan kekuatanku sendiri " jawab Chen Khu lalu segera duduk bersila dan menempelkan kedua telapak tangannya pada punggung Xie Annchi.


Melihat hal itu.. Long Feng dan beberapa pendekar lain bergerak mendekat untuk melindungi keduanya dari serangan beberapa pendekar atau prajurit lawan.


Senja mulai beranjak.. hari sebentar lagi akan gelap..pertempuran haru itu sepertinya sudah akan menemukan siapa pemenangnya..


Prajurit - prajurit Qing kocar kacir.. banyak diantara mereka melarikan diri atau menyerah.. Jendral Chou dan Jendral Tian Li yang sudaj bertarung sejak tadi pun sudah tampak siapa yang akan keluar sebagai pemenangnya.. Meskipun tubuh keduanya sudah mengalami banyak luka akibat pertarungan yang cukup seimbang.. tapi melihat prajuritnya yang kocar - kacir.. mental Jendaral Tian Li ikut merosot..


Setelah beberapa kali mendapatkan tambahan luka pada tubuhnya.. akhirnya.. tongkat pedang yang digunakan Jendral Chou menempel pada leher Jendral Tian Li yang sudah berlutut tidak berdaya.


"Laksanakan tugasmu jendral.. mati di medan perang tentu saja sebuah kehormatan untuk kita.. dan lari dari pertempuran atau pulang dengan kekalah adalah sebuah penghinaan besar untuk kita...kamu pasti paham akan hal itu Jendral Chou.. " ujarnya sambil sambil mengangkat kepala seolah meminta Jendral Chou untuk segera membunuhnya.


"Baiklah jika memang itu yang kamu kehendaki.. " jawab Jendral Chou.. lalu menarik tongkat pedang miliknya sambil membalikkan badan..

__ADS_1


Kepala Jendral Tian Li menggelinding ditanah.. helm perang yang digunakannya juga ikut terlepas.. tubuhnya yang semula berlutu akhirnya tumbang ke tanah dengan posisi telungkup dan terus mengeluarkan darah.


"Setelah pertempuran ini selesai... Berikan pemakaman yang layak untuknya.. dia layak mendapatkannya sebagai seorang kesatria sejati " perintah Jendral Chou pada beberapa prajurit yang ada disampingnya...lalu Jendral Chou memberi penghormatan terakhir pada Jendral Tian Li.


Kereta perang milik Kaisar Yong Zheng juga sudah hancur.. dua ekor kuda gagah yang menjadi penariknya juga sudah mati.. sedangkan sang Kaisar itu masih tetap bertarung dengan gagah berani.. satu hal yang membuatnya sangat geram..


Ketika pasukannya sudah diambang kekalahan.. dia sempat melihat pangeran Shun Kwo melarikan diri.. dalam hati kecilnya.. Kaisar Yong Zheng ingin sangat ingin membunuh Shun Kwo dan membuatnya menjadi potongan - potongan kecil melihat sifat Shun Kwo yang pengecut.. tapi itu tinggallah angan - angannya saja.. sebab saat ini puluhan prajurit Ming sudah mengepungnya.


Kaisar Yong Zheng masih terus bertarung seorang diri dalam kepungan prajurit Ming tanpa mengenal kata menyerah.. meskipun tubuhnya sudah mendapatkan banyak luka.. tapi Kaisar Yong Zheng terus menggerakkan pedangnya sampai akhirnya.. puluhan tombak prajurit ming menempel pada tubuh dan lehernya..


Kaisar Yong Zheng jatuh berlutut.. tubuhnya lemas dan sudah tidak bisa digerakkan lagi.. tapi hatinya masih membara mengingat pelarian Pangeran Shun Kwo yang sudah membawa mereka kedalam pertempuran ini.. hati kecilnya juga menangis mengingat Jendral Tian Li yang sangat setia padanya dan pasti sekarang sudah tidak bernyawa.. sebab dengan pandangan sayup dia bisa melihat Jendral Chou mendatanginya..


" Kaisar.. anda sudah kalah..!! " ujar Jendral Chou.


"Hahahaha.. kalian hanya beruntung.. " jawab Kaisar Yong Zheng dengan nada sombong..


Jendral Chou tersenyum mendengar jawaban Kaisar Yong Zheng.. yang meskipun sudah diambang kematiannya masih tetap saja berusaha untuk terlihat sombong.


"Kaisar.. Jendral Tian Li.. sudah gugur sebagai ksatria.. sebaiknya anda menyerah dan mengentikan peperangan ini " lanjut Jendral Chou.


Kaisar Yong Zheng menundukkan kepala.. air mata menetes dari sudut matanya.. dugaannya benar.. Orang yang paling dipercayainya dan sangat setia padanya telah gugur.


"Aku mau menjadi tawanan kalian.. asalkan kalian membiarkan pasukanku yang tersisa untuk kembali.. " ujar Kaisar Yong Zheng sambil mengangkat kepala setelah tertunduk beberapa saat lamanya.


Jendral Chou tersenyum sambil mengangguk menyetujui syarat Kaisar Yong Zheng.


"Kaisar Yong Zheng sudah menyerah..!!! hentikan pertempuran kalian.. dan pulanglah ke daerah kalian " ujar Jendral Chou dengan sangat keras.. suara yang mengandung tenaga dalam itu terdengar ke seluruh aral pertempuran.. beberapa prajurit dan pendekar Kekaisaran Qing yang masih terus bertarung dengan sisa - sisa tenaga yang mereka miliki.. menghentikan pertarungan mereka dan menoleh ke arah sumber suara.. mereka melihat Kaisar Yong Zheng berdiri dan dikelilingi puluhan tombak yang siap menembus tubuhnya kapan saja.


Kaisar Yong Zheng menganggukkan kepala membenarkan ucapan Jendral Chou.. sisa - sisa pasukannya akhirnya melepaskan senjata yang mereka gunakan dan kembali dengan kepala tertunduk..


Hal itu disambut dengan terikan pasukan Ming dari seluruh penjuru arena pertempuran.. Teriakan kemenangan bergemuruh dari setiap prajurit Ming.


Pertempuran hari itu telah selesai.. pasukan Kekaisaran Ming kembali ke dalam benteng sambil terus meneriakkan yel - yel kemenangan.. Kaisar Yong Zheng diarak masuk kedalam benteng dengan kepala tertunduk dan tangan tarikat.


"Annchi.. ikutlah bersama mereka.. masih ada satu pertarungan lagi yang belum selesai " ujar Chen Khu pada Xie Annchi.


" Long Feng.. terima kasih sudah membantuku tadi.. " ujar Chen Khu sambil memberi hormat pada Long Feng..


"Aku berhutang nyawa pada anda sebelumnya tuan.. tapi bolehkan saya tau siapa nama anda tuan..? jawab Long Feng..


"Chen Khu.. itu nama terbaik yang kumiliki saat ini.. " jawab Chen Khu sambil tersenyum.. dan Long Feng menggaruk kepalanya mendengar jawaban Chen Khu..dan belum sempat dia bertanya kembali.. Chen Khu sudah melayang di udara...


"Kembalilah bersama mereka.. sampaikan pada guru kalau aku akan menyusul maha guru Wing Chun " ujar Chen Khu kembali lalu melesat meninggalkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2