
Malam semakin hening.. hanya sesekali terdengar suara lolongan serigala, dan suara jangkrik, tapi beberapa orang dengan penerangan seadanya terlihat sedang serius membicarakan sesuatu.
Seorang dari mereka terlihat serius menjelaskan dan sesekali bertanya pada beberapa orang disekitarnya.. sedangkan orang - orang yang mendengarkan tampak sesekali mengangguk tanda mengerti, sedangkan seorang lagi tampak mendengkur diatas sebuah dipan yang diletakkan di sudut ruangan seolah tidak memperdulikan apa yang sedang dibicarakan orang - orang dalam ruangan itu.
" Saya harap.. semua anak buahmu tepat waktu untuk menjalankan rencana yang sudah kita susun ini.." ujar Mathanadeva.
"Siap yang mulia..!! " jawab mereka serempak lalu beberapa orang terlihat memberi hormat dan memohon diri dan menyisakan tiga orang dalam ruangan itu.. Mathanadeva, Desmar, dan Chen Khu yang sedang terlelap di sudut ruangan.
"Mohon maaf sebelumnya yang mulia.. sebenarnya sejak tadi aku akan menanyakan pertanyaan ini pada anda..tapi aku terpaksa menundanya.. " ucap Desmar.
"Ada apa Jendral Desmar..? " balas Mathanadeva.
"Sebenarnya aku ingin tau siapa pemuda yang bersama anda itu..? aku perhatikan sepertinya hubungan yang mulia dengannya bahkan lebih dekat dari Khan.. " ucap Desmar sembari melihat pada Chen Khu.
"Chen Khu...!! namanya Chen Khu.. aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri, dan dialah orang yang paling berjasa dalam penumpasan sekte yang selalu mengirim siluman - siluman untuk mengacaukan banyak kota.. "
Desmar menganggukan kepala sambil melihat ke arah Chen Khu, meskipun dalam hatinya bertanya - tanya tenang kelebihan pemuda yang sedanh terlelap itu serta Desmar juga meragukan kemampuan Chen Khu, karena dia tidak bisa merasakan sedikitpun gelombang tenaga dalam pada tubuh Chen Khu.
"Sebaiknya anda istirahat jendral.. besok kita akan bergerak tepat waktu.. " ucap Mathanadeva lalu berbaring disamping Chen Khu.
" Baik yang mulia..! " ucap Desmar lalu ikut berbaring pada dipan lainnya.
***
Dini hari...
Suasana hutan menjadi ramai saat seribu lima ratus orang sedang bersiap menuju ibukota kerajaan Nishada..
__ADS_1
Seperti rencana yang dibicarakan sebelumnya, Desmar akan memimpin anak buahnya menuju ibukota dengan melalui jalur utama untuk menarik perhatian prajurit - prajurit yang setia pada Narendra, juga sekaligus mengajak penduduk yang masih setia pada Yaseka untuk ikut berperang, sedangkan Mathanadeva dan Chen Khu yang ditemani oleh satu orang anak buah Desmar yang mengetahui tempat Yaseka ditahan akan melalui jalur lain.
Dengan jarak yang tidak terlalu jauh, diperkirakan pasukan yang dipimpin oleh Desmar akan mencapai ibukota sebelum subuh, yang mana.. orang - orang mereka yang lain dan sudah lebih dulu sampai akan membuat kekacauan pada gedung - gedung pemerintah yang terletak di beberapa tempat yang berbeda.
Sebagian orang yang mengikuti pertemuan dengan Mathanadeva memang langsung memberitahukan rencan yang telah dibuat oleh raja Gurjara tersebut pada kelompok - kelompok pasukan yang masih setia pada Yaseka.
saat seluruh anak buah Desmar mulai bergerak.. Mathanadeva bersama Chen Khu yang ditemani seorang penunjuk jalan mengambil jalan pintas melalui hutan dan setelah tidak lagi terlihat oleh siapapun, Chen Khu yang berada di belakang langsung melayang di udara lalu memegang kerah baju Mathanadeva dan penunjuk jalan tersebut.. tentu saja hal itu membuat penunjuk jalan yang bernama Radu itu terkejut bukan kepalang saat dibawa terbang oleh Chen Khu sedangkan Mathanadeva hanya tersenyum melihat reaksi Radu saat membumbung tinggi di udara.. dan tentu saja jalur lain yang dimaksud oleh Mathanadeva adalah jalur udara, hanya saja dalam pertemuan itu, Mathanadeva sengaja tidak mengatakan jalur yang dimaksudkannya.
Chen Khu terbang dengan cepat dan hal ini membuat Radu terpaksa menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya karena dia belum terbiasa terkena hempasan angin yang begitu kuat.. dan dalam waktu kurang dari satu jam, dari kejauhan mulai tampak tembok istana yang menyerupai sebuah benteng besar dengan banyak penjaga yang mengelilinginya dengan deterangi cahaya obor yang berjajar rapi.
Chen Khu berhenti sejenak pada dahan pohon besar untuk mengamati sejenak dan menanyakan tempat penahanan Yaseka.
"Dimana yang mulia Yeseka ditahan..? " tanya Chen Khu pada anak buah Desmar yang bersama mereka.
"Disana tuan.. " jawab anak buah Desmar itu sambil menunjuk ke sebuah bangunan yang paling besar sambil berusaha menstabilkan nafasnya.
"Betul yang mulia.. saat ini istana itu sudah ditempati oleh Narendra, dan Yaseka ditahan di ruang bawah tanah.. "
"Baiklah.. kita segera ke sana Chen Khu... " ujar Mathanadeva.
Chen Khu kemudian memegang kembali kerah baju Mathanadeva dan anak buah Desmar itu lalu membumbung tinggi ke angkasa untuk melewati pagar istana yang cukup tinggi serta agar tidak terlihat oleh pengawal - pengawal yang berjaga. Chen Khu sengaja terbang sangat tinggi kemudian turun perlahan di atas atap bangunan yang ditunjuk oleh anak buah Desmar tadi tanpa seorangpun penjaga yang mengetahuinya.
Ketiga orang itu lalu bergerak dengan cepat memasuki bangunan tersebut dengan Chen Khu yang berjalan lebih dulu dan melumpuhkan beberapa penjaga yang tidak mengetahui kehadiran mereka, dan baru tersadar saat tubuh mereka sudah kaku tanpa bisa digerakkan akibat jurus totok yang dilakukan oleh Chen Khu.
Meskipun bangunan tersebut memiliki penjagaan yang cukup ketat dengan banyaknya jumlah pengawal yang ditempatkan untuk berjaga, tapi suasana dini hari yang mana banyak diantara para penjaga yang mulai kelelahan, serta dinginnya udara juga turut berperan menurunkan kewaspadaan mereka.
"Dimana Yaseka ditahan..?" tanya Mathanadeva pada salah seorang penjaga yg berhasil dilumpuhkan dengan ujung pedang menepel pada leher penjaga tersebut.
__ADS_1
"Di.. di.. ruang bawah tanah tuan.. " jawab penjaga itu pucat.
"Ruang bawah tanah..?! apa kamu tau tempatnya..?! ucap sambil menoleh pada anak buah Desmar.
"iya yang mulia.. penjara itu sudah lama.... "
"Buuk..!! " belum sempat anak buah Desmar menyelesaikan ucapannya gagang pedang Mathanadeva sudah menghantam tengkuk penjaga tersebut hingga membuatnya pingsan dalam posisi terduduk.
"Tunjukkan jalannya..! " perintah Mathanadeva.
"Lewat sini yang mulia.. " balas anak buah Desmar yang baru saja tersadar dari keterkejutannya.
***
Sementara itu.....
Desmar dan seluruh anak buahnya yang sudah hampir mencapai ibukota langsung bergerak terpisah sesuai arahan Mathanadeva.. orang - orang yang masih setia pada Yaseka dan sudah mengetahui perihal penyerangan yang akan dilakukan sebelum fajar menyingsing sebelumnya sudah melumpuhkan puluhan pengawal yang bertugas menjaga pintu gerbang ibukota.
Orang yang yang bergerak dibawah pimpinan Desmar itu menyebar keseluruh penjuru ibukota dan menempati posisi - posisi yang sudah disepakai sebelemunya sambil menunggu sinyal dari dalam istana untuk memulai penyerangan.
Sedangkan anak buah Desmar yang lain mengamankan pintu gerbang ibukota dengan menggunakan seragam penjaga - penjaga yang sudah berhasil mereka lumpuhkan. Seluruh anak buah Desmar yang sudah menempati posisinya menunggu dengan hati harap - harap cemas dan jantung yang terus berdetak kencang sambil sesekali melihat ke langit menunggu sinyal yang akan dikirimkan oleh tiga orang yang sudah memasuki istana.
---@@@----
Mohon maaf updatenya terlambat..
Reviewnya yang terlalu lama sebenarnya membuat saya malas untuk menulis. karena rilis tiap episode tidak sesuai seperti yang direncanakan.
__ADS_1