
Setelah menyuruh tamunya beristirahat, Nyi Arum Sari keluar dan duduk disebuah batu besar yang berada di dekat pohon yang begitu rindang. Ia disana tampak memikirkan sesuatu. Dia rupanya sedih saat mendengar saudara seperguruannya telah meninggal karena sakit. Setelah sekian lama tidak mendengar kabar setelah berpisah waktu itu, dia benar-benar sedih.
Dia kembali mengingat hari dimana pertama kali bertemu dengannya. Waktu itu ia senang sekali punya teman untuk berlatih berbagai ilmu. Mereka tumbuh dan berkembang bersama , berpetualang bersama. Rasanya waktu itu tidak mungkin untuk berpisah.
Sayangnya, waktu itu setelah mengetahui perasaan masing-masing mereka akhirnya berpisah. Hal itu karena rasa suka diantara mereka terhalang oleh aturan tak tertulis di dunia persilatan. Siapapun , tidak diperbolehkan menjalin asmara dengan saudara seperguruannya .
Dengan berlinang air mata mereka mengucapkan kata-kata perpisahan. Walaupun mereka bukan sedarah, dengan banyak pertimbangan mereka memilih untuk melupakan rasa yang tumbuh diantara mereka sebelum mereka terperosok lebih dalam.
__ADS_1
Nyi Arum Sari pergi ke bukit Kinasih yang menjadi tempat tinggalnya sekarang karena ada pria yang menanti cintanya. Pria itu dulu pernah menjadi bagian dari petualangannya . Setelah mempunyai anak, dia memberikan nama anaknya dengan nama saudara seperguruannya itu.
Walaupun belum bisa melupakan orang itu, namun kehidupannya tetap terasa bahagia berkat buah hatinya. Namun sayangnya, suaminya tergoda oleh seorang pendekar aliran hitam dan pergi meninggalkannya berdua dengan buah hatinya yang masih kanak-kanak.
Dia mendidik anaknya dengan sepenuh hati. Ia juga mewariskan ilmu pedang Padma kepadanya dengan sempurna. Walaupun pedang itu sampai sekarang masih tersegel bersama beberapa pedang legendaris lainnya tapi ilmunya masih terjaga selama beberapa generasi.
Anaknya kini yang masih berumur belasan tahun pergi berkelana untuk mencari ayahnya. Nyi Arum Sari sebenarnya merasa berat tapi karena ilmunya yang sudah cukup untuk menjaga diri ia akhirnya melepaskannya juga. Lagipula tidak ada gunanya menahannya, dengan pergi berkelana ia bisa mencari apa yang diinginkan. Benar-benar keras kepala anak itu.
__ADS_1
Sedikit mirip dengan anaknya, saudara seperguruannya juga keras kepala. Sering sekali ia membantah gurunya, ia juga diam-diam sering berlatih sendiri saat dirinya kalah saat adu tanding dengan nyi Arum Sari dulu. Walaupun sifatnya keras tapi entah mengapa hal itu menjadi daya tarik untuk Nyi Arum Sari muda. Ia diam-diam selalu memperhatikannya.
Masa lalu yang indah sulit sekali terulang kembali, walaupun kebetulan pun kejadiannya pasti takkan bisa sama lagi seperti dulu. Walaupun sangat menginginkannya, jalan yang tersisa hanya terus maju menghadapi kenyataan yang ada. Dewa tidak pernah mau memberikan jalan untuk kembali ke masa lalu.
Sekarang, jalan yang bisa dia jalani adalah melatih kedua muridnya dengan baik. Hanya itu saja yang bisa dilakukan, ia harap, di Swargaloka sana saudara seperguruannya bisa bahagia melihat kedua muridnya dilatih dengan baik.
Setelah puas , nyi Arum Sari bangkit dari sana. Ia penasaran dengan keadaan Erlangga yang telah ia beri minuman dari gelas yang juga berisikan mutiara. Ia harap sekarang kondisinya bisa lebih baik . Ia sebenarnya tidak yakin, tapi karena ilmu yang mengenainya bukan ilmu sembarangan tidak ada cara lain yang lebih berguna.
__ADS_1
Mutiara itu, ia dapat dari seorang bidadari saat masih muda dulu sebagai tanda terimakasih karena telah mengambil selendang dari siluman yang benar-benar tidak ia sukai. Katanya jika mutiara itu di rendam , airnya bisa mengobati segala penyakit atau efek samping dari ajian yang bahkan paling kuat di muka bumi . Karena hal itulah ia nyi Arum Sari meminumkan air rendaman mutiara itu. Semoga saja sekarang keadaannya bisa membaik.