Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#153. Tuan Guru


__ADS_3

"Bagunlah.. sudah setengah hari kamu belum makan.. !" ucap Maruka yang membawa banyak umbi - umbian serta beberapa ekor ikan.


Chen Khu yang bangun karena terkejut masih mengucek - kucek matanya ketika Maruka sudah berdiri dihadapannya. Chen Khu tidak habis pikir.. seberapa tinggi kemampuan yang dimiliki oleh kakek tua berkepribadian aneh dan susah ditebak itu, sebab sejak pertama kali bertemu dengannya.. Chen Khu selalu dibuat tidak berdaya dan seperti tidak memiliki ilmu beladari sama sekali, bahkan kehadirannya kali inipun sangat mengejutkan dirinya sebab insting kependekarannya seolah tidak berfungsi di hadapan kakek tua itu.


Dengan langkah berat, Chen Khu mencari kayu bakar untuk membakar umbi - umbian serta ikan yanh dibawa oleh Maruka, sedangkan Maruka memilih untuk tidur diatas pondok reot miliknya.


Matahari sudah diatas ubun - ubun saat Chen Khu menyelesaikan makannya, lalu menghampiri Maruka yang sedang tidur, tapi ketika Chen Khu baru akan merebahkan dirinya.. tiba - tiba Maruka dengan mata yang masih terpejam, melayangkan sebuah pukulan dan membuat Chen Khu membatalkan niatnya.


Pukulan bertubi - tubi berusaha ditangkis oleh Chen Khu namun kecepatan serta arah pukulan yang susah ditebak, membuat beberapa pukulan bersarang di wajah dan perutnya.. Chen Khu kewalahan menangkis serangan cepat Maruka meskipun Maruka melakukannya dengan mata tertutup dan dalam posisi duduk bersila setelah pukulan pertamanya tidak menemui sasaran karena Chen Khu berhasil menghindarinya.


Pondok reot itu bergoyang - goyang karena Maruka terus melancarkan serangan, Chen Khu yang khawatir pondoknya akan rubuh mencoba untuk berdiri namun sebuah aura menekannya dan memaksanya untuk tetap duduk.


Chen Khu berusaha menenangkan diri, meskipun beberapa pukulan Maruka mengenainya namun tidak membuatnya terlempar karena Maruka memang tidak menggunakan tenaga dalam ataupun Qi dalam setiap pukulan yang dilayangkannya.


Chen Khu berusaha mengikuti irama pukulan Maruka dengan instingnya, perlahan namum pasti, Chen Khu mulai bisa mengimbangi kecepatan Maruka dengan membiarkan tubuhnya bergerak mengikuti insting.


"Setiap pendekar harus memiliki insting yang tajam, karena tidak semua bisa dilihat oleh mata.." ucap Maruka saat pukulannya yang hampir mengenai hidung berhasil ditangkis oleh Chen Khu..


Chen Khu mulai memahami maksud Maruka dan terus bergerak menggunakan istingnya.. bahkan sesekali Chen Khu sudah mulai mampu memberikan serangan balasan meskipun dengan mudah mampu dipatahkan oleh Maruka tapi ada satu pertanyaan yang tiba - tiba muncul dalam benak Chen Khu..


Aura yang dimiliki oleh Maruka hanya menekannya untuk tetap duduk tapi tidak menghambat gerakannya..


"Bagaimana dia mengendalikan aura sebesar ini dan menggunakannya untuk menekan sesuai dengan keinginannya..??! " gumam Chen Khu dalam hati.. namun sebuah pukulan tiba - tiba bersarang tepat di ulu hatinya.

__ADS_1


"Konsentrasi.. satu hal yang harus tetap terjaga selama pertarungan.. " ucap Maruka menyudahi serangannya.


"Aku bisa merasakan ada sedikit hambatan sebelum pukulan terakhir mengenaimu.. seperti ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu.. " ujarnya melanjutkan.


"Gerakanmu seperti ada yang menghalangi, padahal sebelumnya.. kamu sudah berhasil membiarkan tubuhmu mengikuti instingmu.." Maruka menatap tajam pada Chen Khu seperti hendak menyelami pikirannya.


"Aura itu kek..!! aura itu selalu membuatku takjub.. " jawab Chen Khu tertunduk malu sambil menggaruk kepala.


"Hahaha.. aura..!! aku ingat.. sejak awal kamu menanyakan hal itu.. " Maruka terkekeh mendengat alasan Chen Khu yang bisa kehilangan konsentrasi karena memikirkan aura yang digunakan olehnya untuk menekan Chen Khu agar tidak berdiri.


"Aura..!! Setiap manusia pasti memiliki yang namanya aura..dan khusus bagi pendekar mereka bisa memiliki lebih dari satu aura.."


"lebih baik sekarang tunjukkan aura yang kamu miliki.. aku malas menjelaskan panjang lebar..!! " ucap Maruka sambil menggaruk kepalanya karena kebingungan menyusun kata - kata.


"Hmm.. aura yang kamu miliki itu hanya bisa menekan mental pendekar yang kekuatannya berada dibawahmu.


"Kamu harus merubah aura itu.. agar bisa menekan lawanmu secara fisik... " Maruka mulai menjelaskan secara detail.. serta memberikan petunjuk untuk memisahkan aura kematian dan aura kekuatan yang dimiliki oleh Chen Khu..


Mata Chen Khi terbelak dan mulutnya menganga saat Maruka memperlihatkan aura kekuatannya dan juga aura berwarna kebiru - biruan yang dimilikinya... Aura - aura besar yang dimiliki oleh Maruka akan membuat musuh - musuhnya akab berpikir seribu kali untuk bertarung dengannya..hanya saja.. Chen Khu tidak melihat aura kematian yang dimiliki oleh Maruka.


"Kenapa..?! kamu heran karena tidak melihat aura kematian yang kumiliki..?? " tanya Maruka pada Chen Khu yang tampak masih terpana..dan hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukan.


"Aku sudah merubah semua aura kematian yang kudapatkan dari setiap jiwa yang kubunuh menjadi aura langit.. dan aura itulah yang kugunakan untuk menekan semua yang ada disekitarku.. bahkan aku bisa mengarahkannya sesuai dengan keinginanku.. " ujar Maruka.

__ADS_1


"Sudah bukan saatnya melamun...!! cepat kerjakan.. " bentak Maruka.


Chen Khu kemudian melakukan apa yang diperintahkan oleh Maruka dan menjalankan latihan sesuai petunjuk yang diberikannya.


"Hmm.. bagus.. sekarang rubah aura kematian itu menjadi aura langit.. " ujar Maruka datar.. menutupi kekagumannya pada Chen Khu yang bisa melakukannya pemisahan aura dengan cepat bahkan dirinya hanya sekali memberikan petunjuk.


Maruka kembali memberikab petunjuk pada Chen Khu, dan perlahan aura hitam pekat yang menyelimuti tubuh Chen Khu seperti terserap kembali dalam tubuhnya lalu setelah semua aura itu hilang.. perlahan muncul aura berwarna biru yang terus membesar..dan saat aura berwarna biru sudah sebesar aura hitam pekat sebelumnya.. Maruka memberikan petunjuk lanjutan untuk menggunakan aura tersebut serta mengarahkannya sesuai keinginan Chen Khu.


"Jangan arahkan padaku bodoh..!! " umpat maruka lalu mengeluarkan aura miliknya agar lepas dari tekanan aura langit yang dimiliki Chen Khu.


"Hahaha.. maafkan aku kek.. aku belum terlalu menguasainya.. " ujar Chen Khu sambil tertawa.


"Kamu sangat berbakat.. dan kamu bisa mempelajari pengendalian aura kurang dari setengah hari.. " ucap Maruka kagum.


"Semua berkat petunjuk kakek..! " jawab Chen Khu merendah.


"Hei.. berhentilah memanggilku seperti itu.. " hardik Maruka lalu mengerahkan aura langit miliknya.. dan saat itu dilakukannya.. kulitnya yang semula terlihat keriput dangan janggut dan kumis serta alis panjang yang sudah memutih perlahan berubah.


Kulitnya berangsur - angsur menjadi kencang kembali.. bahkan kumis, janggut, dan alisnya kembali menghitam.. wajahnya juga memancarkan wibawa layaknya seorang bangsawan.. Chen Khu terpana dibuatnya.. sebab kakek tua berkulit keriput, kini terlihat seperti pemuda berusia sembilan belas tahun..dan kali ini wajah Chen Khu terlihat lebih tua dibandingkan Maruka.


Chen Khu lagi - lagi dibuat takjub dengan kemampuan yang dimiliki oleh Maruka.. pertemuannya dengan Maruka belum genap dua hari namun dirinya telah dibuat takjub berkali - kali.


"Panggil aku Tuan Guru..! " ucap Maruka tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2