
Panas terik matahari sudah sangat terasa tapi dua orang pendekar yang menunggangi kuda terlihat tidak terpengaruh oleh panasnya cahaya matahari yang sudah hampir tegak lurus dengan kepala mereka.
Bayangan mereka pun susah hampir sejajar dengan kuda tunggangan mereka dan debu mengepul yang mereka tinggalkan membuat orang - orang yang berada di tepi jalan yang mereka lalui harus menutup hidung.. dan setelah berkuda setengah hari penuh sampailah keduanya di desa terakhir wilayah Nalagarh atau desa terakhir yang menjadi batas kerajaan Gurjara sebelum memasuki wilayah kerajaan Andhara.
Chen Khu dan Mathanadeva kemudian memilih sebuah pohon rindang yang ada di pinggir sebuah sungai dangkal yang merupakan batas wilayah kedua kerajaan untuk beristirahat dan memberi minum pada kuda - kuda mereka.
"kita istirahat dulu di sini, setelah melewati sungai ini..kita akan memasuki wilayah Andhara.. " ujar Mathanadeva sambil merebahkan badanya diatas dedaunan kering.
"Baik yang mulia.. " jawab Chen Khu kemudian menambatkan kedua kuda yang mereka tunggangi di pinggir sungai lalu ikut berbaring disebelah Mathanadeva.
Angin sepoi - sepoi berhembus, menyejukkan udara di siang itu, dan menggoda keduanya untuk memejamkan mata.
***
Chen Khu dan Mathanadeva tiba - tiba terbangun saat mendengar derap langkah kuda dari seberang sungai yang memang tidak terlalu lebar, sambil mengucak matanya.. Chen Khu mencoba mencari tau dengan melompat ke dahan pohon yang lebih tinggi lalu menajamkan matanya.
Terlihat seorang gadis berusia dua puluh sampai dia puluh lima tahun sedang berlari dari kejaran lima orang pria bertubuh kekar dan bertampang cukup menyeramkan dengan menunggangi kuda sambil memutarkan tali yang dilemparkan pada gadis tersebut sambil tertawa terbahak - bahak.
"Ada apa Chen Khu..?! " tanya Mathanadeva yang sudah berada disamping Chen Khu.
"Kita harus menolong gadis itu yang mulia.. " jawab Chen Khu pelan sambil menunjuk gadis yang terjatuh dengan tali tambang terkalung di lehernya.
"Tapi itu sudah masuk wilayah Andhara Chen Khu.. " ujar Mathanadeva
" mmm.. apa saat ini aku sedang bersama raja Gurjara ..?" tanya Chen Khu tersenyum sambil memicingkan sebelah matanya.
Mathanadeva tertawa lalu melompat turun dari atas pohon disusul oleh Chen Khu dan dengan kelincahan serta ilmu meringankan tubuh, keduanya menuju ke arah perempuan tersebut.
__ADS_1
***
"kamu terlihat semakin cantik jika terus meronta seperti itu.. " ujar salah seorang pria sambil memegang tali yang terhubung pada wanita dihadapannya.
"Tolong..lepaskan aku..! " wanita tersebut berlutut sambil memohon dengan merapatkan kedua telapak tangannya.. meskipun wajahnya di tutupi debu serta beberapa bekas luka akibat terjatuh tapi tidak mengurangi kecantikan gadis itu.
" Melepaskanmu..?! hahaha.. " ucap pria tersebut sambil tertawa lalu menoleh pada rekan - rekannya yang juga ikut tertawa.
"Kami harus bersusah payah melawan ayahmu serta beberapa pengawalnya untuk bisa mendapatkanmu.. lalu sekarang kamu minta untuk dilepaskan..?? " sambung pria itu yang disambut gelak tawa rekan - rekannya.
"Aku mohon tuan.. lepaskanlah aku.. " ujar gadis itu masih terus memohon dan berharap sisi baik pria - pria dihadapannya itu akan tergugah sebab untuk mengharapkan pertolongan sangat tidak mungkin sebab tempat itu sangat sepi dan bahkan jika ada kebetulan ada orang yang lewat belum tentu mampu melawan kelima orang pria tersebut.
"Baiklah.. baiklah.. aku akan melepaskanmu tapi... " pria yang memegang tali itu menurunkan nada bicaranya.
"Tapi apa tuan.. ?" tanya gadis itu dengan pandangan penuh harap.
"BUUUKK...!!! "
tiba - tiba salah seorang dari mereka terlempar jatuh dari kudanya saat pria yang memegang tali sedang berjalan mendekati gadis dihadapannya yang tampak sudah pasrah akan nasib yang akan menimpanya.
Empat orang pria lainnya menoleh kebelakang saat melihat rekannya terlempar cukup juah dari atas kudanha dan mendarat dengan keras di tanah hingga pria tersebut tidak sadarkan diri dengan darah segar keluar dari mulutnya.
"Siapa kalian..? berani ikut campur urusan kami..? " tanya pria yang memegang tali lalu mengikat tali yang dipegangnya pada pelana kuda, tiga orang rekannya yang lain juga ikut melompat turun dari kuda lalu menghunuskan pedang masing - masing.
"Aku..?? tidak penting siapa aku.. yang pasti aku tidak suka jika ada pria pengecut dan hanya berani berbuat semena - mena pada wanita.. " jawab Mathanadeva yang kemudian ikut menghunuskan pedangnya dan bersiap menghadapi empat orang yang ada dihadapannya.
"Pengecut katamu..?? hah.. lalu memukul orang dari belakang itu dikatakan tindakan kesatria..? " ujar salah seorang pria dihadapan Mathanadeva yang sudah memasang kuda - kuda dan bersiap untuk menyerang dan memberi tanda pada rekannya yang lain untuk menyerang bersamaan.
__ADS_1
"Hahaha.. aku sudah membuatnya menoleh sebelum memukulnya.. "jawab Mathanadeva.
"Apa kamu baik - baik saja.. " ujar Chen Khu yang tiba - tiba sudah berada di samping gadis itu dan berniat untuk melepaskan tali yang menjerat leher gadis tersebut dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh gadis tersebut.
Kulit putih gadis itu tampak memerah akibat lilitan tali yang cukup erat.. Chen Khu kemudian memapah gadis itu untuk sedikit menjauh dari tempat yang sebentar lagi akan menjadi arena pertarungan.
"Kenapa kamu tidak membatu rekanmu..? " tanya gadis itu pada Chen Khu saat keduanya sudah berada cukup jauh.
"Tidak perlu.. kita hanya akan menonton saja dari sini.. " ujar Chen Khu lalu mendudukkan gadis tersebut pada sebatang kayu yang ada di bawah pohon sambil melihat ke arah Mathanadeva yang sudah lebih dulu maju menyerang.
Chen Khu bisa merasakan jika kemampuan keempat orang itu sangat jauh dibawah kemampuan yang dimiliki oleh Mathanadeva, bahkan jika menghadapi dua puluh orang dengan kemampuan setara pendekar kelas tiga seperti mereka tidak akan menyulitkan Mathanadeva.
***
Seorang penyerang langsung tergeletak tidak bernyawa saat Mathanadeva melancarkan serangan pertamanya. Pergerakan Mathanadeva yang gesit melewati serangan pedang dari tiga orang yang berada di barisan depan dan langsung mengincar pria lain yang berada di bagian belakang.. pria yang tadi memegang tali yang menjerat leher gadis yang kini sedang takjub menyaksikan kemampuan Mathanadeva.
Sebelumnya Mathanadeva menghindari tiga ayunan pedang yang bergerak menyilang dengan bergerak zig - zag lalu kemudian lututnya bersarang tepat di dada pria yang berdiri paling belakang.. dan saat pria itu sedang melayang di udara akibat kerasnya benturan dari lutut Mathanadeva.. Mathanadeva menyusulnya dan mengayunkan pedangnya yang dengan cepat membuat tubuh pria itu terpisah menjadi dua bagian.
Tiga orang lawannya kini menatapnya dengan wajah pucat.. mereka tidak menyangka ada orang yang mampu membunuh pimpinan mereka dengan sangat mudah bahkan hanya dalam satu tarikan nafas, mereka juga sampai tidak mengetahui bagaimana proses yang terjadi hingga tubuh pimpinan mereka itu sampai terpisah menjadi dua bagian.
Mathanadeva membalikkan badan menghadap tiga orang yang tersisa membuat tubuh ketiga orang itu bergetar hebat hingga tanpa sadar pedang ketiganya jatuh ketanah dan disusul oleh mereka dengan posisi berlutut.
"Ampuni kami tuan.. kami berjanji akan berubah menjadi orang baik.. " ucap salah satu dari mereka.
"Benar tuan.. kami akan kembali ke desa dan menjadi petani.. serta tidak akan berbuat onar atau merampok lagi " ujar yang lainnya lagi dengan tatapan nanar.
"Baiklah..!! kali ini aku akan mengampuni kalian, tapi jika suatu saat kita bertemu kembali dalam kondisi yang sama.. aku akan membuat kematian yang sangat menyakitkan bagi kalian.. " ucap Mathanadeva sambil menyarungkan pedangnya.
__ADS_1