
Hari sudah senja, tapi Chen Khu belum juga beranjak dari tempatnya duduk. Burung - burung sudah kembali ke sarangnya. Chen Khu yang kini berbaring di atas rerumputan memandang burung - burung yang bersarang di pohon yang menaunginya. Pikirannya kembali melayang ke sekte Kuda Terbang saat melihat serombongan burung yang sedang berlompatan pada ranting pohon dan terlihat seperti sedang bercanda. Chen Khu larut dalam lamunannya mengingat kembali semua yang ada di sektenya. Gurauan dari saudara - saudara seperguruanya serta canda tawa dari anak - anak kecil yang lahir dan dibesarkan dalam sekte menghiasi lamunannya..
"Tuan.. Tuan muda.. rupanya tuan ada di sini.. " ucap seorang pria berperawakan sedang datang tergopoh - gopoh menemui Chen Khu yang langsung berganti posisi menjadi duduk dan memasang senyum untuk bertemu pria yang datang itu.
"Tuan.. Maharaja Mathanadeva memerintahkanku untuk menemanimu dan menjadi penerjemahmu.. namaku Shiva.. " ucap pria itu kembali tanpa menunggu jawaban dari Chen Khu pada ucapan yang sebelumnya.
Chen Khu tidak langsung menjawab pria yang bernama Shiva itu, tapi Chen Khu terlebih dulu memperhatian pria yang berusia mungkin sedikit lebih tua darinya itu mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Usia pria itu kurang lebih sekitar dua puluh lima atau tiga puluh tahun dan penampilannya pun tidak tampak seperti orang dari benua daratan tengah, dengan menggunakan ikat kepala yang terbuat dari logam yang berwarna keemasan serta menggunakan pakaian mewah yang terjuntai hampir menyentuh tanah layaknya kaum bangsawan, tapi cara berbicara serta kefasihannya menggunakan bahasa dari benua daratan tengah membuat Chen Khu terus memperhatikan pria tersebut dengan tatapan menyelidik.
"Maaf tuan muda.. kenapa tuan muda memperhatikanku seperti itu.. apa ada yang salah dengan penampilanku..? " ucap pria itu kembali.
"Ooh.. maaf.. " ucap Chen Khu dengan sedikit terkejut mendengar pertanyaan Shiva.
"Aku hanya kagum dengan kemampuanmu berbicara dengan bahasa kami, seolah - olah kamu adalah orang dari Ming.. dan... siapa namamu tadi..? " ujar Chen Khu yang karena keterkejutannya dia tidak sempat menangkap ucapan pria dihadapannya yang sudah menyebutkan namanya.
"Shiva.. namaku Shiva tuan muda dan maharaja mengirimku kemari untuk menjadi penerjemahmu " jawab Shiva.
"Oh ya Shiva.. aku Chen Khu " ucap Chen Khu sambil berdiri dan memberi hormat seperti orang - orang benua daratan tengah.
"Aku sudah tau tuan.. maharaja sudah memberitahuku sebelumnya " jawab Shiva singkat tapi tetap menaruh rasa hormat pada Chen Khu.
"Hari sudah gelap.. sebaiknya kita kembali.. " ujar Chen Khu lalu mempersilahkan Shiva untuk jalan lebih dulu kembali ke bangunan megah yang ditempatinya tapi Shiva malah mempersilahkan Chen Khu untuk berjalan lebih dulu dan pada akhirnya mereka berjalan beriringan kembali ke rumah yang digunakan Chen Khu selama dua minggu terakhir yang rupanya kedatangan mereka sudah dinantikan oleh Dhanwantari yang terlihat sangat gelisah.
"Tuan muda.. anda dari mana saja.? jika terjadi apa - apa denganmu.. maharaja pasti akan sangat marah padaku " ujar Dhanwantari dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Chen Khu tapi dari raut wajahnya Dhanwantari tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
Chen Khu menoleh pada Shiva..yang kemudian segera menerjemahkan ucapan Dhanwantari tersebut.
"Maaf tuan.. aku hanya jalan - jalan sebentar untuk menghirup udara segar.. terus berada di tempat tidur membuat badanku rasanya pegal semua apalagi saya tidak terbiasa berbaring di kasur seempuk itu " jawab Chen Khu diiringi tawa kecil untuk menenangkan Dhanwantari.
"Kalau bagitu.. masuklah tuan.. karena sepertinya malam ini maharaja akan berkunjung ke sini untuk melihat perkembanganmu.. dan kalau tuan sudah merasa lapar.. aku akan meminta dayang - dayang untuk menyiapkan makan malam.. " ucap Dhanwantari sambil mempersilahkan Chen Khu dan Shiva untuk masuk kedalam rumah.
"Aku masih belum lapar tuan.. " jawab Chen Khu singkat yang langsung diterjemahkan oleh Shiva dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Danwantari.
"Aku akan menunggu maharaja disini dan aku meminta waktu agar aku dibiarkan untuk sendiri saja " ujar Chen Khu kembali saat sudah sampai di ruanh tengah yang cukup luas.
Shiva memberitahu Danwantari dan kemudian Dhanwantari memerintahkan seluruh pengawal dan dayang - dayang ada ada di ruangan tersebut untuk meninggalkan Chen Khu seorang diri.
__ADS_1
Saat suasana sudah sepi.. Chen Khu duduk bersila dan kemudian bermeditasi. Chen Khu berusaha untuk memulihkan kekuatannya secepat mungkin agar bisa segera kembali ke kekaisaran Ming untuk mengobati kegelisahannya.
Tiga jam sudah berlalu dan Chen Khu belum juga menyelesaikan meditasinya.. sampai akhirnya seorang pengawal membuka pintu dan Matahanadeva bersama putri yang sangat cantik dan berjalan dengan anggun mengikuti sang raja..dengan berpakaian sari dari kain sutra yang pakaian khas benua daratan selatan serta menggunakan kerudung yang terbuat kain tipis dan dipenuhi oleh banyak manik - manik serta gelang kaki yang terbuat dari emas masuk kedalam ruangan itu.
Chen Khu menghentikan meditasinya begitu langkah kaki Mathanadeva terdengar memasuki ruangan dan menyambutnya dengan hormat.
"Maharaja..!! " sambut Chen Khu.
"Kamu sudah kelihatan lebih sehat rupanya.. orang - orang benua daratan tengah memang sungguh luar biasa.." jawab Mathanadeva sambil membalas hormat dari Chen Khu.
Maharaja Matahanadeva adalah seorang raja yang berpenampilan sangat sederhana.. dia hanya mengenakan celana panjang yang bahkan tidak terbuat dari kain sutra, sedangkan ikat pinggang atau sabuk yang terbuat dari kain sedangkan badannya yang kekar dan berotot tidak tertutup sehelai kain pun hanya mahkota yang terlilit sorban yang selalu terpasang di kepalanya. Jika raja - raja dari kerajaan lain di benua daratan selatan selalu menggunakan pakaiann mewah serta memakai kalung serta sabuk dari emas yang lebar.. Mathanadeva hanya memakai sebuah tasbih besar yang disangkutkan pada sebelah bahunya dan sebilah pedang melengkung yang hampir tidak pernah lepas dari pinggangnya.
"Perkenalkan.. ini putriku Aahana.. " ujar Mathanadeva memperkanalkan gadis yang mengirinya menemui Chen Khu.. gadis itu merapatkan kedua telapak tangannya dan membungkuk memberi hormat pada Chen Khu yang tertunduk malu melihat kecantikan dan keanggunan Aahana.
"Jangan tertipu dengan penampilannya.. dia akan sangat cantik dan anggun jika berpakaian seperti ini.. tapi jika tangannya sudah memegang pedang.. maka dia akan berubah seperti seekor singa betina.. " ujar Mathanadeva kembali seolah ingin menggoda putrinya.
"Ayahanda selalu berkata seperti itu " ucap Aahana tertunduk malu dengan bibir yang dimanyunkan, Mathanadeva akhirnya mengelus kepala putrinya itu.. sedangkan Chen Khu hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Dia adalah anakku satu - satunya.. meskipun dia terlahir sebagian seorang wanita tapi kemampuan serta keberanianya boleh dibilang setara atau lebih tinggi dari laki - laki pada umumnya.. " lanjut Mathanadeva yang masih mengelus rambut putrinya itu.
Meskipun Aahana tidak memahami ucapan dari Chen Khu.. tapi dia mendapati Chen Khu sesekali meliriknya dan hal itu membuatnya sedikit malu.
"Hahaha.. usianya sekarang sudah delapan belas tahun, dan sudah belasan pangerang yang ingin meminangnya.. hanya saja belum seorangpun yang dapat memenuhi syarat yang diajukan olehnya.. " jawab Mathanadeva.
"Memangnya syarat apa yang diajukan oleh putri anda yang mulia..? " tanya Chen Khu
"Syaratnya hanya satu.. jika pangeran atau putra mahkota yang ingin meminangnya harus mampu mengalahkannya dalam pertarungan pedang satu lawan satu.. dan hasilnya.. sejak Aahana berusia tujuh belas tahun sampai sekarang belum ada seorangpun pangeran atau putra mahkota yang berhasil mengalahkannya, bahkan mereka dibuat babak belur olehnya " jawab Mathanadeva lalu menoleh pada putrinya sambil tersenyum.
"Syarat yang menarik.. seandainya saya seorang pangeran atau putra mahkota tentu saya ingin mengikutinya, hanya saja saya hanya dari kalangan biasa.. " ujar Chen Khu sambil tertawa.
"Tapi maaf maharaja..sudah dua hari ini saya tidak melihat pedang yang terakhir saya gunakan sebelum tersedot masuk kedalam lubang hitam itu.. " tanya Chen Khu kemudian yang tiba - tiba teringat pada pedangnya.
"Kamu tenang saja Chen Khu.. semua pakaian dan perlengkapanmu saat kami temukan di danau tersimpan rapi dan aman.. " jawab Mathanadeva lalu dengan sekali tepukan seorang pengawal masuk dan menghampiri Mathanadeva lalu berlutut dengan bertumpu pada sebelah lututnya.
"Ambil semua barang - barang milik Chen Khu dan bawa ke sini " perintah Matahanadeva.
"Baik yang mulia.. " jawab pengawal itu lalu pergi dan selang beberapa menit kemudian dia kembali dengan membawa sebilah pedang sebuah kantong dan pakaian yang sudah compang - camping tapi terlipat rapi.
__ADS_1
Chen Khu mengambil pedang halilintar serta kantong ajaib miliknya dengan senyum mengembang, tapi gerakannya terhenti saat akan mengambil jubahnya.
"Rasanya Wong Fei tidak melukaiku sebanyak ini " ucap Chen Khu sedikit bergumam tapi terdengar oleh Mathanadeva.
"Itulah pakaian yang kamu gunakan saat kami menemukanmu.. bahkan beberapa bagian dari pakainmu seperti hangus terbakar api " ujar Mathanadeva, lalu Chen Khu membuka lipatan pakaian itu dan memang benar.. beberapa bagian pakaiannya sudah hangus seperti terbakar api.
"Yang mulia Maharaja.. " tiba - tiba terdengar suara lalu seorang pria berbadan besar dengan tinggi hampir dua meter dengan pedang di pinggang memasuki ruangan agak tergesa - gesa meskipun tetap berjalan sambil menundukan kepala.
"Ada apa Panglima Khan..? "
"Maaf yang mulia.. kami baru saja mendapat laporan jika kota Chennai diserang oleh Siluman Harimau Putih " jawab Khan.
"Hmm.. sampai kapan serangan siluman akan berakhir " gumam Mathanadeva.. sambil menggelengkan kepala..
"Segera persiapakan pasukan.. besok pagi - pagi sekali kita berangkat... dan oh.. iya... Chen Khu.. ini panglima perang laut timur.. namanya Khan.. " ujar Mathanadeva pada Chen Khu dan Khan segera merapatkan kedua telapak tangannya serta membungkuk memberi hormat pada Chen Khu..
"Rupanya tuan muda sudah sehat " ujar Khan sambil memberi hormat.. dan Mathanadewa yang menerjemahkam ucapan Khan pada Chen Khu.
" Terimakasih sudah menyelamatkanku.. dan kalau boleh saya tau.. ada masalah apa yang mulia..? " tanya Chen Khu.
"Salah satu wilayah kami kembali diserang oleh siluman.. dan ini terus terjadi dalam kurun waktu dua tahun terakhir.. mereka membunuh penduduk dan menghancurkan daerah yang mereka datangi.. entah apa yang membuat mereka sehingga terus menerus muncul dan mengganggu ketenangan kami.. " ujar Matahanadeva dengan wajah sedikit murung lalu menolah pada Khan dan memberi tanda agar meninggalkan mereka serta memerintahkan putrinya untuk mempersiapkan diri. Khan berjalan dibelakang Aahana kemudian meninggalkan Chen Khu dan Mathanadeva.
"Lalu apa yang mulia akan lakukan..?" tanya Chen Khu setelah Aahana dan Khan sudah tidak terlihat.
"Kami akan melawan mahluk itu besok.. dan pagi - pagi sekali kami akan berangkat.. jadi untuk sementara Dhanwantari dan Shiva akan menemanimu " jawab Mathanadeva.
"Mmm.. maaf yang mulia.. jika yang mulia mengijinkan aku ingin ikut bersama yang mulia.. terus berada di dalam istana rasanya saya seperti dikurung yang mulia.. " ujar Chen Khu..
"hmmm... apa kamu yakin jika kondisimu sudah cukup sehat untuk ikut bersama kami..? sebab kita tidak tau sekuat apa lawan yang akan kita hadapi.. "
"Aku sudah memulihkan enam puluh persen kekuatanku yang mulia.. jadi aku yakin aku bisa ikut bersama yang mulia.. disamping itu aku juga ingin melihat keadaan masyarakan di benua daratan selatan ini.."
"Baiklah.. kalau memang seperti itu keinginanmu.. besok Shiva akan menjemputmu saat kita akan berangkat.. " ujar Mathanadeva.
"Terimakasih yang mulia.. " ujar Chen Khu dengan senyum lebar..
Mathanadeva kemudia berdiri lalu berpamitan pada Chen Khu untuk mempersiapkan diri menjelang keberangkantan mereka esok hari.
__ADS_1