
Setelah melewati beberapa desa, mereka akan sampai ke bukit Kinasih dalam waktu kurang lebih sehari perjalanan. Erlangga dan Dewi Ratih merasa senang karena tujuannya akan segera tercapai walaupun di satu sisi ia merasa sedih juga harus berpisah dengan teman barunya .
Sementara yang lain merasa sedih, pangeran yang kini lebih suka di panggil Aji Dharma itu pandangan matanya terus tertuju kepada pedang yang berada dipunggung Laksminingrum. Ingin rasanya ia memiliki pedang itu . Setelah beberapa kali hampir mati, ia kini terus saja memikirkan duel dengan Arya Bayu.
Walaupun sudah menyerahkan tahta kepadanya tetap saja ia tak bisa tenang . Sejak kehilangan kakak yang baginya adalah segalanya, hatinya terus berubah-ubah. Kesedihan, dan keputusasaan terus saja menggerogoti jiwa mudanya.
Saat sedang berjalan di hutan, tiba-tiba saja Erlangga merasakan kakinya seperti mati rasa. Ia terjatuh begitu saja . Ia berusaha berkali-kali untuk bangkit namun usahanya sia-sia saja. Kakinya rasanya tidak bisa di gerakkan lagi.
__ADS_1
"Aku akan menggendongnya . Kita akan terus berjalan sampai bukit Kinasih . Semoga saja disana kita bisa menolongnya," Aji Dharma memberikan inisiatif. Lagipula hanya dia satu-satunya orang yang memungkinkan untuk itu. Sebenarnya Aji Dharma tidak tahu menahu mengapa kedua orang yang bersamanya itu ingin pergi ke sana, yang jelas tempat itu adalah tujuan yang terdekat untuk sekarang.
Ia menduga disana ada seorang pendekar berilmu tinggi. Kalau tidak mana mungkin mereka mau kesana. Kalau pun tidak benar, pasti ada suatu rahasia yang tersimpan di sana.
"Maaf , aku jadi merepotkan mu," kata Erlangga saat menerima pertolongannya.
Erlangga terdiam, ia tak tahu mau berkata apa. Ia merasa dirinya tidak berguna sekarang, ia merasa sangat menyedihkan. Semuanya, ia pikir karena ulah pendekar bertopeng yang menyerang waktu itu. Andai saja hari itu dia tak bertemu, pasti sekarang kakinya tidak akan merasa mati rasa seperti sekarang.
__ADS_1
Sampai sekarang Erlangga masih tidak mengetahui tujuan pendekar itu, bahkan ia sama sekali tidak mengenalnya. Dalam hati Erlangga bertekad untuk mengalahkan pendekar itu.
Sebenarnya waktu itu ada seorang pria misterius yang mengatakan kepadanya bahwa ia mengetahui identitas pendekar yang memakai topeng perak. Tapi karena ia menginginkan Laksminingrum dan juga Dewi Ratih sebagai alat untuk mendapatkan informasi ia menolak mentah-mentah .
Ia selama ini merasa hanyalah beban saja , tanpa kedua temannya itu ia tak tahu akan seperti apa nasibnya. Sudah berkali-kali mereka menyelamatkannya dari bahaya yang tak terduga. Contohnya adalah saat ia di jebak oleh dua wanita siluman ular, tanpa ada Laksminingrum ia mungkin waktu itu bisa menjadi mangsa mereka. Atau mungkin saat Dewi Ratih berusaha merawatnya setelah mereka kalah dari pendekar topeng perak .
Ia merasa punya hutang budi yang besar kepada mereka berdua. Entah dengan apa ia akan membayar semua itu. Oleh karenanya ia dengan tegas menolak saat harus menyerahkan mereka berdua demi sebuah informasi. Suatu saat, Erlangga merasa mereka akan bertemu lagi. Saat itu, ia akan bertarung mati-matian dengan orang yang telah merenggut kebanggaannya.
__ADS_1
Setelah kakinya, kini badan hingga kedua tangannya juga ikut mati rasa. Rasanya ia seperti orang lumpuh. Seperti namanya, ternyata setelah benar-benar bersaksi, tubuh benar-benar lumpuh. Erlangga merasa sebentar lagi ia akan mati setelah mengalami mati rasa hampir di seluruh tubuhnya.