
Angin bertiup sedikit lebih kencang hingga membuat debu dan rerumputan kering terbang bergulung - gulung tersapu olehnya. Di padang Savana yang cukup luas dan diapit oleh dua buah bukit terlihat beberapa orang saling berbicara di bawah pohon yang cukup rindang.
"Namaku Motu.. terima kasih sudah menyelamatkan kami dan putriku.. " ujar pria tambun dengan pakaian yang kelihatan mahal meskipun penuh debu sambil merangkul bahu Hanisa.
"Tidak perlu dibesar - besarkan tuan.. kamk hanya kebetulan lewat.. Aku jarjit dan ini saudaraku Chen.. " jawab Mathanadeva.
" Aku tidak tau bagaimana harus berterima kasih.. tapi ini mungkin cukup untuk membalas jasa kalian.. " ucap Motu sambil menyerahkan sekantung uang.
"Maaf tuan.. sudah kewajiban kami untuk membantu sesama.. sebaiknya uang itu anda gunakan untuk menyantuni keluarga dari rekan - rekan tuan yang terbunuh.. " jawab Mathanadeva menolak pemberian Motu dengan sopan.
"Tapi tuan..?! " Motu merasa perlu untuk membayar jasa Mathadeva dan Chen Khu yang telah menyelamatkan nyawa serta harta bendanya.
" Sudahlah.. tidak perlu sungkan.. seperti yang aku katakan tadi.. kami juga hanya kebetulan lewat.. lagi pula persediaan kami masih lebih dari cukup.. "
"Tuan Jarjit.. kemampuan kalian sangat tinggi apakah kalian bersedia jika aku menyewa jasa kalian untuk mengawal perjalanan kami menuju Gurjara..? "
"ehm... maaf tuan.. perjalanan kami masih jauh.. lagi pula.. tuan hanya tinggal menyeberangi sungai dangkal yang ada di sana maka tuan sudah memasuki wilayah Gurjara.. dan kami menjamin.. setelah masuk wilayah Gurjara perjalan kalian tidak akan mengalami gangguan.. " ujar Chen Khu yang diam sejak tadi menimpali.
"Benar tuan.. perjalanan kami masih sangat jauh sedangkan kami harus bergegas.. " ujar Mathanadeva menambahkan.
"Baiklah kalau memang seperti itu..terima kasih atas bantuannya dan aku akan selalu mengingat jasa kalian.. semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi dengan suasana yanv berbeda.. " jawab Motu lalu memberi tanda pada para anggotanya untuk naik keatas kereta masing - masing.
"Sama - sama tuan kami juga mohon diri.. dan...nona.. jagalah ayah anda.. anda adalah wanita yang tangguh.. " ujar Mathanadeva sambil menatap wajah Hanisha dan membuat gadis itu tertunduk malu.
Aura kebangsawanan yang dimiliki oleh Mathanadeva memang tidak bisa ditutupi oleh penyamarannya.. aura itu membuat jantung Hanisha berdebar kencang saat Mathanadeva menatapnya.
"emm... kami mohon diri tuan.. ucap Chen Khu lalu menarik lengan Mathanadeva untuk pergi menuju kuda mereka.
***
"Apakah yang mulia menyukai gadis itu..? " tanya Chen Khu yang tiba - tiba menurunkan kecepatan kudanya sambil tersenyum dan diikuti oleh Mathanadeva.
__ADS_1
"Ah.. itu bukan urusanmu..!! " jawab Mathanadeva dan kembali memacu kudanya kembali.
"Horee.. yang mulia jatuh cinta... " teriak Chen Khu yang kemudian ikut memacu kudanya menyusul Mathanadeva.
***
"PUTRIKU.. MAAFKAN AYAH YANG TIDAK LANGSUNG KEMBALI KE IBUKOTA SETELAH APA YANG TERJADI DI NALAGARH.. JUGA MAAFKAN AYAH YANG TIDAK MEMBERITAHUMU AKAN RENCANA YANG KAMI JALANKAN DENGAN CHEN KHU.. MAAFKAN AYAH JIKA HARUS MERAHASIAKAM SEMUA ITU.
SAAT KAMU MEMBACA SURAT INI.. KAMI SEDANG DALAM PERJALANAN MENUJU KERAJAAN NISHADA.. AYAH MENITIPKAN GURJARA PADAMU, KARNA KELAK..KAMULAH YANG AKAN MENERUSKAN APA YANG TELAH DILAKUKAN OLEH KAKEKMU.
PERJALANAN KAMI INI MUNGKIN AKAN MEMAKAN WAKTU CUKUP LAMA..BISA JADI BEBERAPA MINGGU ATAU MUNGKIN BEBERAPA BULAN.. JADI.. SELAMA KEPERGIAN AYAH.. AYAH HARAP KAMU BISA TETAP MENJAGA STABILITAS KEAMANAN NEGERI KITA DAN TETAP MEMPERHATIKAN RAKYAT KITA.
AYAH MEMOHON MAAF JIKA BELUM BISA MENGATAKAN APA YANG SEDANG KAMI KERJAKAN, TAPI AYAH AKAN MENCERITAKAN SEMUANYA SAAT KEMBALI NANTI.
PELUK CIUM DARI AYAH..!! "
"Hmmm... sepertinya jiwa petualang ayahanda kembali kambuh saat bersama kakak Chen Khu.. " Gumam Aahana sambil menutup gulungan surat yang diantarkan oleh prajurit kota Nalagarh.
"Ayahanda dan kakak Chen Khu belum akan kembali ke sini.. mungkin dalam waktu yang cukup lama, dan selama kepergian mereka.. ayah memintaku untuk menggantikannya sementara waktu.. " jawab Aahana lalu menyerahkan gulungan yang telah dibacanya pada Khan.
Khan kemudian membuka gulungan tersebut dan membacanya.. lalu setelah menghela nafas panjang dan berat dia menyerahkan gulungan tersebut pada salah seorang pengawal kerajaan.
"Hmm.. kenapa yang mulia tidak memberitahu kita apa yang sedang mereka kerjakan.. " ucapnya lirih.
"Aku juga tidak tau paman.. tapi ayahanda pasti mempunyai alasan tersendiri melakukan itu.. "
"semoga saja mereka baik - baik saja selama perjalanan, dan semoga tidak ada kejadian besar di sini selama yang mulia tidak ada.. " ucap Khan.
"Semoga saja seperti itu paman.. "
***
__ADS_1
Hari mulai gelap saat Chen Khu dan Mathanadeva sampai di sebuah desa yang cukup ramai, keduanya lalu mencari penginapan untuk melewati malam itu setelah sebelumnya menyerahkan perampok yang mereka tangkap siang tadi.
"Perjalanan hari ini sangat melelahkan Chen Khu.. Aku harus membersihkan badan supaya lebih segar.. " ucap Mathanadeva saat menatap papan nama bertuliskan Kechandeep.
"Sama yang mulia.. hari ini suhunya sangat panas.. bahkan seorang raja harus menunda pertemuannya dengan gadis yang disukainya.. " jawab Chen Khu yang sedang menambatkan kuda sambil tersenyum dan melirik pada Mathanadeva.
Mathanadeva melayangkan pukulan ke arah perut Chen Khu yang berulangkali terus menggodanya selama perjalanan, tapi Chen Khu mampu menghindari pukulan tersebut dan berlari memasuki penginapan sambil tertawa.
Penginapan yang mereka singgahi memang tergolong mewah.. penginapan ini memiliki tiga lantai dan lantai dasar merupakan restoran yang sudah sangat ramai saat keduanya memasuki restoran tersebut.
"Kami memesan satu kamar untuk dua orang " ujar Mathanadeva pada meja khusus yang ditempati pelayan penginapan.
"Baik tuan.. mari.. " ujar pelayan itu dengan senyum ramah mengajak Mathanadeva dan Chen Khu menuju lantai tiga.
Beberapa orang pendekar yang sedang makan direstoran mengamati Chen Khu dan Mathanadeva saat menaiki tangga..
Pakaian mereka memang tidak mencolok.. hanya saja Mathanadeva yang membawa pedang serta perawakan Chen Khu yang bermata sipit dan dengan kulit lebih cerah dibandingkan penduduk benua selatan pada umumnya tentu saja menarik perhatian.
Keduanya pendekar itu biaa merasakan jika beberapa pasang mata mengawasi mereka namum mereka mengabaikannya sebab tidak ingin mendapatkan masalah dan hanya ingin beristirahat serta mengisi perut agar bisa secepatnya kembali melanjutkan perjalanan.
"Ini kamarnya tuan...." ujar pelayan dengan ramah saat mereka sampai pada sebuah kamar yang cukup luas.
"Terima kasih..! " balas Mathanadeva lalu memberikan sekeping koin emas sebagai tip bagi pelayan tersebut, dan membuat pelayan itu tersenyum bahagia.
"oh.. iya tuan.. penginapan kami juga menyediakan permandian air panas.. yang ada dibagian belakang penginapan ini.. tuan bisa ke sana melalui tangga itu.. " ucap pelayan tersebut dengan jari telunjuk mengarah pada tangga yang terletak di ujung lorong.
Mendengar permandian air panas, Mathanadeva dan Chen Khu saling berebut masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.. rasa penat karena debu serta keringat selama perjalanan membuat berendam di permandian air panas seolah sesuatu yang harus segera dilakukan.
"Untuk makanannya bagaimana tuan..? " ucap pelayan tersebut setengah berteriak karena Mathanadeva yang memasuki kamar setelah Chen Khu sudah menutup pintu.
"Nanti saja.. kami akan ke bawah.. " balas Mathanadeva.
__ADS_1
Pelayan tersebut pun tersenyum mendengar jawaban Mathanadeva sambil memandangi koin emas ditangannya.. setelah dilontar - lontarkan beberapa kali.. koin tersebut akhirnya dimasukkannya kedalam saku lalu pelayan tersebut berjalan kembali ke mejanya dengan senyum penuh kebahagiaan.