
"Apa urusanmu cah ayu? Kalau kami mau memperkosa gadis itu? Kamu cemburu?"
"Cemburu? Kalian mau aku juga? Lewati dulu mayatku," Dewi Ratih berkata dengan santai. Seakan ia merasa bakal menang melawan dua pemuda desa yang sepertinya punya niat tidak baik terhadap gadis yang berlindung dibelakang tubuhnya.
"Kamu mau juga? Kebetulan kami berdua," dengan senyum cabul salah satu dari orang itu berkata.
"Tidak semudah itu. Kalian pikir kalian siapa?" dengan menggunakan kelincahan kakinya ia bermain-main dengan dua orang itu. Dalam sekejap kedua orang itu langsung minta maaf dan kemudian lari terbirit-birit.
"Sekarang sudah aman. Jangan pasang ekspresi takut lagi, kamu sudah aman," dengan lembutnya Dewi Ratih berkata kepada gadis yang masih merasa takut itu.
"Sekarang coba ceritakan mengapa mereka hendak berbuat seperti itu kepadamu,'' kata Dewi Ratih lagi.
"Aku tidak kenal mereka berdua. Aku tadi sebenarnya disuruh bersembunyi oleh orangtuaku. Hari ini petugas pajak datang untuk menarik pajak dari para penduduk."
"Lantas mengapa kamu bersembunyi?'
"Aku tidak mau dibawa paksa ke istana. Siapapun yang tidak bisa membayar pajak maka anak gadis di rumah itu harus dibawa sebagai jaminan."
__ADS_1
"Sekarang aku mengerti."
"Nisanak ini orang luar ya?"
"Bisa dibilang begitu. Apakah kondisi kerajaan disini sangat parah? Aku pernah bertemu dengan seseorang yang mengatakan kalau sekarang kejahatan di negeri ini meningkat ya?"
"Negeri kami sepertinya sudah hancur, sebagian tetanggaku sudah pindah ke negeri-negeri yang asing. Kata mereka, kalau terus disini sama dengan mempercepat kematian. Aku juga sebenarnya ingin pergi, namun orangtuaku belum ingin pergi. Tanpa mereka aku juga tidak bisa apa-apa."
"Kenapa mereka tak mau pergi?"
"Lalu kenapa kamu tidak meninggalkan mereka saja? Bukankah kamu bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik?"
"Aku tidak ingin pergi sendirian. Aku tidak bisa pergi meninggalkan mereka apapun alasannya."
"Kalau begitu, kamu harus bersabar. Negeri ini akan berjaya lagi. Ku dengar ada pasukan pemberontak yang sedang .menyusun strategi ya?"
"Kalau itu aku tidak tahu. Lagipula mereka juga tidak akan menerima wanita lemah seperti saya ini."
__ADS_1
"Oh ya berhubung hari sudah gelap boleh kami menumpang bermalam di rumahmu?"
"Kami?"
"Ada dua temanku yang letaknya tidak jauh dari sini.Kebetulan tadi saat beristirahat kami mendengar suaramu meminta tolong. Karena kedua temanku terlalu lelah jadi aku yang menolong mu."
"Kalau begitu, panggil temanmu itu. Kalian boleh bermalam di tempatku. Tapi maklum rumah kami kecil, jadi mungkin kalau tidur di ruang tengah ."
"Santai saja, itu semua bukan masalah."
***
Wira merasa senang saat ia melihat para pasukan pemberontak sedang berkumpul. Tekadnya untuk bergabung bersama mereka sudah kuat. Selain karena alasan kemiskinan dan lainnya, ia punya sebab khusus membuatnya merasa tekadnya telah bulat. Walaupun mati sekalipun ia tak peduli.
Alasan utama ia bergabung tentu saja karena rasa amarah yang telah mencapai puncaknya kepada para prajurit yang bertindak sewenang-wenang terhadap adiknya. Ia melihat dengan kepala sendiri adiknya dipaksa ikut oleh para prajurit yang paling mumpuni ilmunya. Katanya bakal di jadikan selir di istana. Tapi tetap saja, hal itu tidak boleh terjadi. Bagaimana mungkin anak berusia 13 tahun bisa dijadikan selir?
Waktu itu ia tak dapat melawan mereka. Namun. setelah mendengar adanya pasukan pemberontak, ia tanpa berpikir panjang langsung meninggalkan desanya. Ia tak peduli lagi dengan nyawa selama adiknya tidak dijadikan budak untuk memenuhi hasrat mereka .
__ADS_1