Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#63. Pembalasan Sekte Singa Gurun. I


__ADS_3

Pagi itu, matahari belum menampakkan dirinya di ufuk timur, tapi semua anggota Sirkus Ma Xi sudah terlihat sibuk memeriksa dan memasukkan barang bawaan mereka ke dalam kereta kuda. Perjalanan mereka harus lebih awal atau mereka akan kemalaman dalam perjalanan yang akan melewati sebuah hutan yang sangat lebat sebelum mencapai desa berikutnya.


Hutan itu dikenal dengan nama Hutan Lumut, yang mana sinar matahari sangat sedikit yang bisa masuk menembus celah dedaunan sehingga kelembaban yang tinggi di dalam hutan menyebabkan lumut - lumut sampai menutupi batang - batang pohon atau lantai hutan yang tidak ditumbuhi rumput.


Hutan Lumut menjadi satu - satu jalan yang bisa digunakan sebagai akses untuk menuju kota Tainan, meskipun hutan itu juga terkenal dihuni oleh binatang buas atau bahkan perampok yang menjadikan Hutan itu sebagai tempat untuk melancarkan aksi - aksi mereka.


Sejak terjadinya percobaan kudeta yang dilakukan oleh Pangeran Shun Kwo, kelompok - kelompok merajalela karena petugas - petugas pemerintah di perintahkan untuk senantiasa mengantisipasi serangan yang bisa saja terjadi sewaktu - waktu sehingga kelompok - kelompok perampok ini tumbuh subur bahkan bisa bergerak sangat bebas, karena petugas - petugas tersebut tidak ada yang diperbolehkan untuk meninggalkan kota - kota yang ada di kekaisaran Ming.


Setelah selesai berkemas.. Gioro Kun memerintahkan rombongannya untuk segera berangkat, Chen Khu duduk bersama kusir kereta seperti sebelumnya sedangkan Xie Annchi tetap bersama para wanita dalam kereta kuda.


Meskipun matahari belum menampakkan wujudnya.. tapi cahayanya perlahan - lahan mulai menerangi jalan yang dilalui oleh rombongan tersebut.. masih tampak sisa - sia pertarungan yang terjadi semalam.. selain rumah - rumah yang rata dengan tanah.. juga terdapat beberapa lubang besar ditanah yang diakibatkan oleh energi besar yang membentur tanah. Rombongan itu akhirnya keluar dari desa tanpa ada hambatan kerena jalan - jalan desa yang masih sepi, dan tampak dihadapan mereka sebuah hutan yang sangat lebat.


Para kusir yang mengendalikan kuda - kuda penarik kereta sudah memahami kalau mereka tidak boleh membuang waktu selama perjalanan atau mereka akan kemalam dalam hutan itu, dan jika itu terjadi mau tidak mau mereka harus melewati malam dengan berkemah dihutan, sebab.. jangankan malam hari.. siang haripun cahaya yang masuk dalam hutan itu sangat terbatas, belum lagi jika sedang bernasib sial bisa saja mereka berjumpa hewan buas atau kelompok - kelompok perampok.

__ADS_1


Dua jam berlalu sejak pertama memasuki hutan lumut, rombongan tersebut sejauh ini tidak mendapatkan hambatan apa - apa, seolah perjalan mereka akan lancar - lancar saja sampai Chen Khu mengangkat tangannya, memerintahkan rombongan untuk berhenti.


Para Kusir menarik tali kekang kuda sekencang - kencangnya, akibatnya kereta - kereta kuda berhenti dengan tiba - tiba yang mengagetkan seluruh penumpangnya.


"Ada Apa..?! " ujar Gioro Kun sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta yang ditumpanginya.


Anggota rombongan yang lain juga menengok keluar kereta melalui jendela, mencoba mencari tau apa yang membuat kereta yang mereka tumpangi berhenti secara tiba - tiba.


"Kakak.. ada apa..? " tanya Xie Annchi pada Chen Khu sesaat setelah menuruni kereta dan dengan sekali lompatan dia sudah berada disamping Chen Khu.


Xie Annchi sudah mengetahui jika Chen Khu berkata seperti itu, maka ada orang yang memiliki kekuatan besar yang dirasakannya dan keberadaanya bersama Chen Khu justru hanya akan membagi perhatiannya.


Chen Khu langsung melompat ke dahan pohon dan menuju ke arah yang dimaksudnya dengan cepat, dan tidak lama kemudian Chen Khu sampai dan melihat ratusan orang yang kesemuanya adalah pendekar. Dengan pandangan menyelidik Chen Khu berusah mencari tau siapa orang - orang yang ada dihadapannya.

__ADS_1


Seorang pria berbadan besar dengan janggut dan kumis tebal serta bersenjatakan golok besar yang tersandang di punggung tampak seperti pimpinan mereka dan dikelilingi puluhan pendekar yang semuanya juga menyandang berbagai macam senjata yang berukuran besar sedangkan ratusan orang lainnya duduk berkerumun dan terpisah menjadi beberapa kelompok.


Chen Khu bisa merasakan tingkat kekuatan pria yang menyandang golok besar dipunggungnya adalah pendekar yang sudah berada pada puncak level enam, sedangkan pria - pria lain yang mengelilinya ada beberapa yang sudah mencapai pendekar level enam dan ada juga yang masih berada pada level lima.


Chen Khu mengamati dengan teliti dan seperti mengenali salah seorang dari mereka dengan pedang besar di punggungnya.


"Hmmm... itu adalah pria yang tempo hari " gumam Chen Khu dalam hati, lalu kemudian menajamkan pendengarannya berusaha mendengarkan pembicaraan mereka.


"Sepertinya kereta kuda itu berhenti, mungkin ada diantara mereka yang menyadari kalau kita di sini.. salah satu dari kalian coba periksa..!!" ujar pria yang menyandang golok besar dipunggungnya.


Seorang pendekar level lima langsung berdiri dan kemudian melompat pada dahan pohon menuju kereta kuda yang dimaksud oleh pimpinannya, dengan cepat dia melomoat dari satu dahan ke dahan yang lain tapi tiba - tiba....


"HMPPPFFFT.. "

__ADS_1


Seseorang tiba - tiba membekapnya dari belakang.. setelah pendekar itu cukup jauh dari rekan - rekannya, lalu dengan cepat.. orang yang membekapnya itu sudah menempelkan sebilah pedang di lehernya.


"Pedang ini bernama Pedang Halilintar.. pedang ini dalah pedang yang sangat tajam.. jadi... bergerak sedikit saja atau bersuara sedikit saja tanpa seijinku.. aku jamin.. kepalamu pasti langsung lepas dari tubuhmu ".


__ADS_2