
Rombongan Sirkus Ma Xi kembali melanjutkan perjalanan tanpa menunda lebih lama setelah Xie Annchi dan Chen Khu kembali bergabung dengan mereka.
Para anggota sirkus itu, tidak ada yang mengetahui secara persis kejadian barusan.. mereka hanya mendengar suara pertarungan yang disertai suara dentuman - dentuman keras dari kejauhan, dan ketika melewati area yang baru saja menjadi arena pertarungan, keterkejutan anggota - anggota sirkus itu semakin menjadi - jadi.
Meskipun hanya menyaksikan sekilas dari jendela kereta, tapi mereka masih bisa melihat sisa - sisa pertarungan yang meninggalkan ratusan mayat yang kini sudah dihinggapi oleh ratusan burung bangkai, sedangkan pepohonan yang tumbang juga terlihat seperti pembukaan lahan besar - besaran untuk medirikan sebuah desa.
Pemandangan yang mengerikan itu membuat para anggota sirkus itu merasakan dua hal yang berlawanan pada batin mereka. Disatu sisi mereka merasa aman jika Chen Khu dan Xie Annchi terus bersama mereka sampai di kota selanjutnya, tapi di sisi lain.. hati mereka juga diliputi oleh kekhawatiran, jika nanti bayaran yang mereka berikan pada sepasang pendekar itu tidak memuaskan keduanya.. bisa saja nanti mereka akan mengalami hal yang sama dengan parampok - perampok yang berusaha menghadang mereka sejauh ini.
Perjalan mereka praktis tidak mengalami hambatan..dan saat hari sudah mulai gela, mereka berhasil mencapai desa terakhir sebelum memasuki kota Tainan esok harinya.
Desa Yuunan.. menjadi desa terakhir untuk mereka beristirahat sebelum memasuki kota. Desa yang sangat ramai, meskipun matahari telah memasuki peraduannya. Hal ini tidaklah mengherankan.. karena warga desa itu banyak yang bekerja di kota Tainan dan baru kembali ke rumah saat hari sudah petang dan baru sampai di desa mereka ketika hari mulai gelap.
Mencari penginapan di desa ini juga tidaklah sulit, karena desa ini merupakan daerah persinggahan oleh para pedagan yang kelelahan atau akan menyiapkan fisik untuk melewati hutan lumut yang memakan waktu perjalanan seharian penuh dengan berkuda.
Setelah membersihkan badan dan beristirahat Gioro Kun mengajak Chen Khu dan Xie Annchi untuk menyantap makan malam di sebuah restoran yang terletak disebelah penginapan mereka, yang ternyata sudah hampir penuh saat mereka memasuki pintu restoran itu.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Chen Khu dan Gioro Kun menikmati sebotol arak sedangkan Xie Annchi hanya mengamati keadaan restoran.
Telinga Chen Khu menangkap pembicaraan beberapa orang yang membahas tentang walikota baru Tainan yang merekrut pemuda - pemuda secara besar - besaran untuk dijadikan prajurit kekaisaran. Dari nada bicara mereka seperti mengandung kecemasan akan adanya perang di masa depan, apalagi kota Tainan adalah kota terdekat dengan perbatasan, dan jika suatu saat terjadi peperangan maka kota Tainan dan dasa - desa di sekitarnya akan mendapatkan dampak yang sangat besar.
__ADS_1
Konflik internal yang terjadi dalam istana kekaisaran Ming memang tertutup dari dunia luar, sehingga banyak penduduk kekaisaran Ming yang tidak mengetahui percobaan kudeta yang dilakukan oleh Pangeran Shun Kwo yang dibantu oleh Kekaisaran Qing.
Perekrutan prajurit secara besar - besaran yang dilakukan oleh walikota baru memang belakang menjadi topik yang sering dibicarakan oleh para penduduk, belum lagi.. hal yang sama juga terjadi di kota - kota lainnya yang terdapat di kekaisaran Ming.
"Maaf kalau sudah menunggu terlalu lama tuan " ujar salah seorang pelayan yang mengantarkan makanan ke meja yang digunakan oleh Chen Khu dan kawan - kawan.
Mereka hanya mengangguk sambil tersenyum pada pelayan itu, lalu pelayan itu kemudian pergi meninggalkan meja mereka.
"Tuan Gioro Kun.. sebelum tuan menuju ke kota Tainan.. apakah tuan juga mendengar kalau di kota - kota lain juga melakukan perekrutan prajurit secara besar - besaran..? " Chen Khu bertanya sambil mengunyah makanannya.
"Iya tuan.. dari beberapa kota yang kami lewati.. mereka memang menerapkan aturan..pemuda yang berusia diatas tujuh belas tahun diharuskan untuk bergabung menjadi prajurit kekaisaran " jawab Gioro Kun.
Dalam hati Chen Khu juga mulai diliputi kebimbangan.. antara terus melanjutkan perjalan untuk mencari Hutan Kematian dan Lembah Harapan untuk lebih meningkatkan kemampuannya.. atau harus kembali ke sekte Kuda Terbang untuk menunggu perang yang bisa saja terjadi sewaktu - waktu, hanya saja.. jika perang baru akan terjadi satu atau dua tahun lagi, berarti dia telah membuang sangat banyak waktu untuk berlatih meningkatkan kemampuannya agar dapat menggunakan Pedang Penguasa Langit, tapi disisi lain.. Chen Khu juga tidak mempunyai keyakinan yang cukup apakah dia bisa menemukan Hutan Kematian dalam waktu dekat.
Berbagai pikiran yang berkecamuk dalam kepalanya membuat nafsu makannya meningkat, dan sudah tiga kali ia meminta pelayan untuk membawakan makanan, Xie Annchi hanya memandang kakak seperguruannya yang memiliki nafsu makan tidak seperti biasanya itu dengan tersenyum kecil.
Meskipun tidak mengetahui secara pasti, tapi Xie Annchi bisa merasakan kalau kakak seperguruannya itu sedang memikirkan sesuatu yang tidak akan dia ceritakan pada sembarang orang.
---
__ADS_1
"Kakak.. saat makan tadi.. aku perhatikan kalau kakak seperti sedang memikirkan sesuatu hal yang sangat rumit.. " tanya Xie Annchi yang datang menemui Chen Khu di kamarnya karena penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Chen Khu.
"Hmmm... aku jadi bimbang untuk terus melalukan perjalanan itu atau kita harus kembali ke sekte " jawab Chen Khu sambil mengelus - elus dagunya.
"Maksud kakak bagaimana..? ujar Xie Annchi yang terkejut dengan jawaban Chen Khu.
"Kamu dengar sendiri tadi kalau para walikota telah merekrut prajurit secara besar - besaran..itu berarti bisa saja akan terjadi perang dalam waktu dekat ini " jawab Chen Khu.
"Lalu apa hubungannya dengan perjalanan kita..? " Xie Annchi kembali bertanya karena belum menemukan maksud pembicaraan Chen Khu.
"Jika perang terjadi.. maka seluruh pendekar aliran putih yang tergabung dalam asosiasi yang baru saja dibentuk oleh kaisar Shun Zhi pasti akan ikut ambil bagian..dan aku memikirkan Guru, sekte kita serta nasib sekte - sekte lain yang ikut berperang " jawab Chen Khu dan Xie Annci terlihat mengangguk - anggukan kepalanya seperti mulai menangkap maksud Chen Khu.
"Kakak.. kalau perang terjadi.. kita kan bisa kembali ke sekte secepatnya untuk bergabung dengan aliansi " ujar Xie Annchi.
"Hahahaha.. tidak semudah itu.. jika kita menemukan Hutan Kematian dan sudah berada di dalamnya.. maka kita tidak akan mengetahui informasi yang terjadi diluar.. " Xie Annchi mulai menggaruk - garuk kepalanya mendengar jawab Chen Khu.
"Lalu kita harus bagaimana kak..? "
"Hmmm... aku juga belum tau.. tapi sebaiknya kita menemui Ken untuk mencari informasi yang lebih banyak jika sudah sampai di kota Tainan besok, baru setelah itu kita akan menentukan sikap harus seperti apa " jawab Chen Khu sambil menarik nafas dalam - dalam lalu membuangnya.. seperti ingin membuang beban yang ada di pikirannya.
__ADS_1
Xie Annchi yang juga mulai ikut - ikutan bingung karena belum mendapatakan jawaban yang pasti dari Chen Khu kemudian kembali ke kamarnya untuk beristirahat, sedangkan Chen Khu melewati malam itu dengan bermeditasi mencoba membangkitakan kembali energi Chi yang sudah lama tidak digunakannya dan ternyata energi itu menjadi syarat mutlak untuk bisa menggunakan Pedang Naga Langit.