Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#68. Menuju Hutan Kematian


__ADS_3

Chen Khu memang tidak mengetahui secara persis letak hutan kematian, tapi berdasarkan cerita dari yang didengarnya barusan dia berkeyakinan kalau hutan kematian yang dimaksudkan oleh Ken adalah Hutan Kematian yang pernah ditinggalinya selama sepuluh tahun.. hanya saja sekte Lembah Tengkorak..Lee Han tidak pernah bercerita kalau di dekat Hutan Kematian ada sebuah sekte beladiri.


Timbul keinginan Chen Khu untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang letak Hutan Kematian yang diceritakan oleh Ken.. dan Chen Khu merasa kalau tempat yang tepat untuk mendapatkan informasi itu adalah restoran atau kedai minuman yang banyak dikunjungi oleh orang - orang yang berpenampilan seperti pendekar.


Dan seperti yang dikatakan oleh Ken.. jika kota Tainan saat ini dipenuhi oleh banyak pendekar yang mengincar kitab kuno seperti berita yang tersebar.. Chen Khu banyak menjumpai orang - orang yang berpenampilan seperti pendekar memenuhi jalan - jalan kota.. meskipun pendekar - pendekar itu menyembunyikan kemampuan yang mereka miliki, tapi Chen Khu bisa merasakan kalau sebagian besar dari yang dijumpainya memang terdiri dari pendekar - pendekar tingkat tinggi.


Chen Khu lalu berjalan menuju ke sebuah restoran yang terlihat sangat ramai oleh pendekar - pendekar yang sedang makan tapi ada juga yang terlihat mampir hanya untuk memimum arak.


Chen Khu memasuki restoran tersebut dan lalu duduk di sudut ruangan yang belum terisi.. dan sambil menikmati arak yang dipesannya dia menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan pembicaraan mereka.


Dari beberapa meja yang ditempati oleh beberapa pendekar.. Chen Khu menguping pembicaraan mereka tentang letak Hutan Kematian yang ada di sebuah gunung yang tampak di kejauhan, ketika Chen Khu melongok keluar melalui jendela yang ada disampingnya.


Orang - orang itu menyabut nama gunung itu adalah Gunung Wutan. Chen Khu awalnya tidak mengenali gunung yang terlihat besar dari kejauhan karena memang dia melihat dari sisi yang berbeda jika melihat gunung Wutan dari desanya. Tapi ketika mendengar jika Hutan Kematian terletak di Gunung Wutan.. bertambahlah keyakinan Chen Khu kalau hutan itulah yang dicarinya.


Chen Khu sangat ingin menyelidiki kebenaran cerita yang didengarnya tapi jarak dari kota Tainan ke Gunung Wutan terlihat sangat jauh.. dan meskipun dia terbang ke sana bisa memakan waktu lama.. tapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk kembali ke Hutan Kematian tapi sebelum menurutkan niatnya dia harus memberitahu Xie Annchi terlebih dulu.


"Annchi.. sepertinya Hutan Kematian yang tadi diceritakan oleh Ken adalah hutan yang kita tuju.. hanya saja jaraknya masih terlalu jauh dan mungkin akan memakan waktu hampir satu hari jika kita terbang ke sana " ujar Chen Khu yang lansung menemui Xie Annchi saat kembali ke kediaman walikota.


"Apakah kakak akan ke sana sendiri..? " tanya Xie Annchi sambil tertunduk dan memainkan jarinya.


"Hmm.. disatu sisi aku tidak ingin membawamu kedalam bahaya.. karena jika betul hutan itu yang dimaksudkan.. maka kita pasti akan berhadapan dengan siluman - siluman yang sangat berbahaya.. tapi disisi lain.. jika aku tidak mengajakmunke sana.. itu sama saja aku tidak menjalankan perintah dari guru " jawab Chen Khu. Xie Annchi yang karena kegirangan mendengar jawaban dari kakak seperguruannya itu langsung melompat memeluk Chen Khu sambil mencium pipinya.


Wajah Chen Khu memerah.. baru kali ini dia dicium oleh seorang gadis.. dan Xie Annchi yang akhirnya menyadari sikapnya yang berlebihan setelah melihat perubahan pada wajah Chen Khu tertunduk malu lalu berlari meninggalkan Chen Khu yang sedang mematung seperti baru saja terkena jurus totok yang mematikan seluruh peredaran darahnya.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu tapi Chen Khu masih mematung.. lalu setelah dapat menggerakkan tangannya.. dia mengelus - elus pipinya yang dicium oleh Xie Annchi sedangkan jantungnya terus berdegup kencang. Chen Khu baru menyadari kalau Xie Annchi sudah lari meninggalkannya setelah gadis itu menghilang dari pandangannya...dan tidak lama kemudian.. Xie Annchi sudah kembali bersama Ken yang terlihat tergesa - gesa.


"Aku sebenarnya sangat membutuhkan keberadaan kalian disini tapi jika hutan itu yang menjadi tujuan kalian.. maka aku tidak bisa menahan kalian lebih lama lagi disini, aku harap kalian bisa kembali secepatnya dan dalam keadaan selamat " ujar Ken yang sempat terkejut saat diberitahu oleh Xie Annchi bahwa dia dan Chen Khu akan berangkat menuju ke hutan Kematian.


"Aku berharap.. kekaisaran Qing tidak memulai perang dalam waktu dekat ini dan jika pihak aliansi mengirimkan pendekar tingkat tingginya ke sini tentu saja itu lebih dari cukup jika dibandingkan dengan bantuan dari kami " jawab Chen Khu.


"Hari sudah hampir gelap.. bagaimana kalau besok saja kalian berangkat ke sana..? " ujar Ken.. yang disahuti dengan anggukan oleh Chen Khu karena memang matahari sebentar lagi akan masuk ke peraduannya.


Ken Kemudian mengajak keduanya untuk berjalan - jalan mengelilingi kota Tainan dengan menumpang kereta kuda miliknya, yang tentu saja itu menarik perhatian warga kota yang masih sangat ramai meskipun hari sudah mulai gelap tapi mengenali kereta itu karena pada dinding kereta terdapat lambang Naga Emas milik kekaisaran Ming.


Pada sebuah tanah yang cukup lapang.. Chen Khu melihat sekelompok orang sedang sibuk mempersiapkan sesuatu yang dengan diterangi cahaya obor, dia lalu meminta pada Ken untuk mengarahkan kereta mereka untuk menghampiri orang - orang tersebut.


Orang - orang yang semula sedang sibuk bekerja untuk mendirikan sebuah tenda besar segera menghentikan aktivitas mereka begitu melihat kereta kuda yang sangat mewah dan berlambangkan Naga Emas menghampiri mereka dan segera memberi hormat begitu mengetahui jika kereta itu adalah milik walikota.


Pria paruh baya itu mengangkat kepalanya dan melihat tiga orang turun dari kereta dan salah seorang dari mereka berpakaian sangat mewah layaknua seorang pejabat tinggi.


"Nona Xie Annchi.. tuan Chen Khu.. rupanya kita bertemu lagi.. " ujar Gioro Kun dengan senyum mengembang..


"Kebetulan Walikota mengajak kami jalan - jalan keliling kota.. dan kami melihat kalian sedang sibuk mempersiapkan sesuatu meskipun hari sudah gelap.


"Kalian saling mengenal..? " tanya Ken pada Chen Khu..


"Kami menumpang rombongan mereka saat perjalanan ke sini " jawab Chen Khu.

__ADS_1


"Tuan Walikota.. kedua pendekar ini yang melindungi kami selama perjalanan.. kalau bukan karena mereka berdua.. mungkin kami tidak akan pernah sampai di kota ini " ujar Gioro Kun menjawab pertanyaan yang diajukan Ken pada Chen Khu.


"Besok kami akan memulai pertunjukan sirkus kami tuan.. jadi kami harus menyiapkan semuanya malam ini " ujar Gioro Kun kembali.


"Kuharap.. besok Tuan Walikota dan kalian berdua bisa datang untuk menyaksikan pertunjukan kami " ujarnya melanjutkan.


"Maaf tuan Gioro.. tapi kami masih harus melanjutkan perjalanan kami esok hari.. mungkin jika walikota mempunyai waktu luang..beliau yang bisa melihat pertunjukan kalian " ujar Chen Khu sambil melihat pada arah Ken.


Gioro Kun meminta anggotanya untuk menyiapkan tempat duduk untuk tamu penting yang datang, lalu mereka berbincang - bincang sambil mengawasi anggota sirkus yang tampak sudah mengerti dengan tugas masing - masing untuk menyiapkan pertunjukan mereka.


"Maaf tuan Gioro.. sepertinya kami harus mohon diri.. karena besok kami masih harus melanjutkan perjalanan " ujar Chen Khu sambil berdiri setelah berbincang cukup lama dengan pimpinan rombongan sirkus Ma Xi tersebut.


"Ternyata mereka punya hubungan dekat dengan walikota.. pantas saja jika mereka mempunyai banyak koin emas " gumam Gioro Kun dalam hati setelah kereta kuda milik walikota meninggalkan tempat mereka.


Pada pagi harinya.. Ken sudah menunggu kedua tamu istimewanya keluar dari kamar yang akan melanjutkan perjalanan.


"Kuharap kalian bisa hadir tepat waktu jika kekaisaran Qing menyerang kita sewaktu -waktu " ujar Ken saat Chen Khu dan Xie Annchi menemuinya..


Meskipun cerita tentang Hutan Kematian sangat menyeramkan tapi Ken berkeyakinan bahwa Chen Khu dan Xie Annchi bisa melaluinya dengan kemampuan yang dimiliki keduanya terutama kemampuan yang dimiliki oleh Chen Khu.


"Ku harap.. kita bisa bertemu secepatnya.. kami mohoj diri.. "ujar Chen Khu yang kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang Xie Annchi, dan dengan sebuah hentakan kaki.. keduanya melesat ke udara meninggalkan kediaman walikota Tainan yang masih dibuat terkejut untuk kesekian kalinya dengan kemampuan Chen Khu untuk terbang.


"Hmmm.. aku sudah lama malang melintang di dunia persilatan.. tapi baru kali ini aku melihat seseorang yang mampu terbang dengan sangat baik menggunakan tenaga dalamnya.. sungguh kekuatan yang sangat besar.. "gumamnya dalam hati sambil terus memperhatikan kedua pendekar yang sudah berada diketinggian yang baru beberapa saat lalu bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2