
"Bagaimana bisa mereka melakukan semua itu tanpa seijinku..? " aura hitam terlihat meluap dari tubuh Tamil Nadu menandakan jika ketua tertinggi sekte Aghori tersebut sedang murka.
Gulika serta beberapa pengawal yang berada di ruangan itu merasakan katakutan yang luar biasa dan tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun saat merasakan aura yang keluar dari tubuh Tamil Nadu bahkan burung - burung yang ada di hutan sekitar markas sekte Aghori juga merasakan hal yang sama dan berhamburan menjauhi markas tersebut.
Semua yang berada dalam ruang pertemuan tertunduk sampai Tamil Nadu menurunkan aura kehitaman yang keluar sampai akhirnya menghilang.
"Lalu kemana mereka sekarang..? " ujar Tamil Nadu kembali dengan nada sedikit pelan setelah menghela nafas dalam - dalam berusaha menenangkan dirinya.
"Belum ada kabar dari Vikhram dan Rajesh tuan.. mungkin saja Rajesh sudah berhasil merebut kota Nalagarh hingga Vikhram bertemu dengannya di kota itu.. " Gulika berusaha memberikan jawaban yang menenangkan meskipun dalam hatinya sendiri masih meragukan jawaban yang diberikannya tersebut.
"Baiklah kalau begitu..aku akan menunggu mereka sampai besok malam.. dan jika salah satu atau keduanya sudah kembali.. perintahkan pada mereka untuk membawkaanku tujuh orang perawan untuk dijadikan persembahan.." ujar Tamil Nadu seraya berdiri hendak kembali ke kamar pribadinya.
"Dan ingat.. siapkan upacara persembahan dua hari lagi.. aku ingin semua yang kubutuhkan untuk persembahan sudah siap sebelum aku keluar dari ruanganku.. " ujar Tamil Nadu melanjutkan sebelum memasuki ruangan pribadinya dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Gulika.
Gulika mengehela nafas panjang merasa lega karena Tamil Nadu tidak melampiaskan kemarahannya pada semua orang dihadapannya.
"Hmmm... dua hari lagi.. kemana mereka..?? kenapa belum ada yang memberi kabar..? " gumam Gulika dalam hati.
***
"Yang mulia..!! "
Kumar yang sudah siuman mencoba untuk bangkit saat Mathanadeva dan Chen Khu menemuinya tapi Mathanadeva memberinya tanda untuk tetap berbaring.
"Syukurlah kamu sudah siuman.. semoga kamu bisa pulih secepatnya.. " ujar Mathanadeva lalu duduk pada tepi tempat tidur yang digunakan oleh Kumar untuk berbaring.
"Yang mulia.. saya memohon maaf jika penerimaan kami saat yang mulia ke sini kurang berkenaan di hati yang mulia.. " ujar Kumar.
__ADS_1
"Jangan dulu terlalu banyak bicara.. pulihkan kondisimu secepatnya.. dan setelah kami kembali nanti baru aku akan membahas tentang masalah itu.. "
Kumar menutup matanya mendengar jawaban Mathanadeva dalam hati dia menyesal kenapa nyawanya tidak terenggut dalam peperangan sehingga paling tidak dia akan dikenang sebagai seorang pahlawan yang gugur mempertahankan wilayahnya dari pada dia hidup tapi hukuman dari sang Raja sudah menantinya.. dalam hati Kumar hanya bisa berdoa semoga pengorbanan yang ditunjukkannya selama pertempuran paling tidak bisa melunakkan hati Mathanadeva yang terkenal keras dan selalu konsisten dengan ucapannya.
"Izin menghadap yang mulia.. " salah seorang pengawal memasuki ruangan.
"Ada apa..? "
"Semua Komandan pasukan sudah berkumpul diruang pertemuan.. " jawab pengawal itu.
"Baiklah aku akan ke sana.. " jawab Mathanadeva dan pengawal tersebut meninggalkan ruang istirahat walikota.
"Kumar..!! terimakasih atas bantuanmu melindungi warga Nalagarh..! " ujar Mathanadeva seraya berdiri dan berjalan keluar diikuti oleh Chen Khu.
"Tapi ingat.. masih ada hal yang harus kita bicarakan..! " ujar Mathanadeva sambil membalikkan badan saat sampai di pintu dan membuat jantung Kumar seakan berhenti berdetak.
***
Aahana, Shiva dan lima orang komandan pasukan elit Gurjara langsung memberi hormat saat Mathanadeva terlihat memasuki ruangan. Masing - masing komandan pasukan tersebut memimpin empat ratus orang prajurit dalam setiap unitnya.. dan sebagai pemimpin tertinggi saat menjalankan misi seperti ini biasanya dipegang langsung oleh Khan tapi kali ini pimpinan tertinggi dipegang oleh Aahana.
Aahana ikut hadir dalam ruangan tersebut sebagai pimpinan tertinggi yang bertugas untuk mengkoordinasi setiap unti dari pasukan yang dibawa.
Mathanadeva membuka pertemuan mereka malam itu dengan menggambarkan posisi markas sekte Aghori serta keadaan sekitarnya yang telah dipelajarinya selama melakukan pengintaian bersama Chen Khu.
Dari gambaran yang diberikan oleh Mathanadeva.. masing - masing komandan unit diminta untuk meramu strategi penyerangan yang efektif sehingga penyerangan bisa dilakukan secara cepat dan meminimakkan korban jiwa dari pihak Gurjara.
Masing - masing komandan memberikan pendapanya hingga akhirnya Shiva yang menjadi peramu strategi penggati saat Khan tidak ada diminta untuk menyimpulkan usulan semua komandan itu yang sebenar tidak berbeda jauh karena semua didik langsung oleh Khan.
__ADS_1
Dan pertemuan malam itu diputuskan untuk mengepung markas sekte Aghori dari tuga sisi oleh tuga unit pasukan yang masing - masing terdiri dari empat ratus prajurit, yang akan dipimpin oleh Mathanadeva, Aahana, serta Shiva yang akan menyerang dari sisi kiri, kanan dan belakang.. sedangkan satu unit lagi akan menjadi pembuka serangan yang akan dipimpin langsung oleh Chen Khu. sedangkan satu unit lainnya akan menjadi pasukan penyeimbang.. yang mana mereka bertugas untuk menutup kekurangan jumlah pasukan dari keempat sisi yang berbeda.
"Baiklah.. pertemuan cukup sampai disini..kembalilah dan persiapkan prajurit kalian.. dan saat ayam jantan berkokok untuk pertama kalinya seluruh pasukan sudah harus berkumpul.. " ucap Mathanadeva yang disanggupu oleh seluruh komandan lalu setelah memberi hormat semuanya meninggalkan ruangan tersebut dan hingga hanya meninggalkan Chen Khu dan Mathanadeva saja.
"Chen Khu.. apa kamu yakin serangan besok akan berhasil..? "
"Saya yakin yang mulia.. asalkan pada serangan pertama kita bisa menghancurkan kendi - kendi yang berisi siluman sebelum mereka dibangkitkan.." jawab Chen Khu mantap.
"itulah yang kupikirkan Chen Khu.. jika kamu dan pasukanmu bergerak secara terbuka.. mungkin saja seluruh siluman telah dibangkitkan saat kalian baru terlihat di gerbang markas mereka.. " ucap Mathanadeva sambil memijit keningnya.
"kalau begitu.. aku sendiri akan meyusup lebih dulu kedalam markas mereka dan setelah mengamankan siluman - siluman itu aku akan memberi tanda dari dalam.. "
"Hmm.. ide yang bagus.. dan mungkin akan lebih baik jika kamu sekaligus membat keributan di dalam untuk memancing pasukan mereka sehingga memudahkan penyerang pembuka.. bagaimana..? "
"siap yang mulia...!! setelah saya mengamankan kendi - kendi siluman.. saya akan membakar beberapa bangunan untuk menimbulkan kepanikan dan saat itulah pasukan pembuka bisa melakukan serangan.. "
" Baiklah.. segera sampaikan hal ini pada putriku agar segera disampaikan pada komandan yang lain.. " ujar Mathanadeva.
" Saya yang mulia..?? " bertemu tuan putri..?? "tanya Chen Khu seperti ada sebuah beban yang menindihnya saat diperintahkan untuk menemui Aahana..
" Iya..!! kenapa..?? " tanya Mathanadeva dengan tatapan menyelidiki dan Chen Khu hampir salah tingkah dibuatnya.
" Tapi yang mulia...!! " ucap Chen Khu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hahahaha.. baiklah.. baiklah.. sampaikan pada Shiva.. biar Shiva yang akan menyampaikan pada Aahana..! " ujar Mathanadeva sambil tertawa melihat ekspresi wajah Chen Khu.
Mathanadeva begitu memahami ekspresi yang ditampilkan oleh Chen Khu, sebab dirinya saat masih muda.. meskipun sebagai putra Mahkota tapi jika bertemu dengan calon istrinya selalu ada rasa canggung untuk memulai berbicara.
__ADS_1