Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
50. Undangan ke Istana


__ADS_3

Laksminingrum terus-menerus mentransfer tenaga dalamnya agar Aji Dharma bisa sadarkan diri. Perlu waktu yang lumayan lama dan juga tenaga yang tidak sedikit untuk membuatnya siuman. Saat ia hampir putus asa, tiba-tiba terdengar suara Aji Dharma seperti batuk-batuk dan kemudian mulai membuka matanya.


"Aku dimana?" Saat melihat keadaan disekitarnya dengan lebih jelas, Aji Dharma bertanya.


"Kita sudah ada di tempat yang aman. Setelah ini kita akan menuju ke rumah penduduk, nanti disana kamu bisa beristirahat dengan lebih tenang."


"Kamu terluka karena menyelamatkan aku?"


"Tidak. Lagipula aku punya senjata andalan."


"Maafkan aku ya, gara-gara aku kamu jadi kerepotan."

__ADS_1


"Kita kan teman. Tidak perlu kamu memikirkan rasa bersalah mu itu. Yang penting kamu bisa selamat saja aku sudah senang."


***


Galuh segera bersiap untuk memasak. Untuk terakhir kalinya ia ingin memasak sesuatu yang sangat enak untuk keluarganya. Setidaknya dengan begitu ia bisa memberi salam perpisahan kepada mereka. Galuh merasa harus karena ia merasa dirinya tidak akan bertemu dengan mereka lagi setelah niatnya balas dendam tercapai.


Sudah sejak matahari muncul ia sibuk dengan pekerjaannya itu. Menanak nasi, mengolah sayuran, ia kerjakan sendiri. Dan setelah selesai ia menghidangkannya. Mereka makan bersama setelah itu. Masakannya yang sederhana itu benar-benar dipuji habis-habisan oleh orang-orang yang memakannya, tak ada sebiji nasi pun yang tersisa .


***


"Tuan mendapatkan kehormatan dari yang mulia untuk berkunjung ke istana. Raja katanya ingin bertemu denganmu. Ada sebuah penghargaan yang ingin diberikan untukmu," seorang panglima muda datang mengunjungi kepala desa yang lalim itu dengan sebuah surat undangan. Sebenarnya panglima itu tidak tahu alasannya mengapa ia di undang padahal orang ini sudah menyengsarakan rakyat.

__ADS_1


Yang ia tahu, semalam tanpa sepengetahuannya, raja berunding dengan para menteri dan juga Patih untuk membahas masalah ini. Ia tak tahu hasil keputusan semalam, yang jelas raja pasti tidak akan mengambil keputusan secara gegabah.


"Ada perihal apa sehingga raja memanggil hamba ke istana?" Tanya kepala desa itu.


"Saya kurang tahu. Hanya saja kata paduka, lebih baik tuan datang ke istana sendirian. Ia mungkin ingin mengenal lebih banyak tentang desa ini. Maklum saja, raja sepertinya ingin membuat kadipaten baru agar rakyatnya bisa lebih terdengar suaranya. Ada kemungkinan tuan nanti yang akan menjadi Adipati."


"Benarkah itu?" Kepala desa yang sangat haus akan harta dan kekuasaan itu sepertinya langsung tertarik dengan ucapan yang sangat manis.


"Saya mendengar raja berkata begitu kemarin," sebenarnya Senopati ini hanya membual saja karena ia harus bisa membual kepala desa itu datang ke istana. Apa yang diucapkan sama sekali tidak bisa dibenarkan.


"Kalau begitu saya akan bersiap. Mohon tunggu sebentar, saya akan mempersiapkan segala keperluan untuk ke istana dengan segera," kata kepala desa itu sangat yakin.

__ADS_1


Sambil menunggu, Senopati itu berharap tidak akan mendapatkan amarah raja karena sudah berbohong. Hanya itu yang ada kepalanya saat berbicara tadi. Lagipula ia sudah diancam oleh raja untuk membawa orang itu hidup-hidup ke istana atau pangkatnya bakal di turunkan.


__ADS_2