Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#125. Pertempuran. III


__ADS_3

Chen Khu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memikirkan maksud ucapan seseorang yang ada dalam kepalanya namun belum sempat dia menangkap maksud dari ucapan tersebut Mathanadeva terlihat mendekat pada Tamil Nadu dengan kecepatan tinggi.


Mathanadeva berlari secepat kilat lalu melompat ke udara lalu mengeluarkan sebuah jurus.


"PEDANG PEMBELAH BADAI..!! "


Tamil Nadu terlihat tetap tenang meskipun dirinya terkepung oleh banyak prajurit yang memang tidak satupun dari mereka yang berani mendekat setelah apa yang dilakukannya pada salah seorang komandan mereka serta menghempaskan Chen Khu dengan menggunakan pukulan jarak jauh.


Tamil Nadu menyangkutkan salah satu ujung selendangnya pada bahu lalu memasang kuda - kuda kemudian mengatahkan kedua telapak tangannya dan melepaskan tenaga dalam cukup besar untuk membendung gelombang energi besar dari jurus pedang pembelah badai.


Dua energi besar bertemu di udara dan benturan kedua energi itu menghasilkan suara ledakan yang sangat besar serta hempasan angin yang ditimbulkan akibat benturan energi tersebut mampu menghancurkan bangunan - bangun yang ada disekitarnya.. akibat benturan kedua gelombang energi itu juga membuat Mathanadeva yang masih dalam posisi melayang di udara saat melepaskan jurusnya juga ikut terhempas mundur lalu jatuh dan terseret beberapa meter di tanah, sedangkan Tamil Nadu juga bergeser beberapa langkah dari posisinya berdiri sebelumnya.


***


Aahana melompat turun ke tanah dari dahan pohon, mengarah pada mayat - mayat yang bergelimpangan ditanah dan dengan menggunakan kakinya.. Aahana menedang gagang - gagang pedang yang berserakan ditanah dan diarahkan pada Gulika.


Banyaknya pedang yang meluncur deras ke arahnya membuat Gulika kewalahan untuk memghindar.. belum lagi kedua tangannya mengenggam bola - bola yang siap dilemparkan ketika lawannya mendekat.


Beberap pedang yang melesat ke arahnya berhasil melukainya dan meskipun tidak meninggalkan luka serius tapi tubuhnya banyak mendapatkan luka sayatan.


Aahana tersenyum melihat rencananya berhasil lalu kembali memasang kuda - kuda bersiap untuk menggunakan sebuah jurus.


"GETARAN CINTA PERTAMA..! "


Aahana menghentakkan kakinya ke tanah dan membuat bebatuan den berbagai benda lain yang ada di tanah melayang di udara dan sesaat kemudian Aahana memutar kedua lengannya sebelum mendorong semua benda - benda itu menggunakan tenaga dalam yang diarahkan pada Gulika.


Ratusan benda melayang ke arah Gulika dan meluncur dengan deras membuat pendekar wanita tidak mampu menghindar dan saat sebuah pedang yang meluncur deras ke arah tangan kirinya membuat tiga buah bola yang ada di genggamannya terjatuh serta sebongkah batu yang berukuran cukup besar menghantam dadanya membuat wanita itu jatuh tersungkur ke tanah dan diikuti bola - bola kecil dan jatuh tepat disampingnya.


Mata Gulika terbelak melihat ketiga bola itu terjatuh disampingnya.. dan belum sempat dia bereaksi.. ketiga bola tersebut meledak saat membentur tanah dan akibatnya sekujur tubuh Gulika meleleh dan mengakhiri perlawanannya pagi itu.

__ADS_1


***


"Uhuk...uhuk.. uhuk..!! "


Mathanadeva terbatuk saat mencoba bangkit.. dadanya terasa sesak akibat benturan dua gelombang energi tadi, darah segar juga terlihat di sudut bibirnya.


Tamil Nadu juga terlihat memegangi dadanya..benturan dua gelombang energi besar juga dirasakan olehnya dan meskipun dia masih tetap berdiri..pantulan tenaga dalam yang saling bertabrakan tadi membuat kuda - kudanya sedikit goyah.


"Kamu lihat kan..??! " terdengar kembali bisikan dalam kepala Chen Khu.


"Ya..tentu saja..!! " jawab Chen Khu singkat.


"Kalau begitu.. kamu tentu sudah mengerti dengan apa yang kukatakan tad bukan..?? " bisik suara itu kembali.


"Belum..!! " jawab Chen Khu singkat karena disaat dia sedang mencari cara terbaik untuk menyerang lawannya, suara yanh tiba - tiba muncul dalam kepalanya semakin membuatnya kebingungan.


"Betul - betul bodoh..!! kalau bagitu akan kutunjukkan caranya..!! "bentak suara itu dan sesaat kemudian.. gagang pedang naga langit seperti menyerap tenaga dalamnya tanpa bisa dihentikannya..pedang itu setidaknya menyerap sampai tiga ratus tingkat tenaga dalamnya sehingga memunculkan aura berwarna ungu pada pedang itu.


Chen Khu berlari kedepan dengan kecepatan tinggi karena menggunakan segenap kemampuannya..


"PEDANG NAGA LANGIT TINGKAT DUA.. LIDAH API..!!


Saat jarak mereka tinggal beberapa meter lagi.. pedang Chen Khu yang semula berwana ungu berubah diselimuti oleh api yang berkobar.


Selendang milik Tamil Nadu memberikan perlawanan cukup berarti pada pedang milik Chen Khu akan tetapi setelah bertukar beberapa puluh jurus hanya dalam beberapa kali tarikan nafas selendang milik Tamil Nadu mulai terbakar pada ujungnya karena bagian itulah yang paling sering beradu dengan pedang naga langit.


Chen Khu mulai mengerti apa yang sebelumnya dikatakan oleh suara dalam kepalanya.. karena ternyata selendang yang digunakan oleh Tamil Nadu telah dilapisi dengan tenaga dalam, dan jika dia mengerahkan tenaga dalam yang lebih besar tentu saja dia dapat menghancurkan selendang itu.


Chen Khu melompat mundur ke belakang untuk mengambil nafas lalu kemudian mengalirkan lebih banyak lagi tenaga dalam pada pedangnya sehingga api yang menyelimuti pedangnya semakin besar dan setelah itu Chen Khu kembali menyerang Tamil Nadu yang tamoak masih terengah - engah karena terlalu banyaj menggunakan tenaga dalam miliknya untuk mengimbangi kekuatan pedang milik Chen Khu.

__ADS_1


Chen Khu bergerak sangat cepat, bahkan karena kecepatannya.. hanya lidah api yang terlihat meliuk kesana kemari. Serangan dengan menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya itu membuat Tamil Nadu mulai terdesak. Selendang yang merupakan senjata andalannya pun mulai terbakar pada beberapa bagian..


Chen Khu mendapat celah saat Tamil Nadu hampir kehilangan keseimbangan saat tendangannya hampir saja mengenai kepala pimpinan tertinggi sekte Aghori tersebut.. Chen Khu tidak ingin menyia - nyiakan kesempatan yang baru datang untuk pertama kalinya itu dengan mengayunkan pedangnya secepat kilat ke tubuh Tamil Nadu.. akan tetapi saat pedangnya hampir menyentuh tubuh Tamil Nadu.. selendang milik Tamil Nadu segera melilit tubuh Tamil Nadu membuatnya terlindung dari kobaran api yang ada pada pedang milik Chen Khu.


Tamil Nadu secepat mungkin melompat kebelakang sambil terus menggunakan selendangnya untuk menyerang Chen Khu yang seolah tidak ingin memberinya waktu untuk bernafas.


Pergerakan selendang milik Tamil Nadu perlahan bertambah cepat karena Tamil Nadu merasa nyawanya sudah diujung tanduk dan bahkan jika mampu mengalahkan Chen Khu kemungkinan dirinya untuk selamat sangat kecil mengingat Mathanadeva dan seluruh pasukannya terus mengamati jalannya pertarungan mereka dab belum ada yang berani mendekat.


Selendang Tamil Nadu bergerak lincah seperti seekor ular berusaha mengincar tubuh Chen Khu..meskipun selendang itu sudah tidak utuh sepenuhnya tapi gerakannya sedikit merepotkan Chen Khu.. hingga saat selendang yang selalu mengincar tubuh Chen Khu itu berubah arah dan akhirnya berhasil melilit pedang naga langit.


Meskipun selendang itu perlahan mulai terbakar, tapi Tamil Nadu menarik Chen Khu secepat mungkin sebelum seluruh selendangnya habis terbakar..


Tubuh Chen Khu meluncur deras ke arah Tamil Nadu yang sudah bersiap dengan jurus tapaknya. Chen Khu yang sudah melihat hal itu sebelumnya langsung melepaskan pedangnga saat jarak keduanya sudah sangat dekat dan langsung mengalirkan tenaga dalam yang sangat besar ke tangan kirinya.


Dua tapak mengandun tenaga dalam sangat tinggi beradu menimbulkan ledakab energi yang luar biasa.. tapi disaat yang bersamaan.. pedang yang dilepaskan Chen Khu tetap meluncur deras ke tubuh Tamil Nadu hingga menembus dadanya.


Tubuh Chen Khu terlempar beberapa meter saat benturan tapak terjadi tapi Chen Khu dengan cepat mendapatkan kembali keseimbangannya lalu mendarat dengan kedua kakinya.


Tamil Nadu akhirnya menghembuskan nafas setelah tubuhnya terbakar hingga hangus menjadi abu.


Tewasnya Tamil Nadu menjadi penanda berakhirnya pertarungan hari itu yang berlangsung sejak fajar menyingsing hingga hampir tengah hari. Chen Khu membersihkan noda darah di sudut bibirnya akibat benturan tapak yang terakhir lalu berjalan ke arah Tamil Nadu yang tubuhnya sudah menjadi abu untuk mengambil kembali pedangnya.


Sorak - sorai prajurit Gurjara merayakan kemenangan yang baru saja diraihnya tidak lantas membuat Chen Khu senang, sebab begitu banya mayat anggota sekte Aghori yang menjadi korban pembantaian hari itu.


Teriakan para prajurit baru berhenti saat Mathanadeva memerintahkan pada mereka untuk menguburkan seluruh jenazah dengan layak.. serta memerintahkan sebagian prajurit lainnya untuk mencari dan membujuk anggota sekte Aghori lainnya yang sempat melarikan diri ke hutan agar mau kembali bersama pemerintahan Gurjara serta meninggalkan ajaran sesar yang selama ini mereka anut.


"Terimakasih Chen Khu..!! " ujar Mathanadeva sambil memberi hormat dengan gaya seperti orang - orang dari benua daratan tengah.


Chen Khu tersenyum sambil membalas hormat Mathanadeva, dan Mathanadeva langsung memeluk orang yang sangat berjasa padanya selama lebih dari setahun ini.. mulai dari membantunya meningkatkan kemampuannya hingga memadamkan pemberontakan yang terus menggangu keamanan wilayahnya selama bertahun - tahun.

__ADS_1


Mata Mathanadeva berkaca - kaca sebab telah mengetahui jika setelah berhasil menghancurkan sekte Aghori maka semakin dekat juga perpisahannya dengan Chen Khu.


__ADS_2