
Perlahan situasi Nishada berangsur pulih. Yaseka yang dibantu oleh Mathanadeva berhasil memulihkan situasi dalam waktu yang relatif singkat.
Tambang - tambang emas yang dikelola oleh para bangsawan dan mempekerjakan budak ditutup, sedangkan budaknya dibebaskan, selain itu para bangsawan itu juga dipenjara dan hampir seluruh harta kekayaannya disita oleh negara dan digunakan untuk menyantuni para budak yang telah dibebaskan untuk memulai hidup baru.
Yaseka juga membuka sebuah perkampungan baru bagi para bekas budak itu yang tidak ingin kembali ke daerah asalnya. Pihak kerajaan juga memberi santunan selama dua tahun bagi warga baru mereka sampai mereka mendapatkan pekerjaan baru atau sampai mereka mampu memenuhi kebutuhan sendiri.
Mathanadeva juga membantu Yaseka untuk membuat aturan dalam pertambangan. pembatasan jam kerja serta peningkatan kesejahteraan menjadi hal yang paling diperhatikan.
Dibutuhkan waktu hampir dua bulan untuk menormalkan kembali seluruh keadaan serta perekonomian yang ada di Nishada, dan selama itu juga Mathanadeva terus membantu Yaseka, sementara Chen Khu menghabiskan hari - harinya bersama dengan ayahnya.
"Apa rencanamu selanjutnya..?! " ucap Chen Lee pada Chen Khu yang sedang memegang joran dan duduk di sebelahnya.
"Entahlah ayah.. tapi aku ingin kembali ke kekaisaran Ming secepatnya.. aku hanya menunggu saat ayah siap untuk kembali.. kita akan berangkat bersama.. " jawab Chen Khu.
Chen Lee terdiam mematung mendengar jawaban Chen Khu.. kenangan pahit karena kehilangan hampir seluruh anggota keluarganya sebenarnya membuatnya enggan untuk kembali ke kekaisaran Ming.. belum lagi jika nanti dia sampai di desa yang dulu mereka tempati, semua kenangan itu pasti akan kembali terlintas.
Beberapa kerabat mereka sudah memutuskan untuk tinggal dan menetap di Nishada.. perhatian Yaseka yang begitu besar, serta kenangan pahit yang pernah mereka alami di kekaisaran Ming membuat mereka enggan untuk kembali dan memutiskan untuk tinggal di Nishada dan memulai hidup baru. Kebetulan.. lahan yang mereka tempati saat ini, merupakan salah satu dari sedikit daerah subur yang ada di kerajaam itu.. Yaseka sengaja memberi mereka lahan itu sebagai balas jasa pada Chen Khu yang telah ikut membantu menghentikan perebuatan kekuasaan oleh Narendra.
"Ayah...!! kenapa ayah diam saja..?! " tanya Chen Khu sebab ayahnya tidak berkata apapun setelah Chen Khu mengutarakan rencananya untuk kembali ke Kekaisaran Ming.
"Mmm.. ayah sedang berpikir.. mungkin sebaiknya ayah tinggal disini saja bersama keluarga kita yang lain, ayah tidak ingin.. kepulangan kita nanti hanya akan membangkitkan kenangan lama itu.. " Chen Lee menjawab dengan tatapan kosong ke depan.
"Rupanya kalian ada di sini... "
"Paman.." Mathanadeva memberi hormat pada Chen Lee yang tampak terkejut dengan kehadirannya yang tiba - tiba.
"Yang mulia..!! " jawab keduanya serampak sambil memberi hormat pada Mathanadeva.
"Sangat susah mencari kalian berdua.. aku harus bertanya pada beberapa orang untuk bisa menemukan kalian disini.. " ucap Mathanadeva yang kemudian ikut duduk di atas sebuah batu.
__ADS_1
"Sepertinya ada hal penting yang mulia sampai ke sini sendiri..?" ucap Chen Khu
"Sebenarnya tidak juga..hanya saja.. sudah hampir tiga bulan saya meninggalkan Gurjara.. dan karena bantuan saya sudah tidak lagi dibutuhkan oleh Yaseka.. maka besok aku berencana untuk kembali.. bagaimana denganmu..? " jawab Mathanadeva.
"Sepertinya aku masih betah tinggal di sini yang mulia.. apalagi sepertinya aku akan kembali berpisah dengan ayah.. " jawab Chen Khu dengan wajah datar sambil menatap wajah ayahnya dalam - dalam.
"Apa..?? jadi maksudmu..?! " Mathanadeva sedikit terkejut lalu melihat ke arah Chen Lee.
"Iya yang mulia.. kembali ke desa hanya akan membangkitkan kenangan lama.. jadi aku berpikir.. untuk saat ini mungkin sebaiknya saya tinggal disini dulu.. " ucap Chen Lee pelan.
Mathanadeva mengangguk pelan.. di satu sisi dia memahami apa yang dirasakan oleh ayah Chen Khu.. tapi disisi lain.. Mathanadeva juga merasa sedih jika Chen Khu harus berpisah kembali dengan ayahnya.
"Khu'er sepertinya masih harus menyelesaikan sesuatu yang penting di negeri kami.. jadi aku berpikir sebaiknya aku disini saja..sebab jika aku berada di sana, aku takut hanya akan menjadi beban untuknya.. " Chen Lee melanjutkan sambil mengusap rambut anaknya.
"Mmm... apakan yang mulia Yaseka akan memerintahkan prajuritnya untuk mengawal anda yang mulia..? " ucap Chen Khu berusaha mengalihkan pembicaraan untuk merubah suasana.
"Yaseka mengatakan seperti itu.. hanya saja aku menolaknya.. sebab aku juga akan menemui Satavahana.. ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengannya.. "
"Sepertinya aku harus mulai membiasakan diri kembali.. " balas Mathanadeva yang juga ikut tertawa.
"Mohon maaf yang mulia.. " Chen Khu tiba - tiba mengarahkan telunjuknya pada kening Mathanadeva..
Mathanadeva yang belum sempat berbicara sudah merasakan ada aliran energi yang mengalir memasuki tubuhnya perlahan selama beberapa menit.
"Jika yang mulia berkuda.. akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali ke Gurjara.. aku memberi sedikit tenaga dalam agar yang mulia bisa terbang untuk lebih menghemat waktu.. " ucap Chen Khu kemudian setelah menarik jarinya kembali.
"Hanya saja.. mungkin yang mulia perlu membiasakan diri.. " ucap Chen Khu sambil tertawa.
Chen Khu kemudian memberikan petunjuk agar Mathanadeva bisa menggunakan tenaga dalam yang diberikannya, lalu meminta Mathanadeva mempraktikkannya.
__ADS_1
Mathanadeva memusatkan pikirannya.. lalu mengarahkan tenaga dalam yang cukup besar pada kedua telapak kakinya hingga membuatnya melayang setinggi hampir tiga puluh sentimeter dari tanah.. tapi karena keseimbangannya masih kurang baik Mathanadeva hampir saja terjungkal ke dalam sungai andai saja Chen Khu tidak menangkap bajunya.
"Seperti yang kukatakan tadi.. yang mulia harus membiasakan diri.. " ucap Chen Khu sambil tersenyum.
Chen Khu kemudian mengajak Mathanadeva pada sebidang tanah yang agak lapang kemudian membimbingnya mengontrol tenaga dalam..
"Dalam ilmu meringankan tubuh.. kita menggunakan tenaga dalam untuk bisa bergerak lebih cepat atau melompat lebih jauh.. yang mulia hanya perlu menambahkan tenaga dalam lebih besar dan kemudian menjaganya agar tetap keluar dengan konstan agar tubuh yang mulia bisa melayang di udara lebih lama.. " ucap Chen Khu memberi petunjuk lalu mempraktekkannya bersama Mathanadeva dengan harapan Mathanadeva akan lebih cepat memahami.
Setelah beberapa kali mengulangi.. Mathanadeva akhirnya bisa melayang di udara dengan jarak yang lumayan tinggi.. hanya saja Mathanadeva masih kesulitan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya dan hal itu membuatnya tidak bisa bertahan cukup lama di udara.
"Yang mulia hanya perlu melatih keseimbangan.. setelah itu aku yakin yang mulia pasti akan bisa melakukannya dengan baik.. " ucap Chen Khu tersenyum simpul melihat kemampuan Mathanadeva dengan cepat mulai memahami petunjuk yang diberikannya.
" Oh.. iya.. aku hampir lupa.. "
"Besok aku akan meninggalkan Nishada.. dan Yaseka mengundang kita untuk makan malam.. bagaimana jika kita mencobanya ke istana sekarang..? " ucap Mathanadeva terlihat bersemangat.
"Tapi kuda anda bagaimana yang mulia..? " tanya Chen Khu sambil mengeryitkan keningnya..
"Aku akan meminta salah seorang kerabat untuk mengantarkannya ke istana.." ujar Chen Lee menimpali.
"Paman.. apakah paman tidak ikut..? " ucap Mathanadeva terkejut.
"Aku lebih baik disini saja..aliran sungai ini membuat pikiranku lebih tenang.. "jawab Chen Lee.
"Ayah....!! "
Chen Lee mengangkat tangannya memberi tanda pada Chen Khu untuk tidak mendebatnya..
" Baiklah.. mari kita coba yang mulia.. " ucap Chen Khu lalu menghentakkan kakinya dan melesat ke udara..
__ADS_1
"Heiiiii... tunggu... " teriak Mathanadeva.
"Aku pamit dulu paman..!! " ucap Mathanadeva pada Chen Lee lalu memberi hormat, dan segera menyusul Chen Khu yang bersembunyi dibalik awan.