Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#189. Mencari dan Dicari


__ADS_3

Delapan bayangn kembali berkelebat menuruni bukit yang sedikit curam.. pergerakan mereka kali ini lebih cepat dan tangkas dari sebelumnya.


"Tuan Chen.. dari mana kamu mendapatkan pil seperti tadi..? " Lin Dan yang bergerak disamping Chen Khu berkata setengah berbisik.


Lin Dan yang masih berusia muda dan berambisi menjadi pendekar terkuat untuk bisa membela kaisar Xiao Yan yang telah memberinya kehormatan, berpikir jika pil yang baru saja diberikan oleh Chen Khu bisa membantu perkembangan ilmu beladirinya, apalagi kemampuan pil itu untuk menyembuhkan luka dengan sangat cepat, tentu saja akan sangat dibutuhkan dalam pertempuran nanti.


"Dari seseorang yang sangat jahil.. " jawab Chen Khu dengan senyuman penuh makna dan membuat Lin Dan hanya bisa menggaruk kepalanya tanpa berani untuk melanjutkan pertanyaanya.


"Kolonel Lin.. apakah ini yang bernama desa Wuling..? " ujar Hatori memandang takjub bangunan - bangunan besar saat mereka semua berhenti di perbatasan desa itu.


"Iya benar..! " jawab Lin Dan Singkat.


"Aku lebih sepakat jika ini disebut sebagai kota.. " ujar Hatori berkelakar.


"Desa ini memang selalu ramai.. dan menjadi tempat peringgahan banyak pedagang dan pendekar. "


"Mereka bahkan bisa singgah di tempat ini sampai berhari - hari karena di desa ini terdapat pusat lokalisasi dan perjudian yang dulu dipindahkan dari kota Suchian. " ujar Lin Dan menguraikan.


"Lalu menurutmu dimana kita akan mencari para sandera..?!" Chen Khu menipali.


"itulah yang kupikirkan sepanjang perjalanan ke sini.. " jawab Lin Dan sambil menghembuskan nafas panjang.


"Sepertinya itu akan memakan waktu.. karena kita harus memeriksa satu persatu bangunan - bangunan itu"


"Sementara sekte pembunuh iblis pasti sudah mencium keberadaan kita.. "


"Belum lagi.. rekan - rekan pendekar - pendekar yang tewas di bukit itu,pasti akan melacak keberadaan kita.. dan akan sangat menyulitkan jika bertemu mereka di sini. "Kobayasi ikut memberi pendapat.


Chen Khu terlihat berpikir sejenak sebelum meminta gulungan peta pada Lin Dan.


"Kolonel Lin.. kira - kira dimana letak pasukanmu sekarang..? " tanya Chen Khu kemudian.

__ADS_1


"Jika pergerakan mereka tidak ada hambatan.. mereka sekarang kira - kira berada di sekitar tempat ini dan ini.. " jawab Lin Dan sambil menunjuk dua tempat pada peta.


"Kumpulkan semua pasukanmu di titik ini.. sambil menunggu pasukan bantuan dari ibukota.. "


"Aku bersama tuan Kobayasi dan rekan - rekan yang lain lebih dulu akan menyelamatkan para sandera.. baru setelah itu kita akan berkumpul di titik ini.. " ujar Chen Khu menunjuk sebuah tempat pada peta setelah memijat keningnya.


"Tapi tuan... " Lin Dan berusaha menyanggah namun Chen Khu memberi tanda untuk tidak melanjutkan.


"Bukan waktunya berdebat.. Lakukan sekarang..!! kita tidak punya banyak waktu..!! " suara Chen Khu sedikit meninggi.


"Baik tuan.." Lin Dan menundukkan kepala setalah melihat tatapan dingin Chen Khu.. sedangkan Lin Dan tau betul.. seperti apa posisi Chen Khu di kekaisaran Han.


Lin Dan membalikkan badan.. tapi Chen Khu menahannya sejenak.. lalu jari telunjuk Chen Khu menempel di kening Lin Dan..


Lin Dan merasakan sesuatu mengalir masuk kedalam tubuhnya.. tapi dia hanya terpaku dan tidak bisa berbuat apa - apa untuk lepas dari telunjuk Chen Khu karena seluruh tubuhnya terasa lemas saat qi mengalir masuk kedalam tubuhnya.


"Aku memberimu sedikit qi yang mungkin bisa kamu gunakan jika ada hambatan dalam perjalanan.. " ujar Chen Khu setelah jari telunjuknya terlepas dari kening Lin Dan.


***


Hampir seratus orang pendekar sampai di bukit yang menjadi asal cahaya kembang api terlihat.. mereka menyusul rekan mereka sebelumnya yang diperintahkan untuk menyelidiki asal muasal kembang api berwarna hijau.. tapi setelah beberapa jam.. pendekar - pendekar yang diperintahkan itu belum juga kembai.. dan akhirnya pimpinan perkemahan.. Riu Ji.. memerintahkan satu rombongan pendekar lagi untuk menyusul rekan mereka yang sudah diperintahkan lebih dulu.


Seluruh pendekar yang baru sampai itu terperangah saat menyaksikan puluhan mayat bergeletakan dengan kondisi mengenaskan.


Pimpinan rombongan itu memerintahkan seluruh anak buahnya untuk menyebar dan memeriksa kondisi seluruh mayat dan mencari apakah diantara mereka ada yang masih hidup.


"Tetua..!! ada yang masih hidup..!! " teriak salah satu pendekar yang menemukan tubuh pendekar lain dengan posisi agak jauh terpisah dari mayat - mayat lainnya.


Pria yang dipanggil tetua itu bergerak cepat menuju sumber suara dan alangkah terkejutnya saat mengenali pendekar yang sudah sekarat itu.


"Tetua Yan...!! apa yang terjadi..?! " ucap pria itu sembari berjongkok dan mengangkat kepala pendekar yang dipanggilnya tetua Yan itu.. dan membaringkan diatas pangkuannya.

__ADS_1


Yan Wei Li.. wakil ketua sekte Pulau Tengkorang yang juga merupakan adik dari ketua sekte Pulau Tengkorak itu sendiri adalah salah seorang pendekar tingkat tinggi yang sudah hampir mencapai puncak pendekar level enam dan kini terbaring tidak berdaya dengan sekujur tubuh penuh luka dan terdapat sobekan besar pada perutnya dan membuat ususnya terburai keluar.


Wakil ketua sekte Pulau Tengkorak itu harus menelan pil pahit berhadapan dengan Lin Dan yang berhasil mengalahkannya dan meninggalkan luka yang amat serius dan tidak bisa lagi diselamatkan..hanya saja.. karena ketahanan fisiknya.. Yan Wei Li masih mampu bertahan meskipun dengan nafas yang semakin melemah.


"Ronin.. Han.. " dua kata terakhir yang keluar dari mulut Yan Wei Li sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Wan Kao Lue.. yang juga merupakan salah seorang tetua sekte Pulau Tengkorang dan juga merupakan sahabat karib Yan Wei Li.


Wajah Wan Kao Lue mengeras menahan amarah.. dia menggoncang - goncangkan tubuh sahabatnya itu beberapa kali.. namun tubuh Yan Wei Li sudah tidak bernyawa.


"Ronin.. Han.. " gumam Wan Kao Lue.


"Cepat cari mereka.. mereka pasti belum jauh dari tempat ini.. !!" teriak Wan Kao Lue.


"Tetua.. anggota sekte Teratai Merah juga ada yang ikut menjadi korban.. " ujar salah seorang pendekar yang tiba - tiba menghampiri Wan Kao Lue memberikan laporan.


"Teratai Merah..??! " balas Wan Kao Lue seraya berdiri lalu mengikuti pendekar yang tadi memberi laporan untuk memeriksa mayat yang dimaksudkannya.


"Kuburkan mereka semua dengan layak.. " perintah Wan Kao Lue setelah mematung beberapa saat setelah melihat mayat - mayat dari dua sekte yang menjalin hubungan baik sejak lama.


Pendekar - pendekar yang ikut bersama Wan Kao Lue segera menggali tanah dengan peralatan seadanya untuk menguburkan rekan - rekan mereka yang tewas dan beru selesai saat hari menjelang pagi.


"Tetua.. aku menemukan noda darah.. sepertinya mereka ke arah sana..! " salah seorang pendekar tiba - tiba menghampiri Wan Kao Lue..sambil menunjuk ke arah selatan.


"Apa..?!dimana..?! " Wan Kao Lue terlihat sangat antusias.


"Disana tetua.. " jawab pendekar tadi lalu bersama dengan beberapa pendekar yang lain menuju ke arah yang dimaksud.


Sesampai pada tempat yang dimaksudkan..pendekar tadi memperlihatkan noda darah pada dedaunan.. lalu beberapa pendekar yang lain juga ikut memeriksa dedunan lain.


"Sepertinya mereka belum jauh tetua.. bahkan bau kencingnya sangat pesing..! " ujar salah seorang pendekar yang lain sambil mencium tangannya yang baru saja menyentuh dedaunan yang masih basah.


"Eee.. maaf saudaraku. tadi aku buang air kecil di situ.. " ucap pendekar yang pertama kali menemukan noda darah pada dedaunan sambil menggaruk - garuk kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2