Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
47. Kecemburuan


__ADS_3

Saat suaranya Aji Dharma tiba-tiba menghilang. Di hadapan mereka muncul beberapa gadis sambil membawa tubuh Aji Dharma yang terlihat sangat marah. Tubuhnya terus bergerak agar belenggunya lepas.


"Kalian mencari dia? Tenang, dia masih bernafas sampai saat ini. Kalau kamu dia bebas, kamu harus menggantikannya. Apa kamu setuju?" Sebelum menyembunyikan Aji Dharma ketempat yang tidak diketahui banyak orang. Mereka merasa ingin bermain-main dahulu.


"Boleh , tapi langkahi dulu mayatku!" Laksminingrum langsung menyerang mereka setelah itu. Kali ini ia kurang leluasa dalam berpedang karena takut mengenai temannya yang berkali-kali dijadikan tameng oleh mereka tanpa merasa bersalah. Mereka bahkan terlihat sangat menikmati pertarungan yang terjadi. Sesekali terdengar di kupingnya, pasukan wanita itu memberikan ejekan yang membuat darah muda Laksminingrum mendidih.


Saat merasa sudah puas, dengan membawa pergi Aji Dharma mereka menghilang dari situ. Membuat Aji Dharma yang berontak tertidur lalu pergi dari sana.


***


"Kalian harus bertapa di bawah air terjun ini selama sehari semalam. Siapa yang gagal dia harus mengulanginya esok hari. Disini banyak makhluk halus yang suka mengganggu. Jadi, pastikan kalian tidak tergoda oleh mereka!" Nyi Arum Sari berkata kepada Erlangga dan Dewi Ratih.


Mereka sekarang berada di sebuah air terjun yang airnya jatuh diantara batuan-batuan besar. Suaranya terdengar sangat keras sekali. Percikan-percikan air yang tercipta membasahi pakaian mereka.

__ADS_1


"Jaga fokus kalian. Kalian harus bisa mengontrol pikiran kalian sendiri. Kalau kalian bisa mengontrol pikiran kalian masing-masing, ilmu yang akan ku ajarkan akan langsung bisa kalian pelajari dengan sempurna,"katanya lagi.


Kedua orang itu kemudian menyatakan kesanggupannya. Walaupun agak berat juga jika harus bertapa sambil menahan dingin dan juga hal lain, tapi demi tujuan mereka masing-masing itu bukan masalah.


Sebenarnya semalam mengatakan bahwa ia tidak kuat lagi menghadapi latihan yang sangat keras. Tapi karena ia mendapat petuah dari Erlangga ia berusaha untuk tetap bertahan.


Mereka mulai bertapa di batu besar itu. Sementara Nyi Arum Sari terlihat pergi meninggalkan mereka. Perlahan mereka mulai menutup mata mereka masing-masing dan kemudian berusaha fokus untuk menjalankan latihan mereka.


***


"Kau tahu darimana?"


"Aku menerima beberapa laporan yang mengatakan kakang sedang asyik enak-enakan dengan Galuh. Kenapa kakang Setega itu sama aku?"

__ADS_1


"Itu semua karena dia yang memaksaku. Aku sebenarnya tidak mau. Tapi dia selalu dan selalu menggodaku . Lelaki mana yang tak tergoda?" Anak kepala desa itu berusaha membela diri. Apa yang ia bicarakan semua adalah kebohongan yang dibuat untuk menutupi kelakuan bejatnya.


"Tapi tenang saja. Cintaku yang sesungguhnya hanya untukmu seorang. Gadis seperti dia tidak cocok untukku. Dia hanya menginginkan hartaku saja. Kau tahu kan, di luaran sana banyak wanita ****** sepertinya yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan uang?"


"Kalau begitu , besok aku akan memberinya uang yang banyak biar dia tidak menggoda kakang lagi," wanita yang bersama anak kepala desa itu mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang baru di dengar.


"Sebaiknya jangan. Nanti dia malah semakin berani."


"Lalu aku harus bagaimana biar dia tidak menggodamu?"


"Biarkan saja. Nanti juga dia akan lelah sendiri. Yang penting kamu jangan terlalu banyak memikirkan. Kasihan anak kita . Kesehatannya nanti bisa terganggu."


"Tapi kakang, dia itu...."

__ADS_1


"Biar urusanku. Aku sedang memikirkan cara agar dia berhenti menggodaku."


__ADS_2