
Saat pagi tiba, kepala desa itu sangat terkejut begitu tahu dirinya berada di dalam penjara saat terbangun. Ia tak tahu apa yang kepadanya hingga ia bisa sampai berada disana. Seingatnya semalam ia masih berpesta dengan raja dan pembesar istana yang lain.
"Keluarkan aku dari sini, aku kesini bukan untuk masuk penjara. Tolong keluarkan aku," saat ia terbangun, di hadapannya sang raja sedang berdiri dengan angkuhnya . Ia segera meminta untuk di keluarkan dari penjara.
"Sejak awal kamu memang sudah direncanakan untuk masuk penjara atas perlakukan mu terhadap rakyat yang bergantung kepadamu. Soal menjadi Adipati baru itu jangan berharap kamu akan mendapatkan jabatan itu. Esok atau lusa mungkin aku akan memerintahkan para prajurit untuk mengumpulkan semua kepala desa agar mereka bisa menyaksikan hukuman pancung yang akan kau jalani ."
"Ampun paduka, jangan hukum saya. Saya mengaku salah, tapi itu semua karena saya di perintah oleh Adipati Kencana Wulan. Saya dipaksa untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin," dia terlihat sangat ketakutan.
"Dia akan menghabisi nyawa saya jika saya tidak mau. Saya benar-benar terpaksa," katanya lagi mencari pembelaan.
"Seharusnya kamu melaporkan Adipati itu kepadaku sejak lama. Tapi kamu sepertinya menikmati harta itu."
"Soal itu, saya takut jika saya memberitahu maka saya dan keluarga akan dibunuh jika Adipati tahu ."
"Itu masalahmu. Yang jelas, menumbalkan seluruh masyarakat desa demi keluargamu itu adalah kesalahan karena jika kamu melapor ke kerajaan maka kamu akan selamat dari ancaman Adipati. Untuk sekarang, nikmatilah hari-hari disini sebelum kepalamu terlepas dari badanmu," raja itu kemudian pergi dari sana.
__ADS_1
Tak berapa lama setelah raja itu pergi, kepala desa itu kemudian terlihat seperti orang mengamuk. Ia berteriak-teriak minta di keluarkan dari sana sembari memaki raja yang sudah berlalu.
***
Di tepian sebuah danau yang lumayan lebar, Laksminingrum dan juga Aji Dharma sedang melakukan latihan berpedang. Pagi itu mereka terlihat sangat bersemangat untuk berlatih. Suara dentingan pedang terdengar jelas sekali di antara pepohonan yang begitu asri.
"Aku kemarin itu terlihat payah sekali, ya?" Setelah beristirahat Aji Dharma membuka pembicaraan.
"Tidak juga. Tapi memang selendang yang dipakai oleh orang-orang itu benar-benar merepotkan. Baru kali ini aku menghadapi orang yang menjadikan selendang sebagai senjata seperti itu."
"Semoga saja. Aku sangat berharap bisa mengetahui masa laluku . Aku ingin tahu mengapa orangtuaku tidak mengurusi ku. Aku ingin tahu dimana keluargaku berada sekarang."
"Hmmmmm, boleh aku tahu rasanya menggunakan pedang yang hebat seperti itu?" Aji Dharma mengganti topik.
"Biasa saja. Aku malah belum pernah benar-benar mengalahkan lawan yang ku hadapi dengan pedang ini ."
__ADS_1
"Kok bisa?"
"Entah. Mungkin aku sebenarnya tidak cocok untuk menggunakan pedang. Aku bahkan tidak tahu tujuanku berlatih menggunakan pedang saat aku masih kecil dulu."
"Siapa nama gurumu?"
"Dia tidak pernah mau mengatakan namanya kepadaku. Padahal sejak bayi, aku sudah dirawat olehnya."
"Gurumu itu misterius sekali ya. Aku harap suatu saat nanti bisa belajar darinya."
"Hmmmmm , kapan kita akan memulai perjalanan lagi?"
"Besok saja. Kita menginap disini. Sepertinya hutan ini aman. Dan lagi sepertinya pasokan makanan kita bakal tercukupi di sini."
"Kalau itu mau mu, aku ikut saja," kata Laksminingrum
__ADS_1