
"Kau bilang kalau pedang yang ku pakai ini yang terlemah? Kalau begitu mengapa kamu seperti kesulitan menghadapi ku?" Dengan sombong, ia berkata . Dengan lava yang keluar dari pedangnya itu nampaknya ia merasa diatas angin.
"Aku hanya ingin mengetahui seberapa lihainya kamu menggunakan pedang itu," Arya Bayu dengan tersenyum berkata.
"Tapi sepertinya sudah saatnya untukku serius," jawab Arya Bayu. Ia sedikit memainkan pedangnya kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi setelah membacakan sedikit mantra. Saat pedang itu terangkat, entah darimana sebuah suara jeritan yang memekakkan telinga datang. Bumi bahkan nampak terasa bergetar saat suara itu berkumandang.
"Tutup telingamu sebisa yang kau lakukan. Kau tahu, air dipenuhi oleh tekanan. Laut menyimpan banyak suara yang lebih kuat dari ini," saat melihat lawannya menutup kuping karena tidak kuat mendengar suara yang begitu kuat ia berkata.
Saat musuh tidak bisa berkonsentrasi, saat itulah Arya Bayu menyerang secepat yang ia bisa . Ia juga terlihat sangat beringas seperti layaknya seekor hiu sedang menyerang mangsanya. Siapapun tidak akan selamat dari serangannya.
__ADS_1
Saat menerima serangan yang cukup brutal itu, lawannya mengingat hari dimana dia mendapatkan pedang untuk mewujudkan cita-cita yang selama ini terus ikut bersamanya. Dia tak menyangka akan berakhir seperti itu.
Saat hendak mengambil pedang watugeni dari tangan lawannya, pedang itu langsung menghilang begitu saja. Nampaknya ia tahu , bahwa ia akan segera dihancurkan jika tidak pergi dari sana.
"Ternyata pedangmu itu licik sekali ya. Dia selalu mencari orang-orang sepertimu untuk menjadi pengguna pedang siluman. Pedang itu akan terbuka segelnya jika ada orang sepertimu mencari kekuatan untuk kejahatan. Tapi nampaknya dia belum mendapatkan pengguna yang cocok," Arya Bayu berbicara dengan tenang.
"Kamu akan ku biarkan hidup dipenjara untuk menebus kesalahanmu. Semoga kamu bisa berubah nanti," katanya lagi.
"Tapi sepertinya kamu kalah telak. Kalau aku menggunakan kekuatanku yang sebenarnya mungkin kamu sudah mati dari tadi. Aku pikir lebih baik kita menunda duel saja sampai kamu bertambah kuat. Selama kamu mencari kekuatan aku akan menjaga kerajaan ini. Walaupun aku bukan anak sah raja, aku juga punya darah dari penguasa negeri ini. Bagaimana? Setuju?" Arya Bayu memberi penawaran.
__ADS_1
Pangeran bingung, dia tak bisa memutuskannya. Di satu sisi ia memang ingin melakukan perjalanan, tapi di satu sisi ia masih ingin bertarung mati-matian demi harga diri. Ia merasa jika dirinya pergi rasanya seperti seorang pengecut saja.
"Apa yang kau pikirkan? Kalau aku jadi kamu mungkin aku akan pergi untuk mencari kekuatan . Dan aku juga telah melakukannya."
Memang pangeran ingin pergi, tapi ia juga tak punya tujuan , tapi ia akhirnya memutuskan untuk mencari kekuatan yang lebih besar . Dan lagi, ia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi orang biasa tanpa menggunakan gelar yang ia sandang sejak lahir.
Setelah memilih untuk pergi, ia menyempatkan diri untuk ikut serta dalam acara penobatan Arya Bayu sebagai raja baru yang berkuasa karena tidak ada yang tahu bagaimana nasib raja sebelumnya. Sebenarnya pangeran merasa sedikit sakit saat melihat Arya Bayu yang dinobatkan, ada rasa tidak rela dihatinya.
Ia sebenarnya merasa takut negerinya dipimpin oleh orang yang masih asing baginya. Di dalam hatinya ia berharap suatu saat nanti tahta kerajaan jadi miliknya . Dengan begitu ia bisa membuat rakyatnya sejahtera, suatu saat nanti jika kekuatannya sudah cukup untuk melawan Arya Bayu.
__ADS_1
Ia memutuskan untuk pergi bersama dengan Laksminingrum dan yang lainnya. Walaupun keputusannya untuk melakukan perjalanan ditentang, mereka tetap menerimanya sebagai teman perjalanan .
Mereka berjalan terus ke arah barat menuju bukit Kinasih yang sudah semakin dekat. Sebenarnya Laksminingrum merasa sedih saat mendengar bahwa Dewi Ratih dan Erlangga akan menghentikan perjalanan mereka untuk sementara waktu. Lagipula tanpa mereka berdua Laksminingrum tidak tahu harus berjalan kemana lagi. Ia tak arah tujuan yang pasti.