Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#104. Pertemuan Rahasia


__ADS_3

Hari terus berlalu dan sudah satu minggu, Mathanadeva dan Chen Khu selalu mengadakan pertemuan rahasia di bukit yang letaknya tidak jauh dari istana.


Chen Khu yang kembali melatih pernafasan serta memgkonsumsi banyak sumber daya untuk meningkatkan tenaga dalam serta energi Chi yang dimilikinya, sedangkan Mathanadeva juga terus fokus untuk mempelajari kitab Dewa Naga Khayangan, selain itu.. Mathanadeva juha terus menerus menyerap energi dari mustika siluman yang diberikan oleh Chen Khu dan alhasil.. dalam kurun waktu satu minggu saja tenaga dalam Mathanadeva meningkat drastis.


Dengan banyaknya jumlah mustika yang diserap oleh Mathanadeva, tenaga dalam yang dimilikanya saat ini hampir mencapai tiga ratus tingkat.. meskipun jumlah mustika yang dimilikinya lima ratus buah, akan tetapi semakin banyak energi mustika yang diserapnya maka peningkatan yang dirasakannya juga semakin kecil, bahkan Mathanadeva berhenti menyerap energi dari mustika siluman saat empat ratus buah mustika, dan perubahan terakhir yang dirasakannya adalah saat menyerap energi dari mustika siluman harimau putih yang berusia ribuan tahun yang bernama dipanggil Agra.


"Yang mulia.. Siapa orang - orang yang mengenakan pakaian serba hitam serta mengenakan topeng dan selalu ada saat siluman menyerang..? " Chen Khu menanyakan hal yang sudah cukup lama dipendamnya perihal orang - orang yang berpakaian serba hitam dari sekte Aghori.


"Aku juga tidak tau siapa mereka Chen Khu.. tapi.. perkataan pria bertopeng merah saat terakhir kita menghadapi siluman itu, sebenarnya cukup menggangguku.. "


"Memangnya pria bertopeng merah itu bilang apa yang mulia..? "


"Hmmm.. pria itu mengatakan.. jika akulah yang menjadi penyebab sehingga mereka menjadi seperti itu.. "


"Hal itu sebernya sedikit menggangguku.. sebab sejak menggantikan ayahku yang mangkat dua puluh tahun yang lalu menjadi raja Gurjara.. belum sekalipun aku berperang melawan manusia lain.. "


"Atau jangan - jangan......!! " Mathanadeva terdiam sejenak, lalu kepala mendongak ke atas dan pandangannya menerawang jauh.. seperti sedang memikirkan kejadian dimasa lalunya..


"Jangan - jangan kenapa yang mulia..? " tanya Chen Khu penasaran.


"Aah.. tidak mungkin..!! mereka bahkan sudah lama meninggalkan tempat itu.. " ujar Mathanadeva seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.


"Mereka itu siapa yang mulia..? " tanya Chen Khu yang dibuat makin penasaran.


"Sekte Aghori..!! " jawab Mathanadeva dan kembali melihat ke arah Chen Khu..

__ADS_1


"Sekte Aghori..?? apa itu termasuk sekte beladiri yang mulia..? "


"Sekte Aghori.. yang jika dibenua daratan tengah akan lebih dikenal dengan sekte aliran hitam.. tapi disini.. kami menyebutnya dengan sekte aliran sesat.. selain mengajarkan ilmu beladiri pada para anggotanya.. sekte itu juga melakukan pemujaan terlarang karena menjadikan manusia sebagai persembahan dan setelah itu mereka akan memakan daging manusia yang dijadikan persembahan tadi.. " Mathanadeva berusaha mempersingkat penjelesannya pada Chen Khu..


"Lalu bagaimana bisa yang mulia berurusan dengan mereka..? "


"Dulu... dua puluh lima tahun yang lalu.. sepulang dari kuil gunung Hang Chu.. ayahku memberiku tugas untuk membubarkan sekte tersebut dan menghentikan ajaran sesat yang mereka yakini..dan aku berhasil membunuh seluruh petinggi sekte tersebut bahkan anggotanya yang tidak mau menyerah dan tetap loyal pada mereka juga ikut terbunuh..hanya saja... " Mathanadeva menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan penuturannya.


"Hanya saja... anggota mereka yang tersisa dan menyerah serta bersedia meninggalkan ajaran sesat yang mereka lakukan, kemudian meninggalkan tempat itu, dan tidak seorang pun tau kemana perginya.. "


"Apa mungkin mereka pelaku yang mengerahkan siluman - siluman untuk terus membuat kekacauan..?? " tanya Chen Khu.


" Aku juga tidak tau persis dan belum berani memastikan.. hanya saja.. jika sekte Aghori bisa mengendalikan siluman.. dan mempunyai dendam padaku.. seharusnya mereka menyerang istana.. bukan malah membuat kekacauan yang membuat rakyat yang tidak berdosa menjadi korban.. " jawab Mathanadeva dan mulai memijit keningnya.. sedangkan Chen Khu terdiam mencoba memikirkan apa yang baru saja diceritakan oleh Mathanadeva.


Matahari sudah akan memasuki peraduannya.. Mathanadeva bergerak cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh.. berkat peningkatan tenaga dalam.. kecepatannya juga ikut bertambah bahkan Mathanadeva juga sudah bisa menyembunyikan aura kekuatan yang dimilikinya berkat petunjuk dari kitab Dewa Naga Khayangan.. dan dalam hitungan menit.. kedua pria itu sudah sampai di halaman belakang istana kediaman Mathanadeva, dan setelah Mathanadeva memasuki kediamannya.. Chen Khu berjalan gontai kembali ke kediamannya juga.. meskipun bisa merasakan jika ada seseorang yang sedang mengawasinya.. tapi Chen Khu berlagak seperti tidak tau.


"Tuan muda.. tuan dari mana saja seharian ini..?? bahkan dalam satu minggu ini baru kali ini aku bisa menemui anda tuan.. " terdengar suara dari arah belakang.. dan pemilik suara tersebut adalah Shiva yang sejak tadi menguntit Chen Khu saat keluar dari halaman kediaman Mathanadeva.


Chen Khu tidak menjawab pertanyaan Shiva, tapi Chen Khu membalikkan badan sambil menepuk - nepuk perutnya dan berkata sambil berbisik..


"Lapar.."


Shiva menggelengkan kepalanya kesal sebab..bukannya menjawab pertanyaan darinya, tapi Chen Khu malah memberi isyrat agar Shiva meminta para dayang istana untuk menyiapkan makan malam untuknya.


"Tuan.. seharian tuan muda kemana..?? " tanya Shiva pada Chen Khu yang sedang menikmati makan malamnya setelah membersihkan badan.

__ADS_1


"Aku ada sedikit urusan dengan yang mulia.. " jawab Chen Khu tanpa menoleh dan terus menikmati makanannya.


"Selama seminggu ini...?? " tanya Shiva kembali.


"Iya.. kalau tidak percaya tanyakan saja langsung pada yang mulia.. " jawab Chen Khu sambil menatap wajah Shiva sambil tersenyum seolah mengejek Shiva yang tidak akan berani menanyakan hal seremeh itu pada Mathanadeva..


"Apa..??! tidak.. tidak.. tidak.. aku tidak berani untuk bertanya langsung pada yang mulia.. " ujar Shiva sambil melambai - lambaikan telapak tangannya.


"Kalau begitu.. kamu harus percaya.. " ujar Chen Khu lalu melanjutkan kembali makannya..


Chen Khu makan dengan lahap malam itu, bahkan separuh makanan yang disiapkan oleh dayang istana sudah dihabiskannya.. pemandangan seperti itu baru pertama kali disaksikan oleh Shiva dan membuatnya semakin penasaran tentang apa yang dilakukan oleh Chen Khu sampai - sampai dia sangat kelaparan dan menghabiskan makanan sebanyak itu..tapi setelah mendapatkan jawaban seperti tadi.. Shiva hanya bisa memendam rasa penasaranya dalam hati.


Waktu terus berlalu dengan cepat.. dan malam kian larut, tapi Chen Khu belum juga bisa memejamkan mata.. berbagai pikiran kembali berkecamuk dalam kepalanya, kegelisahan akan nasib sekte kuda terbang kembali membayanginya.. nasib ayahnya yang sampai saat ini dia belum menemukan titik terang, serta pikiran - pikiran lain yang terus membebaninya.


Chen Khu memutuskan untuk berjalan - jalan di pelataran istana untuk menenangkan diri sambil menghirup udara malam, dan langkahnyapun terhenti saat sampai disebuah jembatan kecil yang menjadi penghubung dua sisi danau buatan yang ada dalam pelataran istana.. Chen Khu duduk dengan kaki terjuntai hingga menyentuh air danau..


Dinginnya air.. serta udara malam mulai merasukinya melalui ujung kakinya hingga Chen Khu larut dalam lamunan dengan semua yang menjadi beban pikirannya..


"Anak bodoh..!! apa yang kamu lakukan disitu..? "


Chen Khu tersentak.. suara yang baru saja didengarnya membuyarkan lamunannya, dan suara itu sungguh tidak asing baginya.


"Siapa itu..?! " ujar Chen Khu langsung memasang sikap waspada, sebab dia tidak bisa merasakan keberadaan orang yang berbicara padanya..


"Dasar Anak bodoh..!! apa kami sungguh sudah tidak mengenaliku..?? " suara itu kembali terdengar tapi kali ini diiringi dengan munculnya bayangan seseorang yang berjalan keluar dari balik bayang - bayang pepohonan yang diterpa sinar bulan.

__ADS_1


__ADS_2