Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#113. Sekte Aghori


__ADS_3

Seorang pemuda terlihat membawa dua ekor ayam hutan muda, pemuda itu berjalan sangat hati - hati dan penuh dengan kewaspadaan, sampai akhirnya pemuda itu sampai pada sebuah ceruk tebing pada bukit karst yang sangat tersembunyi.


Chen Khu kemudian membersihkan kedua ekor ayam hutan itu sedangkan Mathanadeva mengumpulkan ranting - ranting kecil untuk membakar ayam - ayam hutan tersebut.


"Sayang sekali.. kita harus menunggu hari menjadi gelap untuk bisa membakar kedua ayam ini yang mulia.. " ujar Chen Khu sambil membuat lubang pada dasar ceruk sebagai persiapan untuk menyalakan api agar api yang dinyalakan nantinya tidak terlihat dari kejauhan sedangkan api yang akan dinyalakan pada malam hari bertujuan agar asap dari api yang dinyalakannya tidak terlihat.


"Hahaha.. kamu harus sedikit bersabar dengan gejolak yang ada diperutmu.. " jawab Mathanadeva tertawa.


Setelah semua persiapan selesai.. kedua orang itu kemudian duduk menunggu dan sesekali secara bergantian mereka naik ke atas ceruk untuk mengawasi perkampungan yang terletak di lembah hantu.


***


"Kera api.. apa yang terjadi padamu. ?" Tamil Nadu terkejut saat melihat siluman kera api yang berjalan tertatih - tatih dengan luka yang hampir memenuhi sekujur tubuhnya.


Kera api yang dipenuhi luka terus berjalan memasuki sebuah aula yang biasa digunakan oleh Tamil Nadu untuk mengumpulkan seluruh ketua sekte Aghori..dan saat sampai dihadapan Tamil Nadu.. siluman kera api membungkuk memberi hormat kemudian menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.


Tamil Nadu serta ketua sekte lainnya tercengan mendengar penuturan dari siluman kera api..akan tetapi Tamil Nadu seolah menangkap sesuatu yang ganjil dari penuturan tersebut.


"Apa kamu yakin jika mereka tidak mengikutimu saat melarikan diri..? "


"Tidak tuan.. awalnya aku merasakan salah seorang dari mereka mengejarku, hanya saja tidak berlangsung lama dan akhirnya aku merasa jika mereka tidak mengikutiku dan kuputuskan untuk kembali ke sini setelah semalam saat beristirahat aku sama sekali tidak merasakan kehadiran mereka tuan.. " jawab kers api.


"Hmm.. lagi - lagi pemuda itu..sampai kapan dia akan terus membantu Mathanadeva.. " ucap Tamil Nadu sambil memijat keningnya.


"Tuan.. kenapa sampai saat ini kita belum juga menyerang gurjara..?? bukankah kekuatan kita sudah cukup besar jika berhadapan dengan mereka..? " Ucap Rajesh yang merupakan salah seorang ketua dari sekte Aghori yang bertugas untui menculik anak - anak kecil yang kemudia dilatih ilmu beladiri dan nantinya anak - anak tersebut dipersiapkan untuk menjadi pasukan perang mereka.


Sudah ratusan bahkan mungkin ribuan anak yang telah diculik oleh Rajesh bersama kelompoknya, dan ditempatkan pada sebuah kemp khusus untuk dilatih beladiri yang mana sebelum mereka dilatih beladiri..anak - anak itu dipaksa untuk meminum ramuan yang dibuat oleh Rajesh sendiri untuk menghilangkan ingatan mereka dan efek ramuan tersebut juga membuat anak - anak tersebut secara sukarela berlatih serta melaksakan perintah yang diberikan oleh Rajesh.

__ADS_1


"Tidak semudah itu Rajesh.. kamu liat sendiri.. selama ini kita terus berupaya untuk mengurangi kekuatan mereka dengan terus menyerang kota - kota mereka dan apa hasilnya..?? kita selalu gagal.. !! apalagi saat ini pemuda misterius yang berkempuan sangat tinggi itu bersama mereka dan kita tidak memperoleh informasi sedikitpun tentang pemuda itu. " jawab Tamil Nadu dengan nada sedikit meninggi.


" Tapi Tuan.... "


" Aku tau apa yang ada dipikiranmu Rajesh.. kamu pasti sudah bosan terus terkurung ditempat seperti ini.. dan kamu ingin membalaskan dendam orang tuamu.. tapi untuk saat ini.. kita harus menunggu sampai pemuda itu meninggalkan Gurjara.. Aku yakin pemuda itu tidak akan tinggal lebih lama lagi bersama mereka.. " ucap Tamil Nadu memotong perkataan Rajesh.


"Vikhram.. terus lakukan upaya kita untuk terus melemahkan kota - kota yang ada disekitar ibukota Gurjara.. mungkin kita akan terus kehilangan siluman - siluman yang kita miliki.. akan tetapi mereka juga akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menggantikan prajurit serta pendekar mereka yang terbunuh.. dan kamu Rajesh.. berikan latihan yang lebih keras pada pasukan kita agar saatnya nanti mereka bisa kita andalkan.. " ujar Tamil Nadu melanjutkan.


Vikhram yang bertugas sebagai ketua sekte yang mengurus siluman mengangguk menerima perintah Tamil Nadu tersebut.


***


"Bagaimana Chen Khu.. apa kamu melihat mereka..? " tanya Mathanadeva pada Chen Khu yang baru saja sampai dari atas ceruk untuk mengawasi.


"Belum ada tanda - tanda yang mencurigakan yang mulia.. sejauh ini perkampungan itu masih terlihat normal seperti perkampungan pada umumnya.. " jawab Chen Khu lalu duduk bersandar pada dinding ceruk sambil memegangi perutnya yang sudah sering kali berbunyi.


Matahari akhirnya perlahan memasuki peraduannya dan waktu itu sudah sangat dinantikan oleh Chen Khu. Sesaat setelah bayang - bayang pepohonan sudah tidak terlihat dan serangga malam mulai keluar dia segera menyalakan api pada lubang yang sudah dipersiapkannya sejak tadi.


Dua orang tampak sedang menikmati makan malam dengan lahap pada sebuah ceruk tebing..Chen Khu yang sudah menahan gejolak perutnya sejak siang tidak membutuhkan waktu lama untuk mengahabiskan makanannya sedangkan Mathanadeva hanya tersenyum melihat tingkah pemuda dihadapannya yang meskipun usia mereka terpaut jauh..tapi Mathanadeva menyimpan kekaguman pada Chen Khu.


"Ambil ini..sampaikan pada perutmu kalau itu adalah bonus dariku.. " ucap Mathanadeva lalu memberikan setengah ayam hutan miliknya pada Chen Khu sambil tertawa, dan tanpa ragu, Chen Khu meyambar potongan ayam itu dan menghabiskannya dengan cepat seperti dia menghabisi lawan - lawannya.


"Bagimana..?? apakah kamu sudah mempunyai rencana..?? " tanya Mathanadeva kemudian.


" Sebaiknya kita menyusup malam ini yang mulia.. kita belum bisa memutuskan untuk bergerak apalagi dengan membawa pasukan dalam jumlah besar sebelum mengetahui jumlah mereka, terlebih lagi mereka mampu mengendalikan siluman.. "


"Baiklah.. kita tunggu sampai larut malam.. kemudian kita menyusup ke perkampungan itu.. " ujar Mathanadeva lalu merebahkan tubuhnya.

__ADS_1


"Baik yang mulia..!!" jawab Chen Khu yang juga ikut merebahkan tubuhnya.


Bukit itu kembali sepi.. hanya suara serangga malam dan burung - burung malam terdengar.. kedua orang itu hanyut dalam lamunan masing - masing.


"Chen Khu.. jika semua ini selesai dan kita masih selamat.. apa rencanamu kedepannya..? " tanya Mathanadeva memecah keheningan.


"Aku akan mencari ayahku yang mulia.. " jawab Chen Khu singkat.


" Apa kamu sudah tau dimana dia berada..? " Mathanadeva terus mengajak Chen Khu berbicara untuk mengusir kantuk yang mulai menyerangnya.


" Belum yang mulia.. tapi sebagai permulaan aku akan ke kerajaan Nishada untuk memeriksa.. "


"Hmm.. aku juga sudah lama tidak mengembara sebagai rakyat biasa.. apa kamu keberatan jika aku ikut denganmu..? "


Chen Khu tersentak dan langsung terduduk mendengar ucapan Mathanadeva, sejak awal dia berencana akan mengajak Shiva untuk menemaninya dan dia tidak menyangka jika Mathanadeva malah menawarkan diri untuk menemaninya.


" Tentu saja tidak yang mulia.. dan sebuah kehormatan besar jika yang mulia menemaniku.. " jawab Chen Khu.


"Kamu sudah terlalu banyak membantuku dan rakyat gurjara.. dan hal itu belum sebanding dengan apa yang telah kamu berikan padaku dan putriku.. " ujar Mathanadeva.


"Yang mulia terlalu berlebihan memuji.. " ujar Chen Khu yang tidak dijawab oleh Mathanadeva dan keheningan malam kembali menyelimuti mereka.


"Oh iya Chen Khu.. beberapa bulan lagi Aahana akan berusia delapana belas tahun.. dan dia pernah mengatakan padaku untuk mengadakan kompetisi pendekar untuk menjadi pendampingnya.. apa kamu berminat untuk ikut..?? " Kembali Mathanadeva memecah keheningan hanya saja pertanyaannya kali ini membuat jantung Chen Khu berdetak lebih cepat dan membuatnya berfikir cukup lama sebelum menjawab.


"Masih banyak hal yang harus kulakukan dibenua daratan tengah yang mulia..dan juga aku belum tau apa yang terjadi di kekaisaran Ming saat ini meskipun guruku telah memberi pesan jika sekteku baik - baik saja.. "


"Mmmmm.. apa kompetisi itu ditunda dulu sampai kamu menyelesaikan semua urusanmu di sana..? " pertanyaan Mathanadeva semakin membuat jantung Chen Khu berdetak kencang bahkan keringat dingin mulai menetes dari keningnya.

__ADS_1


"Malam sudah larut yang mulia.. sebaiknya kita bergerak sekarang..!! " ujar Chen Khu mencoba mengalihkan pembicaraan.


__ADS_2