Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
16. Kertas Menyegel Semesta


__ADS_3

Dengan keseimbangan masing-masing yang hampir hilang. Beragam jurus-jurus maut yang mereka tunjukkan satu persatu itu sungguh memukau. Kilatan cahaya yang mengiringi setiap pukulan maut itu terlihat sangat menyilaukan di mata Erlangga dan dua temannya.


Sambil mengintip mereka berusaha mempelajari setiap gerakan yang mereka lakukan. Walaupun tidak tahu nama jurusnya atau bahkan cara menggunakannya, setidaknya ada gerakan-gerakan yang mungkin bakal terpakai nantinya.


"Apa kamu sudah puas? Aku akan meladeni mu hingga puas sekarang. Setelah itu, kau tidak akan bisa mendapatkan kepuasan lagi."


"Puas kau bilang? Sejak kapan aku bisa puas sementara kawanku masih hidup? Aku tidak akan puas sebelum memakan jantungmu. Kalau kau mau aku puas, serahkan dulu jantungmu itu," walaupun ia hampir tidak bisa mengimbangi keseimbangan tubuhnya, Mahisa masih bisa berkata begitu dengan diiringi suara tawa yang mengerikan.


"Kau pikir aku punya jantung? Siapa yang membutuhkan? Kau tahu kan kalau aku juga sudah memperoleh keabadian sepertimu? Bahkan aku bukan manusia , jadi bagaimana bisa aku punya jantung?"


"Aku hampir lupa. Sekian lama aku hanya bisa berada disini , yang kulakukan hanyalah memakan jantung pendekar yang sudah ku kalahkan. Rasanya sungguh nikmat sekali. Aku juga suka meminum darah mereka yang masih segar. Rasanya sungguh membuatku ingin meminumnya terus dan terus."

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan membuatmu tidak bisa merasakan kenikmatan lagi."


"Tidak mungkin kau bisa."


Kameswara berkonsentrasi, dari tangannya keluar seperti kertas. Dia kemudian mengarahkan kertas yang di sana bergambar kotak seperti penjara. Mahisa terlihat terkejut saat melihatnya, kertas yang keluar dari tangannya Kameswara bukan sembarang kertas. Itu adalah jurus Kertas menyegel semesta. Lari kemanapun tidak akan bisa lari.


"Kau pasti terkejut kan? Sebenarnya aku tidak mau membuatmu tersiksa, hanya saja aku harus menjalankan tugasku," dengan sombongnya Kameswara berkata. Walaupun nadanya begitu, di dalam hati ia merasa tidak tega juga. Tapi mengingat apa yang dilakukan Mahisa di masa lalu ia harus benar-benar menguatkan tekadnya.


"Kau akan bebas suatu saat nanti. Tapi sebelumnya kau harus menyadari kesalahanmu. Padahal dulu kamu orang yang baik, tapi kenapa?" Kameswara tidak mampu lagi menahan apa yang ada di otaknya tersebut.


"Aku sangat sedih saat harus menyegelnya. Makanya dari tadi aku berusaha untuk membuatmu merasa puas bertarung . Setidaknya untuk terakhir kalinya," ia memberi alasan mengapa dari tadi ia tidak ingin langsung menyegel Mahisa padahal ia bisa.

__ADS_1


"Sekarang bangkitlah wahai jiwa yang tertidur. Aku akan menghidupkan kalian lagi. Hiduplah kalian dengan bahagia," dengan pose tangan seperti sedang memberi berkat ia menghidupkan tengkorak yang berserakan di sana.


"Kembalilah kepada keadaan saat kalian masih hidup," setelah menghidupkan mereka ia langsung menghilang dengan segera. Tak ada jejak langkah kaki yang tersisa. Ia pergi meninggalkan begitu banyak misteri yang belum terpecahkan.


***


Laksminingrum dan lainnya seakan dibuat tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Semuanya benar-benar diluar nalar manusia biasa? Dalam hati, mereka ingin bertanya mengenai orang baru saja menghilang seperti kepulan asap ditiup angin itu .


Kalau dilihat dari caranya, orang itu lebih mirip seperti Dewa yang turun langsung untuk menghukum orang yang tadi mereka kawan itu. Mereka semua benar-benar takjub saat ia bisa menghidupkan orang-orang yang telah mati . Bahkan dalam kondisi utuh seperti saat mereka masih hidup dulu.


Apa dia benar-benar seorang Dewa? Entahlah, yang jelas mereka harus berjalan menuju ke tujuan masing-masing. Mungkin pertanyaan tadi suatu saat akan terjawab. Biar waktu yang akan memberikan jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2