
Arya Bayu masuk kedalam istana dengan mudahnya. Di sana, ia melihat ia pangeran yang terlihat putus asa karena serangannya sepertinya hampir selalu gagal. Pangeran nampaknya sudah mulai putus asa karena ilmu yang dimiliki oleh raja tak sebanding dengan dirinya.
Sebenarnya ia ingin menunggu sampai keduanya selesai bertarung, tapi tangannya ternyata gatal juga untuk bertarung. Ia menyerang keduanya tanpa pikir panjang. Pertempuran tiga arah terjadi didalam istana .
Ilmunya nampaknya tidak bisa dianggap remeh oleh kedua lawannya itu. Dari gerakannya saja terlihat ia adalah seorang pendekar yang telah terlatih .
"Ilmu yang kau punya lumayan juga, tapi aku tidak mengenalimu anak muda!" Kata Raja sambil terus bertarung.
"Kamu tidak mengenalimu , lagipula aku juga tidak mau dikenali olehmu. Aku tidak Sudi mengenal orang yang tidak bertanggungjawab sepertimu!" Arya Bayu sudah menduga bahwa kehadirannya adalah sesuatu yang tidak diinginkan oleh lawannya .
"Kamu telah menelantarkan ku dan ibuku . Kau telah membuatnya hamil dan kemudian kau tinggalkan dia! Kau tahu, aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi sekarang, selama aku bisa membalas dendam ibuku aku akan membunuhmu!" dia mulai mengabaikan sang pangeran yang nampaknya sudah semakin terpojok. Masalah itu nanti bisa diurus , yang penting ia ingin mengalahkan raja terlebih dahulu . Bukan menyepelekan, hanya saja jika ia mengalahkan raja terlebih dahulu maka urusan dengan pangeran akan lebih cepat selesai.
Pertarungan terjadi sangat sengit diantara mereka berdua. Sang pangeran sepertinya diabaikan. Arya Bayu menyerang dengan membabi buta. Dia menyerang sambil mengingat segala yang dibilang ibunya dulu sebelum meninggal.
Segala kebencian yang telah diwariskan ibunya kepadanya telah menjadi tujuan hidupnya. Ia tumpahkan segalanya di dalam pertarungan ini. Setelah ini semuanya akan berakhir dengan baik sesuai harapannya.
__ADS_1
***
"Tunggu dulu , didalam tuan kami sedang berjuang untuk bisa menjadi raja. Kamu yang tidak berkepentingan dilarang masuk," saat hendak memasuki istana, di dekat pintu ia dihadang oleh dua orang yang tampaknya bukan bagian dari pasukan pemberontak maupun pasukan istana .
"Sebagai gantinya, kamu akan berhadapan dengan kami," kata yang lain lagi .
"Lebih baik kalian menyingkir daripada kalian menyesal nantinya," Laksminingrum berusaha menggertak kedua orang itu .
"Lebih baik menyingkir? Sehebat apa ilmu yang kau punya?" dengan tatapan sinis mereka, salah satu dari mereka bertanya. Nampaknya ia tak suka diremehkan.
***
Pangeran yang tersingkir dari pertarungan melihat dengan mata kepalanya sendiri dua kekuatan sedang beradu. Ia melihat bagaimana dahsyatnya mereka berdua, ilmu yang dimilikinya sudah sangat mumpuni. Ia jadi merasa dirinya tidak akan menang melawan mereka.
Lagipula sebenarnya motivasinya untuk balas dendam sebenarnya kurang kuat, ada rasa ragu dihatinya walaupun hanya sedikit. Dan lagi, sebenarnya tidak sepenuhnya paham mengapa ia ada disini lagi. Ia jadi mempertanyakan tujuannya bertarung setelah semua ini.
__ADS_1
Ia tak peduli jika orang itu yang akan jadi raja selanjutnya, lagipula kalau di dengar lagi, ia masih keturunan raja seperti dirinya walaupun dari hubungan yang nampaknya terlarang. Ilmunya lebih kuat, dia juga nampaknya orang baik walaupun tingkahnya seperti itu.
Ada rasa ingin berkelana setelah ini. Selama ini dirinya tidak terlalu mengenal dunia luar selain istana. Ia belajar dengan guru yang juga didatangkan ke istana secara langsung. Mungkin dengan berkelana, ia bisa tahu tujuan ia dilahirkan.
Berkelana sendiri nampaknya tidak buruk juga. Lagipula dengan begitu ia bisa bebas sebebas angin yang berhembus. Lagipula ia juga sering mendengar banyak kisah-kisah perjalanan yang membuatnya selalu terkesan dan ingin mencobanya, mungkin setelah ini adalah waktu yang tepat.
***
Erlangga terus menerus menyerang setiap orang yang mendekatinya. Ia tak ingin sebenarnya melihat mayat-mayat orang-orang yang berjuang demi kepentingan masing-masing. Walaupun begitu, demi harga dirinya ia terus menyerang mereka. Walaupun tidak tega, mereka akan bangga karena bisa mati dengan terhormat.
Ia pernah mendengar dari seorang prajurit yang dulu sangat ia kagumi. Ia selalu berharap bisa mati dengan cara terhormat. Di akhir hidupnya, ia memang benar-benar mati di Medan perang dengan penuh senyuman. Ia tahu dari cerita beberapa orang yang mengabarinya.
Walaupun sedih, Erlangga merasa bangga padanya. Nampaknya ia bakal bernasib sama. Mungkin sebentar lagi ia akan mengalaminya. Mengingat pengaruh dari ajian serat lumpuh yang makin kuat. Bila sewaktu-waktu ilmu itu menguasai dirinya, maka tamatlah riwayatnya.
Belum tentu juga nanti saat berada di bukit Kinasih dan menjumpai guru yang akan membantunya menyempurnakan ilmunya itu ia bisa membantu. Erlangga juga tidak seperti yang lainnya, ia hanya menunggu seseorang datang baru ia serang. Selama beberapa lama, ia hanya menyerang prajurit yang mudah saja untuk dikalahkan.
__ADS_1
Walaupun merasa beruntung, jika nanti ada yang menyerangnya dengan ilmu yang lebih tinggi ia tak keberatan. Mungkin sudah nasibnya bakalan mati di pertarungan ini. Intinya, apapun yang terjadi nantinya dia sudah pasrah. Lagipula mati dalam pertarungan bukan sesuatu yang buruk .