
Setelah sekian lama, akhirnya saat hari rasanya sudah menjadi malam, dengan ajaib Laksminingrum berhasil juga menemukan Aji Dharma yang sedang berada di atas tempat pembaringan. Di sana, terdapat seperti tempat pemujaan. Ada patung sesosok wanita yang sedang duduk di atas Kelelawar besar yang terlihat mengerikan. Sepertinya ritual baru akan di mulai.
Saat wanita tua itu bersiap untuk membaca mantra pemujaan, Laksminingrum berusaha menyelamatkan Aji Dharma dengan kekuatan penuh. Ia takut jika terlambat sedikit saja Aji Dharma tak bisa di selamatkan lagi.
Melihat tumbalnya tidak ada disana, wanita itu mengamuk sejadi-jadinya. Laksminingrum segera memerintahkan salah satu siluman buaya untuk segera pergi, sementara ia sendiri yang akan berhadapan dengan wanita tua itu beserta anak buahnya . Cukup sulit sebenarnya, apalagi anak buah wanita itu memiliki senjata yang cukup fleksibel namun cukup untuk membuat lawannya bertekuk lutut.
Pertarungan terjadi sangat sengit di ruangan itu. Wanita tua itu terlihat sangat mengerikan saat ia benar-benar serius. Laksminingrum memainkan jurus-jurus pedang yang menjadi andalannya. Walaupun cukup mematikan juga, tapi tetap saja Laksminingrum kewalahan.
"Kamu takkan ku biarkan hidup! Aku pastikan kamu akan menjadi mayat disini!" Kata-kata itu bergema di kuping Laksminingrum. Apalagi setelah itu wanita tua itu berubah wujud perlahan menjadi seperti seekor kelelawar yang haus darah . Suara tawanya terus menerus bergema tanpa henti. Setiap Laksminingrum menebas, sosok itu menjadi kelelawar-kelelaawar kecil dan kemudian menyatu lagi. Sepertinya memang tak ada celah untuk menang bagi Laksminingrum.
__ADS_1
Laksminingrum bersama dengan salah satu siluman buaya yang tersisa rasanya seperti terpojok. Satu-satunya cara yang tersisa untuk keluar hanyalah dengan menghancurkan tempat itu. Dengan begitu, celah untuk memperlebar jarak menjadi memungkinkan.
Sementara itu, siluman buaya yang membawa Aji Dharma berusaha untuk kabur secepat yang ia bisa. Ia sebenarnya punya ilmu untuk berpindah tempat dengan cepat namun rasanya ilmu itu tidak berfungsi ditempat ia berada sekarang. Ia sudah mencoba berkali-kali, tapi hasilnya nihil. Oleh karena itu tidak ada jalan lain selain berlari disana.
Tempat ia sekarang berada di dalam gua yang di kuasai oleh wanita tua itu. Untuk bisa menggunakan ilmunya ia harus bisa keluar dulu dari sana. Ia berencana untuk membawa Aji Dharma yang tak sadarkan diri itu ke tempat yang ia rasa aman dahulu baru ia membantu Laksminingrum.
Saat sedang berusaha kabur dari sana, seorang anak buah wanita tua itu menyerangnya . Dengan sekuat tenaga ia berusaha mengelak. Agak sudah sebenarnya untuk mengelak, apalagi permainan selendang musuhnya itu cukup merepotkan.
Untuk pertama kalinya ia melawan musuh dengan senjata seperti itu. Untuk mendekati musuh rasanya mustahil baginya. Sekali terkena selendang itu, ia bisa terbungkus di dalamnya. Ia tak mau hal semacam itu mengganggu terjadi padanya. Karena merasa tidak ingin melawan lebih jauh lagi, wanita siluman buaya itu memutuskan untuk pergi dari sana secepat mungkin.
__ADS_1
***
"Tidak ada gunanya kamu melawan, karena kamu akan menjadi pengganti pria itu. Kamu akan ku jadikan tumbal," wanita tua berkata tepat di kupingnya Laksminingrum.
"Sayangnya aku tidak bisa membuatmu terluka agar kamu bisa menjadi tumbal yang sempurna. Lebih baik kamu ikuti perintahku, dengan begitu pria itu akan ku biarkan lolos," katanya lagi. Wujudnya kembali menjadi wanita tua seperti sebelumnya.
Tepat saat wanita tua itu hendak membuat Laksminingrum pingsan, wanita siluman buaya yang berada di situ mengeluarkan sebuah benda yang memancarkan cahaya sangat terang. Saking terangnya, bahkan membuat siapapun tidak kuat untuk menatap benda itu.
Setelah melihat semuanya lengah, wanita itu segera menarik Laksminingrum pergi dengan sekuat tenaga. Memang tidak ada pilihan lain selain itu. Wanita itu terkejut kuat saat berada di wilayahnya. Takkan ada makhluk lain yang akan bisa menang saat berhadapan dengan wanita itu di tempat ia berkuasa.
__ADS_1