
Panas terik siang itu serta deru angin yang sesekali berhembus dan membuat debu beterbangan serasa angin segar bagi tiga orang yang baru saja mendapatkan ampunan dari Mathanadeva, dan ketiganya bernafas lega saat melihat Mathanadeva menyarungkan pedangnya.
"Apa kalian melakukan hal yang sama ketika gadis itu memohon ampunan..? " Chen Khu yang sejak tadi menyaksikan jalannya pertarungan dari bawah pohon tiba - tiba berada di belakang ketiga orang yang sedang berlutut itu membuat Mathanadeva serta ketiganya terkejut.
Suara dengan nada tinggi dan dialiri tenaga dalam terdengar membahana membuat tubuh ketiga orang dihadapannya semakin gemetar. Masih lekat dalam ingatan mereka saat Chen Khu memapah gadis yang menjadi incaran mereka menjauhi arema pertarungan, tapi kini Chen Khu sudah berada di belakang mereka tanpa tau kapan dia berpindah tempat, bahkan gadis yang duduk disamping Chen Khu juga sampai tidak bisa menutup mulut dengan sempurna melihat Chen Khu sudah berda cukup jauh di depannya.
"Ampuni kami tuan... " ucap ketiganya setalah membalikkan badan menghadap Chen Khu dalam posisi masih berlutut.
"Chen Khu ja..... " Mathanadeva berusaha mencegah Chen Khu dengan berteriak dan mengangkat tangan saat melihat Chen Khu memasukkan tangan kanannya kedalam jubahnya.. tapi belum sempat Mathanadeva menyelesaikan ucapannya sebuah ayunan pedang yang dilakukan secara menyilang mengakhiri hidup ketiga orang itu dengan tubuh bersimbah darah.
"Aku paling benci melihat laki - laki berbuat hal tang tidak senonoh pada wanita.. " gumam Chen Khu sambil menyarungkan pedangnya.
Mathanadeva hanya menggelengkan kepala melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Chen Khu pada musuh yang sudah tidak berdaya.
"Apa perlu kamu melakukan itu pada musuh yang sudah tidak berdaya..? " ujar Mathanadeva dengan nada agak meninggi.
"Maaf yang mulia.. tapi mungkin yang mulia akan berpikiran lain jika ibu dan adik perempuan yang mulia dibantai didepan mata yang mulia sendiri.. " jawab Chen Khu sambil menatap tajam ke arah Mathanadeva yang membuat raja tersebut menelan ludah.
"Berdamailah dengan masa lalumu.. itu akan membuatmu menjadi lebih baik.. membalaskan dendam tidak akan membuat mereka hidup kembali, malah hanya akan membuat mereka sedih di alam sana.. " ujar Mathanadeva pelan sambil menepuk pundak Chen Khu dan ucapan Mathanadeva membuat Chen Khu tertunduk dengan mata berkaca - kaca.
"Dendam tidak akan menyelesaikan masalah.. saat kamu berhasil membalaskan dendammu maka dendam dari orang lain juga akan lahir.. hingga akhirnya akan terus berputar seperti itu.. kamu memiliki kemampuan yang hebat, dan itu lahir dari dendam akibat kematian ibu dan saudara - saudaramu.. dengan kekuatan besar yang kamu miliki seharusnya kamu juga memiliki tanggung jawab besar untuk merubah dunia ini menjadi lebih baik, bukan menjadi lautan darah. Kamu memiliki hati yang bersih.. itu sebabnya kamulah orang yang dipilih untuk mengemban tanggung jawab besar itu.. " ujar Mathanadeva pelan namun mampu membuat dada Chen Khu terasa sesak.
"Maafkan aku yang mulia..! " ucap Chen Khu sambil mengangkat kepalanya.
"Sudahlah.. semua sudah terjadi.. kuharap kamu selalu ingat pesanku ini.. " ujar Mathanadeva tersenyum sambil menepuk - nepuk pundak pemuda yang sudah menjadi seperti saudaranya sendiri itu.
"Baik yang mulia.. aku akan mengingat pesan anda.. " ujar Chen Khu sambil menyeka air mata di pipinya sambil berjalan mengikuti Mathanadeva yang sudah lebih dulu menuju ke tempat wanita yang baru saja mereka selamatkan.
"Oh.. iya.. satu hal lagi.. " ujar Mathanadeva menghentikan langkahnya sambil membalikan badan dengan jari telunjuk di depan wajahnya.
"Apa itu yang mulia..? "
__ADS_1
"Jangan panggil aku yang mulia... "
"Tapi yang mulia.. aku harus memanggil anda seperti apa..? " tanya Chen Khu mengeryitkan keningnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara Mathanadeva terlihat berpikir mencari nama yang sesuai.
"Panggil saja aku.. Jarjit... yaaah.. Jarjit Singh.. " ucap Mathanadeva sambil tersenyum lebar.
Chen Khu mengangguk lalu keduanya berjalan menuju wanita yang tadi merasa tertolong dengan kehadiran Chen Khu dan Mathanadeva kini merasa ketakutan setelah melihat apa yang baru saja terjadi.
"Tuan.. aku mohon jangan bunuh aku.. " ucap wanita itu gemetar.
"Membunuhmu..?? yang.... " Chen Khu mengehentikan sejenak ucapanya saat Mathanadeva menginjak kakinya.. dan Chen Khu menyadari jika dia hampir saja salah menyebut panggilan untuk Mathanadeva.
"Yang menolongmu tadi itu saudaraku nona.. jadi untuk apa kami membunuhmu..? " ujar Chen Khu melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda dengan nada agak meninggi
"Ma..maafkan aku tuan.. " ucap wanita itu semakin ketakutan.
"Sudahlah nona.. maafkan saudaraku.. gaya bicaranya memang agak keras.. tapi hatinya baik.. oh. iyaa.. perkenalkan... aku jarjit dan ini saudarku Chen.. " Mathanadeva menimpali dengan lembut membuat wanita itu berani mengangkat kepalanya..
"Namaku Hanisha tuan.. " ujar wanita itu lalu dia menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya.
Hanisha menceritakan jika dia selali menemani ayahnya Motu yang merupakan seorang saudagar dan merupakan penduduk kota Srinagar yang merupakan salah satu kota yang masuk dalam wilayah kerajaan Andhara itu sedang melakukan perjalan untuk berdagang ke daerah Gurjara.
Hari itu merupakan hari pertama mereka berniat untuk berdagang di luar wilayah kerajaan Andhara, ayahnya kemudian menyewa beberapa orang pengawal untuk menjaga mereka selama perjalanan namun saat mereka baru sampai beberapa kilometer dari tempat mereka berada saat ini.. rombongan mereka dihadang oleh sepuluh orang perampok.
empat orang berhasil mereka lumpuhkan namun enam orang lainnya mampu mengalahkan pengawal - pengawal yang disewa oleh ayahnya, bahkan ayahnya serta seluruh pengawalnya ditawan oleh perampok - perampok itu.
Hanisha yang melihat peluang untuk melarikan diri sesaat sebelum ayahnya berhasil ditawan berusaha berlari sekencang - kencangnya namun perampok - perampok itu rupanya mengetahui arah yang diambil olehnya hingga akhirnya dirinya bisa tertangkap dan kemudian diselamatkan oleh dua orang pria yang kini ada dihadapannya.
"Apakah rombongan ayahmu jauh dari sini.. ?" tanya Mathanadeva setelah Hanisha menyelesaikan ceritanya.
"Kurang lebih dua atau tiga kilometer dari sini tuan.. " jawab Hanisha.
__ADS_1
"Baiklah.. kami akan mengantarmu ke sana " ujar Mathanadeva sambil melihat ke arah Chen Khu..
" Aku akan mengambil kuda kita yang....." Chen Khu lagi - lagi menghentikan ucapannya karena kaki Mathanadeva kembali menginjak kakinya.
"Kuda kita yang tertambat diseberang sungai..! " ucap Chen Khu melanjutkan ucapannya setengah berteriak karena Mathanadeva terlalu kuat menginjak kakinya.
"Apakah anda akan menginjak kakiku setiap kali aku menggunakan kata YANG..? " bisik Chen Khu setelah membawa Mathanadeva sedikit menjauh dari Hanisha.
"Hahaha.. maafkan aku Chen Khu.. aku pikir kamu akan mengatakan yang mulia.. " balas Mathanadeva sambil tertawa.
"Aku masih belum pikun yang mulia bahkan usiaku lebih muda dari anda.. " balas Chen Khu kembali.
"Nah.. itu.... " Mathanadeva mengangkat kembali kakinya hendak menginjak kaki Chen Khu.
"Eh.. Jarjit.. maksudku Jarjit yang mulia..hahaha " bisik Chen Khu yang kemudian berlari keseberang sungai menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk mengambil kuda mereka yang masih tertambat.
"Dasar..!! " gumam Mathanadeva sambil tersenyum dan menggelengkan melihat tingkah Chen Khu yang seperti kekanak - kanakan..
Tanpa Mathanadeva sadari, selama bersama Chen Khu yang usianya terpaut jauh darinya, sikapnya juga sedikiy berubah.. dia menjadi lebih mudah tersenyum serta mulai pandai bergurau.
Ketegangan selama ini yang dirasakannya akibat serangan siluman yang semakin hari semakin gencar dan kehilangan banyak prajurit memang mengikis sisi humorisnya.. tapi sejak adanya Chen Khu yang selalu membantunya dalam menghadapi siluman serta memberinya kitab Dewa Naga Khayangan yang membuat kekuatannya bertambah berkali - kali lipat.. perlahan sisi lembut dan humoris Mathanadeva kembali meskipun sikap bijaksana dan tegas selalu melekat pada dirinya.
-------###-------
Jangan lupa like dan vote yaah.. !!!
**Meskipun peringkat Pendekar Pedang Naga langit masih hampir sama dengan jumlah pasukan yang selalu dibawa Mathanadeva saat menghadapi siluman ( ratusan prajurit) dan yang like juga tidak sampai 20% tapi saya memgucapkan terima kasih untuk yang selalu setia membaca novel ini dan tidak lupa memberika like dan vote dari setiap chapter yang sudah dibaca.
Mohon maaf jika ada keterlambatan update.. karena proses review yang sedikit lebih lama..
Akhir kata.. semoga kita semua selalu diberi kesehatan**..
__ADS_1