
Galuh terbangun dari tidurnya. Badannya, masih sedikit merasakan sakit. Ia kemudian segera duduk dan merenungkan apa yang sudah ia tekad kan. Kemarin, ia merasa sangat emosional karena perlakuan anak kepala desa itu. Tapi kini ia merasa apa yang dilakukannya terlalu berlebihan. Walaupun semuanya sudah terlanjur juga.
"Sudah bangun rupanya. Bagaimana kondisinya, sudah baikan bukan?" Tanya pria yang datang entah darimana .
"Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Tapi , kenapa ya saat sudah menerima kekuatan darimu aku jadi tidak tega untuk balas dendam?" Tanya Galuh yang sebenarnya terkejut dengan kehadirannya.
"Itu urusanmu. Lagipula kamu sudah setuju' dengan syarat yang telah kuberikan. Apapun itu, aku cuma menuntut perjanjian yang telah kita buat sebelumnya," sambil berkata, pria itu terdengar sangat kecewa dengan apa yang barusan diucap oleh Galuh.
"Aku tahu itu. Aku akan menepati janjiku," jawab Galuh.
"Sekarang, ada baiknya kita melatih kekuatan yang telah ku berikan kepadamu agar kamu bisa menggunakannya semaksimal mungkin," pria itu segera mengajak Galuh keluar rumah.
__ADS_1
***
Nyi Arum Sari segera menyerang Dewi Ratih dan juga Erlangga setelah memberi aba-aba. Dengan mata tertutup keduanya berusaha menghindari serangan yang dilancarkan oleh guru mereka itu. Sebenarnya mereka berdua sangat tidak nyaman saat harus bertarung dengan mata tertutup, tapi mereka tidak bisa menolak gurunya.
Dengan pedang kayu di tangan masing-masing, tetap saja terasa sangat sulit. Beberapa kali , mereka bahkan hampir menyerang satu sama lain. Kalau tidak biasa memang sangat susah , tapi mereka tetap berusaha menjalani latihan dengan baik.
"Kalian berdua sangat payah. Padahal sudah ku beri senjata tetap saja tidak bisa melawanku," nyi Arum Sari sambil terus menyerang ia berkata begitu.
"Kalau begini, bagaimana kalian bisa menghadapi lawan yang tidak bisa kalian lihat?" Katanya lagi.
***
__ADS_1
Adipati Kencana Wulan melihat para prajurit sedang berlatih dengan di dampingi oleh lima pendekar yang disewanya. Melihat kondisi dan juga senjata yang digunakan, Adipati itu tampak yakin bisa menenangkan pertarungan dengan mudah.
Dendam yang dibawa sejak lama itu akan segera berakhir. Sejak dirinya kalah dalam duel memperebutkan tahta kerajaan, ia menaruh harapan akan menang suatu saat nanti. Selama bertahun-tahun, ia berusaha membangun citra yang bagus agar dirinya tidak dicurigai oleh siapapun, termasuk raja. Tapi sebentar lagi , semua akan terbalaskan. Ambisinya akan menjadi kenyataan.
"Bagaimana menurut kalian? Apakah kita bisa memulai pertarungan dalam waktu dekat?" Tanya Adipati kepada para prajurit yang ia bayar itu.
"Kapanpun kita bisa melakukan pertempuran. Yang jelas jangan sampai ada kadipaten lain yang tahu. Takutnya nanti akan ada duri yang menghalangi kita menuju istana."
"Soal itu tenang saja. Aku sudah menutup mulut orang-orang yang akan menghalangi pertempuran terjadi . Tidak akan ada lagi duri dalam daging yang akan jadi penghalang," jawab Adipati dengan sangat yakin.
"Kalau begitu, besok pun kita bisa memulai serangan. Tapi sebaiknya kita kirim beberapa orang mata-mata untuk mengetahui bagaimana keadaan disana." Kata salah satu dari mereka.
__ADS_1
Adipati mengernyitkan dahi. Ia berpikir itu ada benarnya juga, tapi ia tidak tahu siapa orang yang benar-benar bisa dipercaya . Tak ada satupun dari para prajuritnya yang bisa ia percaya sepenuhnya.
"Soal itu, aku akan mengirimkan beberapa nanti. Hanya saja lebih baik kita beristirahat dulu. Tuan-tuan semua pasti lelah memandang para prajurit berlatih dari tadi," kata Adipati kemudian.