Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
23. Pengkhianat?


__ADS_3

Malam dengan bulan yang nampak bulat sempurna itu menemani pangeran yang sedang ingin berlama-lama menghabiskan waktunya di dalam dinginnya angin yang berhembus entah darimana datangnya itu sembari mengingat banyak peristiwa yang terjadi kepadanya selama beberapa bulan ini. Esok saat senja, ia akan mengakhiri apa yang telah dilakukannya selama ini. Dengan tekad yang kuat ia ingin semuanya berakhir.


Walaupun dia juga sebenarnya tidak terlalu berminat dengan mahkota yang indah di istana, tapi penderitaan rakyat selama ini harus berakhir . Kalau tidak maka negeri yang sangat ia cintai itu akan benar-benar hancur, sebuah mimpi buruk yang tidak boleh menjadi kenyataan.


Ia ingat beberapa hari setelah kepergiannya dari istana , saat itu ia sebenarnya tidak benar-benar siap untuk pergi. Selama hidupnya, dia habiskan di dalam istana. Sambil mengingat saat dimana kakak tercintanya di eksekusi, ia berusaha mengumpulkan kekuatan untuk melawan istana. Tak perlu waktu lama untuk mendapatkan pasukan, karena memang banyak warga yang bergabung karena merasa raja terlalu kejam. Selain para penduduk, beberapa ksatria dan juga para prajurit ikut masuk kedalam barisannya.


Hanya saja, entah mengapa ada rasa ragu dihatinya. Bukan karena penyerangan esok, tapi ia berkali-kali di datangi seseorang dalam mimpinya yang mengatakan bahwa ada pengkhianat di dalam pasukannya. Kata orang itu ia harus hati-hati. Walaupun begitu, ia tak pernah menyebutkan ciri-ciri pengkhianat itu. Oleh karena itu, ia tidak ingin terlalu percaya kepada siapapun. Bahkan terhadap orang yang dekat dengannya. Bukan tidak mungkin kalau orang itu adalah orang yang paling dekat dengannya.


Setiap kali bangun tidur, ia selalu memikirkan masalah siapa yang akan menjadi pengkhianat itu. Soalnya ada banyak sekali orang yang berada di sana. Semuanya terlihat tidak mencurigakan, memang sudah sekali untuk mempercayai mimpinya itu. Tapi ia pernah beberapa kali mimpi buruk dan kemudian mimpi itu menjadi kenyataan.


Soal strategi yang diajukan kemarin, rasanya lebih baik untuk mengubahnya dari rencana awal. Itu adalah langkah yang bagus, setidaknya pengkhianat itu akan terkecoh dengan rencananya. Dari situ ia akan menilai siapa saja yang akan mengikuti perintahnya. Dengan begitu ia bisa melihat siapa orang yang akan mengkhianatinya.


***

__ADS_1


"Kamu kenapa belum tidur? Hari sudah semakin larut," tanya sang pangeran saat melihat Laksminingrum mendekatinya.


"Aku tidak bisa tidur. Entah mengapa aku kepikiran terus dengan apa yang pangeran ucap tadi. Aku penasaran dengan perkataan pangeran yang menyebut pedangku adalah salah satu pedang legendaris itu," Laksminingrum berterus terang.


"Soal itu ya? nanti juga kamu akan tahu dengan sendirinya. Kalau boleh tahu, namamu siapa?"


"Laksminingrum. Kalau pangeran?"


"Namaku Aji Dharma. Aku ingin tahu alasanmu menjadi pengembara," tanya sang pangeran.


"Memangnya selama ini kamu tidak pernah bertemu dengan keluargamu?"


"Aku dari kecil sudah ikut dengan guruku. Ia hanya bilang kalau aku ditemukan di tepian sungai saat masih bayi. Dia yang memberikanku nama, dia juga yang telah membesarkanku selama ini. Dia juga yang mengajariku semua ilmu yang dia punya."

__ADS_1


"Kalau misalnya kamu sudah bertemu dengan keluargamu, apakah kamu akan berhenti berpetualang?"


"Soal itu aku juga tidak tahu. Lagipula aku tidak mendapatkan sebuah petunjuk yang bisa membuat ku lebih mudah dalam menggapai tujuanku ini."


"Lantas apakah tujuanmu yang sebenarnya bergabung dalam kelompok ini?"


"Hatiku tergerak saat melihat pemandangan negeri yang terlihat kacau. Aku hanya ingin menggunakan ilmu yang ku punya untuk membantu orang lain."


"Kamu pernah berperang sebelumnya?"


"Belum."


"Kalau misalnya nanti kamu gugur?"

__ADS_1


"Urusan nanti aku gugur atau tidak tergantung takdir Dewata yang agung. Lagipula aku tidak akan gugur dengan mudah."


__ADS_2